
Sementara di gedung tempat Zyrra dan Jovan mengalami pengeroyokan dari para preman, Jonan tiba dengan beberapa anak buahnya. Baku hantam dan sling tembak pun terjadi di sana.
Namun, keberadaan Jovan dan Zyrra masih belum dapat di temukan oleh orang-orang Jonan. Mereka hanya menemukan jejak darah yang diduga berasal dari salah satu diantara kedua orang yang tengah mereka cari saat ini.
Jonan juga memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pencarian di sekitar hutan yang berada di belakang gedung pembangunan.
"Maaf Tuan, kami masih belum bisa menemukan Tuan Jovan dan Nyonya Zyrra."
"Dalam kondisi salah satu di antara mereka yang terluka saat ini, pasti tidak memungkinkan keduanya untuk berjalan jauh. Tetap teruskan pencarian dan juga tanyakan pada orang-orang di sekitar sini. Mungkin mereka pernah bertemu dengan Jovan dan Zyrra."
"Baik Tuan."
Orang-orang suruhan Jonan kembali melakukan pencarian. Setelah menghabisi para preman yang melakukan penyerangan terhadap Kakak danΒ Kakak Iparnya, Jonan pun ikut membantu dalam mencari kedua orang itu.
Zyrra perlahan membuka matanya, ia merasakan suhu tubuh Jovan semakin meninggi. Wanita itu pun kian frustasi, ia bingung harus bagaimana. Ponsel miliknya hilang dan ponsel milik Jovan tertinggal di dalam mobil.
Zyrra bangkit dari sisi Jovan, ia mulai merasakan nyeri pada sekujur tubuhnya. Perlahan wanita itu melangkah menuju luar pondok, hujan di luar telah reda dan rupanya hari pun sudah mulai menggelap.
'Apa yang harus aku lakukan? Kalau kami terus di sini, kondisi Jovan akan makin memburuk. Tapi kalau aku pergi mencari bantuan, dia tidak ada yang menjaga. Ya Allah, bantu kami...' lirih Zyrra dalam hati.
Dan saat ia ingin kembali menghampiri Jovan, terdengar suara dari kejauhan tengah memanggil nama mereka.
'Apakah itu orang-orang dari Jonan? Tapi bagaimana bila ternyata bukan?'
Zyrra kemudian mengumpulkan beberapa balok kayu untuk berjaga-jaga. Takutnya yang sedang mencari mereka saat ini adalah para preman yang menyerang mereka tadi.
"Hei lihat di sana ada sebuah pondok! Mungkinkah Tuan dan Nyonya berada di sana?" Tujuk seorang pria pada temannya.
"Ayo kita periksa."
Mereka kemudian menuju pondok kecil tersebut, salah seorang dari orang-orang itu juga membuka pintu pondok dan melihat ke dalam. Namun, baru saja dia memasuki pondok, tiba-tiba dia mendapatkan serangan dari seseorang.
"Nyonya Zyrra, ini kami anak buah Tuan Jonan!" Ucap salah seorang dari mereka.
Zyrra kemudian menghentikan serangannya. Dia melepaskan balok dari tangannya dengan nafas terengah, wanita itu menyeka keringat di keningnya.
__ADS_1
'Hampir saja aku mati, Nyonya Zyrra memanglah wanita yang tangguh. Walau tubuhnya sudah penuh dengan memar, tapi dia tetap mampu untuk melakukan perlawanan.' Batin pria yang mendapat serangan dari Zyrra barusan.
"Lepaskan bajumu!"
"Maaf Nyonya?"
"Ia, lepaskan baju yang kamu kenakan dan berikan padaku."
Pria itu baru menyadari penampilan Zyrra yang tidak mengenakan baju atasan. Ia segera melepas baju yang di kenakannya dan memberikan itu pada Zyrra.
"Jovan ada di dalam, kelihatannya dia demam tinggi. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit."
Mendengar penuturan Zyrra, orang-orang suruhan Jonan itu lalu bergegas membawa Jovan dan Zyrra menuju mobil. Setelah tiba di sana Jonan dan anak buahnya membawa Zyrra beserta Jovan ke rumah sakit.
