Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
MANTAN CALON SUAMI


__ADS_3

Tok...tok..


Kini pintu ruangan Jovan kembali diketuk. Sepasang pria dan wanita masuk ke dalam ruangan itu. Untungnya, Zyrra sudah berpindah dari atas pangkuan Jovan ke atas sofa disisinya.


"Masuk."


Pitto dan kekasihnya terpaku di depan pintu ruangan Jovan saat melihat Zyrra yang sudah lebih dulu berada di sana.


'Jadi, dia benar-benar bekerja di perusahaan ini? Lalu, apa yang dia lakukan di ruangan CEO?' Tanya kekasih Pitto dalam hatinya.


Jovan menyadari tatapan tak biasa dari dua pasang insan itu pada istrinya. Ia perlahan memutar pandangan dan menatap Zyrra. Tapi wanita itu terlihat biasa saja, dengan senyum ramah di wajahnya. Jovan berdehem, untuk menyadarkan kedua orang itu dari lamunannya.


"Ekhem..!" Mendengar deheman Jovan, Pitto seakan di tarik paksa dari lamunan. Ia pun berjalan mendekat ke arah sang pemilik perusahaan tempatnya berada kini.


"Maaf Tuan Jovan, kami datang kemari untuk membahas tentang parfum tempo lalu."


"Kebetulan sekali Tuan Pitto. Saya pun ingin membahas hal tersebut. Sebelumnya saya ingin meminta maaf, karena perusahaan kami masih belum dapat bekerja sama dengan pabrik parfum Anda."


Pitto dan kekasihnya saling bertatapan,lalu dengan gugup mereka berjalan mendekat dan pura-pura tenang. Ucapan Jovan itu tentu saja membuat Pitto dan kekasihnya menjadi gelagapan. Bagaimana tidak, kerjasama ini adalah hal yang mereka tunggu-tunggu sedari lama. Bahkan dengan percaya dirinya, Pitto telah mengatakan pada teman-temannya, bila ia akan menjalin kerja sama dengan perusahaan terbesar di Indonesia ini. Namun, Jovan kini justru membuyarkan kerja sama ini begitu saja.


"Ta..tapi kenapa Tuan? Apakah Anda masih kurang puas akan aroma yang kami tawarkan? Bila ia, saya akan mencoba untuk memberikan contoh lain."

__ADS_1


"Bukan. Saya hanya telah mendapatkan orang lain yang kini telah resmi menjadi


pemasok resmi untuk hotel kami."


"Tapi siapa?" Tanya kekasih Pitto penasaran. Namun, belum jua Jovan menjawab, pertanyaan wanita itu, Pitto sudah lebih dulu menghentikannya.


"Baiklah bila begitu. Tapi saya harap Tuan Jovan dapat berkenan hadir ke acara pertunangan kami minggu depan." Pitto menyodorkan sebuah undangan ke atas meja. Berharap dengan hal itu, Zyrra akan kembali merasa hancur.


[Pov author: Kya... ga tau aja mereka, kalo Zyrra sekarang sudah menjadi Nyonya Argantara. ๐Ÿ˜‚ Siapa juga yang bakal perduli sama tikus tanah kaya mereka๐Ÿ˜›๐Ÿ˜’]


Zyrra melihat nama yang tertera di atas undangan itu. Motif dan bentuk undangan memang nampak mewah, namun bukan itu yang membuat Zyrra tertarik. Hal yang membuat Zyrra sampai memperhatikan undangan itu adalah, nama si wanita. Setelah hampir setahun ia mengenali wanita perebut calon suaminya, baru kali ini Zyrra mengetahui nama dari wanita itu.


"Tentu Tuan Pitto. Selamat atas pertunangannya. Saya dan istri saya nanti akan hadir dalam pesta Anda."


"Kalau begitu, kami permisi dulu. Selamat sore Tuan Jovan."


Sepeninggalan kedua orang tadi, Jovan mulai mencecer Zyrra dengan berbagai pertanyaan yang membuat Zyrra akhirnya mulai menceritakan semuanya.


"Kamu kenal sama dua orang tadi, benerkan?" Hening. Zyrra hanya menatap datar pada Jovan. Tapi, lagi-lagi Jovan kembali bertanya.


"Aku bisa lihat jawaban ia dari tingkah laku dua orang tadi pas liat kamu."

__ADS_1


Kini Zyrra mulai mengalihkan pandangan matanya. Hal itu membuat Jovan kian yakin, bila ada hal yang belum ia ketahui tentang masa lalu istrinya ini.


"Yang, aku mau kamu jujur. Aku mau, kamu juga membagikan masa lalu kamu ke aku. Aku juga berhak tau tentang itu semua, sayang."


Zyrra menarik nafasnya dalam sebelum mulai angkat bicara. Biar bagaimanapun yang dikatakan oleh Jovan ada benarnya. Sebagai seorang suami, Jovan berhak tau tentang masa lalunya.


"Dia itu mantan calon suamiku. Dan perempuan yang bersama dia tadi, adalah orang ketiga dalam hubungan kami." Zyrra menghentikan ceritanya sejenak, ia mencoba untuk mengatur nafas. Meskipun kejadian itu telah berlalu, dan Zyrra sendiri juga telah mencoba untuk melupakan semuanya, tapi rasa sakit akibat kecewa masih belum sembuh. Hingga kini ia harus kembali membuka luka lama yang membuat hatinya kembali berdarah.


"Aku tumbuh besar di panti asuhan. Aku sudah terbiasa bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan. Dan sejak aku duduk di bangku SMA, aku udah mampu mendirikan pabrik milikku sendiri hingga aku mengenal Pitto. Pria baik yang amat memperdulikanku. Aku percayakan semua urusan pabrik sama dia, karena kami akan menikah. Tapi ternyata, dia lebih memilih wanita itu. Butuh waktu lama bagiku, untuk kembali bangkit seperti sekarang. Dan akhirnya aku ketemu sama kamu. Seorang CEO konyol yang entah gimana bikin aku hamil sekarang."


Jovan terdiam. Kini ia tau mengapa Zyrra begitu berhati-hati dalam mempercayainya. Dan semua sikap dingin yang Zyrra tunjukkan itu, ternyata adalah sebuah bentuk perlindungan diri dari trauma masa lalu.


"Maaf. Semestinya aku ga maksa kamu buat ceritain semuanya." Ucap Jovan sembari memeluk dan menciumi kening istrinya.


"Engga papa. Kamu berhak tau semuanya."


"Aku janji, aku ga akan membuat kamu kembali merasakan kekecewaan. Aku akan memberikan kebahagiaan dalam kehidupan kita." Zyrra melepaskan pelukan Jovan dari tubuhnya. Perlahan ia menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku ga butuh kamu ucapin janji. Aku mau kamu membuktikan semuanya."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2