Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
ZYRRA KABUR


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal Zyrra untuk melakukan pemeriksaan kehamilannya. Memang Robin selalu mengawasi kesehatan janin Zyrra. Bukan hanya karena itu adalah cucu pertamanya, tetapi juga sebagai penerus keturunan Azasya yang selanjutnya.


"Wow, il bambino è molto sano. È solo che il liquido amniotico della signorina Zyrra sembra un po' problematico. Suggerisco alla signorina Zyrra di non fare attività troppo faticose per un po'." Ucap Dokter wanita itu ketika selesai memeriksa kondisi janin dalam perut Zyrra.


(Wah bayinya sangat sehat. Hanya saja, air ketuban Nona Zyrra sepertinya sedikit bermasalah. Saya menyarankan, agar Nona Zyrra tidak terlalu beraktifitas yang berat untuk sementara waktu.)


"Com'è possibile che mia figlia possa svolgere attività faticose, dottore? Mentre sai anche che Zyrra non può camminare." Tanya Robin, sambil mencemooh ucapan Dokter tadi. Robin merasa, Dokter itu tengah meremehkan dirinya dalam merawat Zyrra.


(Bagaimana mungkin putriku dapat melakukan aktifitas yang berat Dokter? Sedangkan kau pun tahu bila Zyrra tidak dapat berjalan.)


"Forse questo era dovuto anche a pressioni ambientali o perché la signorina Zyrra spesso ci ripensava." Ucap sang Dokter kembali menjelaskan. Ia harus benar-benar menyusun ucapannya agar tidak menyinggung laki-laki di hadapannya ini. Salah berucap sedikit saja, ia akan kehilangan pekerjaan atau bahkan juga nyawanya.


(Mungkin ini juga disebabkan oleh tekanan lingkungan atau juga karena Nona Zyrra sering berpikir yang berlebihan.)


"Padre, posso parlare a tu per tu con questo dottore? Ci sono alcune cose che voglio chiedere." Robin menatap wajah Zyrra dan Dokter secara bergantian. Ada perasaan yang mengganjal saat Robin mendengar permintaan putrinya. Akan tetapi, Robin tetap menuruti keinginan Zyrra. Ia meninggalkan Zyrra bersama Dokter kandungan itu berdua.


(Ayah, bisakah aku berbicara empat mata dengan Dokter ini? Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan.)

__ADS_1


Setelah Robin pergi, Zyrra meminta sang Dokter untuk kembali memeriksa janinnya. Dan ketika Dokter itu mendekat, Zyrra memukul tengkuk bagian belakang Dokter itu sekuat tenaga. Barulah Zyrra menukar pakaian mereka dan membaringkan Dokter itu di atas ranjangnya.


Zyrra yang berpura-pura menjadi sang Dokter pun mengatakan pada para penjaga, bila dirinya telah tertidur setelah meminum vitamin yang ia berikan. Untungnya para penjaga itu percaya begitu saja dengan apa yang dia ucapkan.


Tetapi, saat Zyrra berada di dalam helikopter, sang pilot yang ternyata orang kepercayaan Robin mengenali bila yang tengah duduk dibelakangnya bukanlah Dokter yang ia bawa tadi. Ketika pilot itu ingin membuka masker yang Zyrra kenakan, sebuah senjata api lebih dulu menempel di pipinya.


"Tenangkan helikopter ini segera, sebelum pistol ini meledakkan isi kepalamu."


Merasa nyawanya terancam pilot itupun menerbangkan helikopternya. Semua berjalan sempurna seperti yang Zyrra harapkan. Helikopter itu membawa Zyrra menuju rumah sakit tengah kota. Setelah melakukan pendaratan yang sempurna, Zyrra kembali melakukan serangan yang membuat si pilot itu pingsan.


"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya seorang ibu-ibu yang melihat wajah pucat Zyrra. Ibu-ibu itu membawa beberapa bahan belanjaan di tangannya. Kemungkinan tidak baru saja selesai membeli kebutuhan sehari-harinya.


''Wajahmu terlihat begitu pucat perlukah aku memanggilkan ambulan?"


"Tidak, terimakasih. Aku baik-baik saja, hanya perlu beristirahat sebentar agar lebih baik." Tolak Zyrra lembut.


"Kalau begitu bagaimana jika kau au beristirahat di rumahku saja. Tempatnya tidak jauh dari sini."

__ADS_1


Zyrra setuju untuk mengikuti ibu itu pergi ke rumahnya, di sana ia disuguhkan segelas teh hangat. Sang ibu itu melihat penampilan Zyrra yang terlihat sederhana namun penuh dengan kemewahan. Zyrra yang mengenakan pakaian merk terkenal, dapat dengan mudah di ketahui bilas ia adalah putri dari keluarga kaya.


Itulah mengapa Ibu itu membawanya kembali pulang, ia takut akan ada orang jahat yang menggangu Zyrra di sana. Belum lagi Zyrra kini sedang hamil besar dan terlihat memerlukan bantuan.


"Di mana rumahmu Nona?" Tanya Ibu itu sembari duduk di kursi sebelah Zyrra. Zyrra bingung harus menjawab apa, ia juga tidak tau harus tinggal di mana. Sebab, satu-satunya orang yang ia kenal hanyalah Robin dan para perawat yang menjaganya saja. Jadi Zyrra hanya menggeleng lemah sebagai jawaban.


"Apakah kau memiliki masalah dengan suamiku? Atau keluargamu?" Zyrra kembali menggeleng lemah.


"Lalu selama ini kau tinggal di mana?" Tanya ibu itu penuh selidik. Hati ibu itu mulai curiga, jangan-jangan wanita yang dia tolong adalah seorang penjahat. Meskipun ia merasa iba, akan tetapi tetap saja dia harus berhati-hati.


"Saya mengalami amnesia karena kecelakaan mobil. Saya tidak tau siapa diri saya, dan semua yang terjadi setelah sadar dari koma. Selama ini saya tinggal di pulau terpencil, bersama seorang laki-laki yang mengaku sebagai Ayah saya."


"Apakah dia orang jahat?" Tanya ibu itu dengan ekspresi serius.


"Saya tidak tau. Selama saya di sana, mereka sangat baik pada saya." Jawaban-jawaban yang diberikan oleh Zyrra, membuat ibu itu makin bingung dan juga penasaran. Jadi, dia kembali bertanya dan Zyrra terus menjawab sambil bercerita tentang keadaan pulau itu.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2