Jonan melihat tubuh Zyrra yang lebam, dapat ia bayangkan bagaimana perjuangan wanita itu dalam membantu Jovan saat melawan orang-orang bertubuh kekar itu.
Setibanya di rumah sakit, keduanya segera di larikan ke ruang intensif. Jovan mendapatkan jahitan pada punggungnya yang terkena sabetan golok.
Sedangkan Zyrra, walau hanya mendapatkan luka luar, tapi dia juga mengalami dehidrasi dan memerlukan infus untuk memulihkan kondisinya saat ini.
"Maaf Tuan, saya gagal dalam menggali informasi mengenai siapa yang berada di balik kejadian kali ini."
Jonan menghembuskan nafasnya kasar, kemudian Dokter keluar dari ruangan Jonan dan mengatakan bila pria itu telah sadar saat ini.
Jonan bergegas menemui sang Kakak, Jovan telah duduk tegak di atas brankar pesakitannya. Pria itu juga memandang ke arah Jonan dan seakan mencari-cari seseorang di balik tubuh kekar sang Adik.
Jonan yang mengetahui arti dari tatapan saudaranya itu lalu tersenyum sembari melangkah mendekat pada Jovan.
"Dia ada di ruangan sebelah, kata Dokter dia perlu istirahat dan mendapatkan infus untuk memulihkan kondisinya."
"Apa dia baik-baiksaja?"
"Tenang aja, bini lo itu orang yang kuat. Jadi luka memar dikit doang mah, ga bakal bikin dia mampus."
Jovan memberikan tatapan mematikan pada saudaranya itu dan membuat Jonan langsung bungkam seketika.
__ADS_1
"Antarkan aku ke sana, aku mau lihat kondisi dia."
Jonan mengangguk dan membawa Jovan menuju ruangan Zyrra di rawat. Wanita cantik yang berada dalam ruangan tersebut kini tengah tertidur pulas.
Jovan melihat ke arah baju yang di kenangan oleh Zyrra. Seingat Jovan, saat mereka masih di gedung pembangunan tadi, Zyrra telah melepaskan baju yang ia kenakan untuk membalut luka pada punggungnya. 'Lalu dari mana wanita itu mendapatkan kemeja itu?' Tanya Jovan dalam hati.
Tak lama mata cantik wanita itu pun terbuka, Jovan kemudian menghampiri Zyrra dan menanyakan pertanyaan konyol dan membuat mulut kedua orang dalam ruangan itu ternganga.
"Dari mana kemeja yang jamu pakai ini berasal?"
'Hey Bro, baru kali ini gue dengar orang yang lihat pasangannya terbaring sakit, bukannya nanyain keadaannya, lokasi malah bahas tentang baju yang dia pake? Ya, gue tau sih lo ga cinta sama bini lo ini, tapi kan paling engga, lo bisa aja basa basi gitu sama dia.' Pikir Jonan.
Ia tidak habis pikir pada saudaranya itu, bukannya menanyakan keadaan sang istri, Jovan justru menanyakan tentang sesuatu yang sama sekali tidak penting.
Zyrra menghembuskan nafasnya terlebih dahulu kemudian mendudukkan dirinya.
"Dari orang suruhan Jonan yang bawa kita ke rumah sakit."
"Ganti!"
Zyrra makin tidak mengerti akan perintah yang di berikan oleh Jovan padanya. Bagaimana mungkin pria di hadapannya ini malah menyuruh dia untuk melepaskan pakaiannya di hadapan mereka.
"Kau gila?"
"Jo, carikan baju ganti untuknya! Dan kamu, lepas baju itu sekarang atau aku yang akan melepasnya sendiri!"
Jonan kini mengerti mengapa Jovan menanyakan asal baju itu, rupanya sang Kakak saat ini tengah terbakar api cemburu. Jadi agar terhindar dari semprotan Jovan, Jonan bergegas keluar dan mencari baju ganti untuk Zyrra.
Zyrra masih menatap jengkel pada Jovan, tapi dia akhirnya menuruti ucapan pria aneh itu dan melepaskan kemeja yang dikenakannya saat ini.
BERSAMBUNG...
***Hai readers...
Thank's untuk like dan dukungannya ya...
__ADS_1
I love you all πππ***