Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
THE END


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Zyrra sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk Joi. Dengan sesekali bersenandung, wanita cantik itu memotong sayuran dengan pisau ditangannya. Tangannya dengan lincah bergerak kesana kemari. Zyrra yang begitu fokus pada apa yang ia lakukan tak menyadari ada seseorang yang terus menatap dirinya. Orang itupun kemudian memeluk Zyrra dari belakang, membuat Zyrra sedikit tersentak.


"Mas, kamu udah pulang? Kok ga kasih tau aku dulu?"


"Gimana bisa jadi kejutan kalo aku kasih tau kamu? Lagian kan aku semalam udah bilang, aku bisa pulang cepat. Aku kangen banget sama kamu."


Cup.!


Sebuah kecupan mesra mendarat di pipi mulus Zyrra dengan tangan yang terus melingkar pada pinggang sang istri. Joi yang sudah selesai mengerjakan baju seragamnya melihat kedatangan Jovan langsung menghambur ke arahnya.


"Papah..!!"


"Hei jagoan Papah. Gimana, Joi ada nakal ga selama di rumah Mommy dan Daddy?"


"Engga dong, Pah."


"Pinter! Itu baru jagoan Papah."


Tanpa mereka sadari, keharmonisan yang terjadi saat ini dilihat oleh Bella. Mantan kekasih Jovan itu tersenyum miris, jauh di dalam lubuk hatinya memang masih tersimpan rasa untuk kakak iparnya itu. Tidaklah baginya, untuk melupakan semua rasa yang sudah terjalin selama enam tahun lamanya. Namun, ia pun terus berusaha untuk mengiklaskan semua yang sudah berlalu. Bella juga sadar, bila dirinyalah yang sudah lebih dulu menghianati hubungan keduanya Meskipun kejadian itu bukanlah atas dasar kesengajaan dan kemauannya sendiri.


Jonan yang semula berada di luar sebab tengah berbicara dengan seseorang ditelpon kini menyusul Bella ke dalam. Ia melihat istrinya yang terpaku menatap ke arah tiga orang yang berada di dapur. Perlahan, Jonan berjalan mendekat, ia meraih jemari sang istri dan menghampiri ketiganya di dapur.


"Pagi semua.." Sapa Jonan bersamaan dengan Bella


"Pagi,. Hei, ayo sarapan bareng, kebetulan aku udah buat sarapan lumayan banyak."

__ADS_1


"Wah, pas banget. Gue juga udah laper nih." Ucap Jonan dan langsung saja duduk di sisi Joi yang sudah lebih dulu berada di meja makan.


"Untung Lo udah pulang, gue pusing banget ngurusin perusahaan sendiri. Ada aja masalah yang datang selama Lo ga ada." Keluh Jonan setelah menelan makanan dia dalam mulutnya. Jonan memang tidak menyukai apapun pekerjaan yang ada di perusahaan. Tetapi dia adalah sosok yang cukup bertanggung jawab dan bisa diandalkan.


"Nah, sekarang Papah Jovan sudah pulang. Dan Joi juga sudah ketemu sama Papah, hari ini Joi pulang bareng Mommy sama Daddy ya?" Pinta Bella dengan sesekali melirik sang suami. Jonan tak berucap apapun, dia hanya fokus menikmati makanannya dan terus mengeluh pada Jovan.


"Tapi, Mom, Joi masih mau tidur sama Papah."


"Biarkan dia tidur di sini malam ini. Besok siang kami akan mengantarnya kerumah kalian." Kini Jovanlah yang ambil bicara, membuat Bella tak dapat berkata lagi.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Tanpa terasa usia pernikahan Jovan dan Zyrra sudah menginjak lima belas tahun. Putri kecil mereka kini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang amat cantik seperti sang ibu. Zea, memiliki kepribadian yang jauh berbanding terbalik dari kedua orang tuanya. Dia menjadi anak yang begitu manis dan ceria, hari-harinya diisi dengan kebahagiaan tak ternilai. Semua orang yang mengenal sosok Zea Azasya Argantara akan langsung menyukainya.


"Zeno..! Zino..! Zuno..!" Teriak Zyrra memanggil ketiga nama putranya yang masih berada di dalam kamar.


"Ia, Mah. Aku udah siap kok." Muncullah seorang pria tampan berusia 13 tahun, dia adalah adik kedua Zea, Zeno. Meskipun usianya masih tergolong muda, tapi Zeno kini telah duduk di bangku menengah pertama. Kecerdasan yang dia miliki melebihi dari saudara-saudaranya yang lain.



"Mah...! Lihat kaos kakiku ga? aku lupa naronya di mana?" Tanya pria kecil dengan keadaan yang masih berantakan. Dia adalah putra ketiga Zyrra, bernama Jovan, Zino. Zino memiliki sifat seperti omnya yang sembrono dan receh. Dia juga adalah sang pembuat rusuh diantara saudara saudarinya.



"Kan ada di dalam lemari kamu sayang, coba tanya sama Zuno deh."

__ADS_1


"No komen." Dan inilah si putra bungsu keluarga Argantara, Zuno. Sifatnya amat teramat dingin, dia juga pewaris sah gen kedua orang tuanya yang irit bicara. Jarak usia antara Zino dan Zuno hanya satu tahun kurang jadi, keduanya terlihat layaknya anak kembar.



"Pagi, Mah." Dan ini dia, putra sulung dalam keluarga Argantara, Joi Argantara. Wajahnya tampan, memiliki aura karismatik, dan juga pesona tersendiri layaknya seorang model seperti sang ibu.



"Kak Joi, tumben mampir. Ada angin apa nih?" Suara seorang gadis dari belakang membuat Joi memalingkan tubuhnya. Dia mendapati sang Adik tersayang yang sudah rapi dengan seragam SMA nya. Joi tersenyum ke arah Zea dan menyentil kening gadis cantik itu.



"Emang kenapa? Aku kan kangen sama Mamah. Hari ini aku mau culik Mamah dan bawa dia kabur."


"Enak aja. Ga-bo-leh!"


"Aduh, kalian ini. Udah pada gede juga masih aja berantem. Joi yuk sarapan bareng."


"Wah, udah pada kumpul aja. Joi, gimana kabar Mommy dan Daddy kamu? Mereka masih belum kembali dari Amsterdam?" Jovan yang baru saja turun langsung duduk di kursi dekat dengan istrinya. Zyrra menyendokkan sepiring nasi goreng buatannya untuk semua orang di meja.


"Mungkin sore ini, Pah. Gimana urusan Papah dengan perusahaan MT itu? Udah clear?"


"Udah. Mereka udah siap buat ganti rugi ke kita. Hanya tinggal beberapa hal kecilnya aja yang masih belum selesai."


Semuanya menikmati sarapan pagi sambil bercanda gurau dan sesekali tertawa ria. Jovan begitu menikmati pemandangan seperti ini setiap paginya. Dia berharap, hal seindah ini akan selalu dia dapati seumur hidupnya.

__ADS_1


TAMAT....


__ADS_2