Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
MULAI MERACIK PARFUM


__ADS_3

"Gimana menurut kamu cara ngomong ke Kakek tentang hubungan antara Jonan dan Bella?" Tanya Zyrra di dalam mobil, saat mereka telah keluar dari rumah sakit


"Aku juga belum memikirkan hal ini. Dan aku juga masih ragu tentang hubungan antara mereka."


"Maksudnya?"


"Ya, kamu kan tau hubungan antara aku dan Bella dulu. Bukannya aku masih ada rasa sama dia, aku cuman takut Jonan dijadikan tempat pelariannya aja."


Zyrra mengangguk mengerti akan maksud pembicaraan Jovan. Meskipun begitu, hatinya tetap terasa ada sesuatu yang seperti mengganjal.


Keduanya tiba di kediaman Argantara, Jovan membawa masuk Zyrra ke kamar mereka terlebih dahulu sebelum pergi ke perusahaan.


"Istirahatlah, jangan terlalu banyak beraktivitas. Bila perlu sesuatu kamu panggil saja pelayan untuk membantumu." Zyrra mengangguk patuh, walau dalam hatinya, ia merasa ucapan Jovan itu terlalu berlebihan.


Sepeninggalan Jovan, Zyrra hanya duduk dan memandangi beberapa majalah di kamar. Hingga rasa bosan perlahan mulai merayapi pikiran wanita itu. Ia kemudian teringat akan taruhan nya dengan Jovan tempo hari. Zyrra kemudian bangkit dari ranjang dan meraih ponsel yang masih berada di dalam tas. Perlahan ia membuka sebuah aplikasi untuk membeli beberapa tanaman, juga bahan-bahan lainnya yang akan ia gunakan sebagai bahan parfum.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Di sebuah hotel mewah, seorang pria tampan yang membawa buket bunga besar. Rencananya hari ini, ia akan menyatakan perasaannya kepada wanita yang telah berhasil menempati seluruh hati dan pikirannya. Ia menuju tempat dimana mereka telah sepakati untuk bertemu.


"Dengan Tuan Arya?" Tanya pelayan hotel tersebut yang melihat Arya di pintu masuk.


"Ya benar."


"Mari ikut saya,"

__ADS_1


Arya dengan senyum lebarnya mengikuti arah pelayan tersebut. Dan tibalah ia di sebuah meja yang berisikan seorang pria lain. Arya sempat bingung dan mengira pelayan itu telah salah mengenali dirinya. Namun, pria yang duduk di meja tadi segera menjelaskan dan membuat Arya terkejut bukan main.


"Dia tidak salah. Orang yang membuat janji temu denganmu malam itu adalah aku."


"Maksud Tuan Jovan? Bagaimana mungkin ponsel Zyrra bisa di tangan Anda. Dan lagi, tidaklah sopan bagi Anda membuka pesan di ponsel orang lain. Apalagi sampai membalasnya."


Jovan tersenyum miring, dengan sabar Jovan mempersilahkan Arya untuk duduk.


"Silahkan duduk. Ada banyak hal yang mesti kita bahas." Dengan malas Arya menuruti ucapan Jovan. Ia kemudian duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan pria itu.


"Aku dan Zyrra bukanlah orang lain. Dan diantara kami, tidak ada yang namanya privasi. Karena kami berdua, memiliki prinsip kepercayaan diantara pasangan."


'Pasangan? Apa maksudnya...?'


"Zyrra adalah istriku. Dan sebagai suaminya, aku memperingatkanmu untuk tidak lagi mengganggu istriku."


Usai berkata demikian, Jovan pun meninggalkan restoran itu. Sedangkan Arya, ia masih terpaku di tempatnya. Masih sulit untuk ia percayai, bila wanita yang ia impikan ternyata telah bersuami. Bahkan pria yang menjadi suaminya, malah memiliki keunggulan yang jauh di atas dirinya. Arya menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodohnya tidak menyadari semua penolakan Zyrra selama ini.


'Kenapa kamu ga jujur aja sih, Ra? Seenggaknya kan aku ga berharap lebih ke kamu. Atau kamu emang sengaja mau mempermainkan perasaanku?'


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Zyrra keluar dari kamar dan meminta kepala pelayan untuk menyiapkan sebuah ruangan kosong untuknya. Semua barang yang ia pesan melalui online telah tersusun rapi di dalamnya. Zyrra mulai meracik satu per satu setiap bahan yang akan ia gunakan untuk membuat parfum.


"Wangi ini masih belum pas. Apa aku melupakan yang lain ya?" Gumam Zyrra pada dirinya sendiri sembari terus mencoba mengingat kekurangan pada bahan parfumnya. Zyrra duduk dan berpikir, ia mulai menelisik satu per satu bahan yang barusan ia gunakan.

__ADS_1


"Ah, ternyata benar. Aku kekurangan satu bahan penting." Zyrra keluar dari ruangan tersebut lalu mengambil ponselnya di kamar. Ia kembali berselancar ke dunia maya, untuk mencari keberadaan bahan yang ia butuhkan.


"Rupanya di toko ini juga menjual bahan yang sama. Untunglah, aku jadi ga usah jauh-jauh buat nyarinya."


Ketika Zyrra ingin meminta Pak Edi untuk mengantarnya menuju toko bahan yang ia perlukan, Jovan rupanya telah lebih dulu tiba bersama seorang wanita keturunan Cina.


'Nona Wen? Kenapa Jovan bawa dia pulang?' Tanya Zyrra dalam hati. Sekelebat perasaan tidak nyaman mulai merayapi hatinya.


"Sayang kamu mau kemana?" Tanya Jovan yang melihat Zyrra berdiri di depan pintu.


"Aku mau keluar sebentar."Jawab Zyrra cuek, tapi matanya terus menatap ke arah Wen Xie Luo. Jovan yang seakan tahu arti dari tatapan itu pun menjelaskan maksud kedatangan Nona Wen di kediaman mereka.


"Nona Wen datang hari ini, buat ketemu sama Kakek. Soalnya kerjasama antara perusahaan kita dan perusahaan orang tuanya bakal kerja sama. Jadi, kami akan merundingakannya dulu, dan aku perlu persetujuan dari Kakek untuk keputusan kerja sama ini."


Meskipun sudah Jovan jelaskan maksud dan tujuannya membawa wanita asing itu pulang, tapi Zyrra tetap saja tidak suka akan kehadiran Wen Xie Luo di sana.


"Oh," Nada suara Zyrra yang terdengar masih acuh membuat Jovan serba salah. Ia tidak ingin Zyrra keluar sendirian dan bertemu dengan pria asing di luar sana. Tapi ia juga tidak dapat meninggalkan Wen Xie Luo hanya bersama Kakeknya.


"Gini aja, kamu keluarnya nanti bareng aku. Tapi kamu tunggu aku nyelesain urusanku sama Kakek dulu. Gimana?"


Zyrra sebenarnya malas untuk mendengarkan permintaan Jovan. Tapi, ia juga tidak ingin memberikan kesempatan untuk wanita keturunan Cina ini, berdekatan dengan suaminya.


"Oke," jawab Zyrra dan kembali masuk ke dalam rumah. Tanpa basa-basi lagi, ia menuju ruangan tempatnya meracik bahan parfum. Jovan yang belum mengetahui tentang ruangan itu, agak sedikit bingung mengapa istrinya masuk ke dalam sana. Tetapi karena urusannya yang harus segera diselesaikan, maka ia membawa Wen Xie Luo menuju Ruang Baca.


BERSAMBUNG. . .

__ADS_1


__ADS_2