
"Udah kenyang Tuan putri?" Senyum manis mengembang di wajah Zyrra diiringi dengan anggukan singkat. "Kalo gitu sekarang kita ke kantor cabang dan perkenalin kamu ke pegawai kita."
Keduanya bangkit dari tempat duduk dan melangkah bersama. Belum lagi Jovan dan Zyrra tiba di depan pintu, beberapa orang dengan senjata lengkap menerobos restoran itu. Mereka terlihat sedang mencari seseorang, hingga salah satu di antara mereka melihat Zyrra dan berseru "lui รจ lรฌ!" barulah mereka mengerubungi Zyrra. Jovan yang melihat pria-pria dengan senjata api di tangan mereka tengah mengarah ke istrinya langsung membawa Zyrra kebelakang tubuhnya. Begitu pula dengan Robin, ia langsung menghubungi orang-orangnya untuk segera datang membantu. Beruntungnya, tadi Haikal telah siap akan hal semacam ini ketika melihat Dearn saat pertama kali masuk restoran. Jadi, orang-orang mereka telah bersiap berada di luar menunggu perintah.
"Away from that lady, before we shoot you!"
"Aku bakal ngalihin perhatian mereka. Kamu cepat cari jalan pergi dari sini." Bisik Jovan pada istrinya, Zyrra.
"Kamu gila? Mana mungkin aku bisa ninggalin kamu sendirian ngadepin orang-orang ini?"
"Nyawa kamu dan bayi kita jauh lebih penting sekarang. Awas!" Saat Jovan dan Zyrra tengah berdebat, orang-orang tadi langsung menyerang Jovan dan ingin menarik Zyrra. Perkelahian pun tidak terelakkan, bahkan orang-orang Robin yang telah berada di tempat tersebut sampai kewalahan. Suara deru tembakan yang saling sahut menyahut menggema di seluruh jalanan kota.
__ADS_1
Jovan tidak tau siapa yang sudah menyerang dan membantunya dari penyerangan kali ini. Yang dia tau hanyalah sekuat tenaga untuk melindungi Zyrra dan calon bayi mereka. Sayangnya, para penjahat yang menyerang mereka ini seakan tak ada habisnya. Membuat Jovan terpaksa membiarkan Zyrra ikut ambil bagian dalam perlawanan hingga, sesuatu hal buruk terjadi. Lokasi tempat mereka berada saat ini adalah tepian kota. Dimana banyak tebing-tebing curam di setiap tempatnya. Kaki Zyrra yang berpijak di tepian tergelincir, dan membuat tubuhnya oleng ke arah tebing.
Jovan yang tidak sempat menangkap tangan Zyrra hanya bisa melihat istrinya itu berguling di atas bebatuan terjal.
"Zyrra!!!" Jovan ingin ikut melompat ke dalam tebing itu sebelum peluru panas menembus punggung dan kakinya. Dengan darah yang bercucuran segar, Jovan tetap mencoba mendekati tebing itu hingga perlahan kesadarannya pun mulai menghilang.
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Entah dosa apa yang sudah ku lakukan di usia mudaku dulu, hingga Tuhan tidak mengizinkanku untuk hidup tenang di usia senjaku ini." Gumam Tuan Bima, seraya memijit pelipisnya. Satu demi satu masalah tak kunjung henti hinggap dalam kehidupannya. Dulu, dia harus kehilangan putra semata wayangnya akibat persaingan bisnis. Kini, nyawa cucu dan calon cicitnya pun sudah hampir di ujung tanduk. Bahkan, akar dari masalah ini saja masih belum dapat Tuan Bima temukan.
Setelah hampir Seharian berada di dalam pesawat, akhirnya Tuan Bima dan orang-orang kepercayaannya tiba di kota Roma. Beliau bergegas menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Jovan. Mata tua Tuan Bima, di penuhi dengan genangan air. Setetes butiran bening pun meluncur begitu saja di atas pipi keriputnya. Dengan nafas sesak, ia melihat cucu tertuanya berbaring di atas bed pesakitan dengan berbagai kabel yang tertancap dan alat bantu pernafasan bertengger di mulut Jovan.
__ADS_1
"Maaf Tuan, ini adalah rekaman CCTV restoran tempat Tuan dan Nyonya Zyrra makan sebelum kejadian penyerangan itu terjadi. Sayangnya, kami hanya bisa menemukan sedikit potongan gambar, karena yang lain sudah di hapus oleh seseorang."
Tuan Bima meraih iPad dari tangan orang yang ia suruh untuk menemukan petunjuk tentang duduk masalah ini. Dalam rekaman itu, Jovan dan Zyrra nampak begitu bahagia menikmati makan siang mereka. Namun seperti yang orang tadi katakan, bila rekaman itu telah di hapus sebagian. Jadi, tidak ada kelanjutan dari rekaman barusan.
"Cari peretas terbaik di negara ini. Aku mau sebelum tengah hari besok, sudah ada petunjuk lain tentang keberadaan cucu menantuku, Zyrra."
"Baik Tuan."
Setelah orang suruhan Tuan Bima pergi, ruangan tempat Jovan dirawat kembali sunyi. Hanya ada suara alat detektor yang terdengar dalam keheningan itu. Langkah Tuan Bima berhenti di depan pintu, ia masih ragu untuk mendekat ke arah cucu tersayangnya yang terbaring koma.
BERSAMBUNG....
__ADS_1