
FLASH BACK ON...
Setelah melihat wajah cantik sang istri, Jovan langsung bergegas menjemput Zyrra di kediaman sang sekretaris. Bahkan saking senangnya, Jovan sampai mengendarai mobilnya dengan sangat kencang hingga tidak butuh waktu lama untuknya tiba di rumah Lesy.
Setelah sekian lamanya tidak berjumpa dengan Zyrra, hal pertama yang di perhatikan oleh Jovan adalah perut buncit istrinya. Lagi-lagi air mata Jovan kembali meleleh, ia sudah tidak perduli lagi akan imej CEO gagahnya. Bukan air mata itu adalah gambaran rasa bahagia yang Jovan rasa saat ini.
Jovan menghambur kedalam pelukan Zyrra dan menciumi kening wanita itu. Madam Mad dan Lesi ikut merasakan keharuan yang terjadi di sana. Sedangkan Zyrra sendiri, masih diam terpaku mendapati perlakuan itu dari Jovan. Pikirannya mengatakan untuk menolak hal itu sebab, dia tidak mengenal pria yang sedang memeluknya ini. Tetapi, hati dan tubuhnya justru berkata lain. Zyrra seakan dapat merasakan rasa nyaman dari pelukan yang Jovan berikan.
"Terimakasih Lesy, kau sudah membantuku menemukan istriku. Dia menghilang saat kami sedang menikmati waktu berdua di sebuah restoran beberapa waktu lalu."
"Senang bisa membantumu, Tuan."
"Aku akan membawanya pulang. Kau bisa mengambil bonusmu di kantor keuangan besok."
Namun, saat Jovan ingin membawa Zyrra, wanita itu menolak. Zyrra justru berlari kearah Madam Mad dan bersembunyi di balik tubuh wanita tua itu.
Sikap Zyrra yang demikian membuat Jovan kaget bukan main. Mengapa Zyrranya itu, tidak mau ikut bersamanya. Dan mengapa Zyrra terlihat seakan takut kepadanya. Berbagai pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan di kepala Jovan. Hingga Madam Mad menceritakan kembali apa yang terjadi siang tadi dan juga memberitahukan semua hal yang Zyrra ceritakan padanya.
"Sayang ini aku, suami kamu. Aku punya banyak bukti kalau kamu engga percaya."
__ADS_1
Jovan lalu menunjukkan foto pernikahan mereka dan juga sebuah Vidio dokumentasi janin Zyrra saat baru berusia tiga bulan lalu. Setelah melihat semua itu, Zyrra barulah percaya bila Jovan memanglah suaminya. Pantas saja saat ia melihat dan mendengar suara pria itu, jantungnya berdegup kencang.
"Maaf aku melupakan semua tentangmu. Masukkan kau membantuku untuk mulai mengingat semuanya sedikit demi sedikit?" Tanya Zyrra tanpa ia sadari dengan bahasa Indonesia yang fasih dan lancar. Zyrra merasa seperti itulah bahasa yang sering ia gunakan.
"Tentu sayang, tentu."
FLASH BACK OFF...
Brak..! Pintu rumah Madam Mad di dobrak oleh beberapa orang secara paksa. Madam Mad dan Lesi yang sedang tertidur terkejut atas kedatangan orang-orang yang tidak dikenal dan merusak pintu rumahnya.
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di rumah ku?"
"Aku tidak tau siapa yang kau maksud. Siapa putrimu?"
Robin merasa heran pada Madam Mad karena tak langsung menjawab pertanyaannya. Ia melihat dengan jelas, bila Zyrra dibawa ke rumah ini melalui kamera keamanan yang disertai oleh Haikal.
"Sekali lagi kutanyakan, di mana putriku?"
Madam Mad merasakan besi dingin menempel di atas keningnya. Keringat pun mulai bermunculan dari pori-pori kulitnya. Melihat senjata api yang ditodongkan pada sang ibu, Lesy pun angkat bicara.
__ADS_1
"Dia sudah di bawa pergi oleh suaminya. Kumohon jangan sakiti kami. Aku sudah memberitahukan semuanya."
Robin tersenyum miring mendengar jawaban Lesy, ada rasa lega disudut hati pria tua itu. Robin bersyukur Zyrra lebih dulu di temukan oleh Jovan dan bukanlah para penjahat. Tanpa berucap lagi, Robin dan orang-orangnya meninggalkan kediaman Madam Mad.
"Apakah kita perlu menjemput Nona Zyrra kembali, Tuan?"
"Tidak. Biarkan saja dia bersama suaminya malam ini. Besok kita akan menemui mereka di kediaman keluarga Argantara."
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah Jovan sepanjang perjalanan pulang. Meskipun Zyrra seakan masih belum dapat kembali mengingatnya, namun keberadaan wanita itu di sisi Jovan sudah cukup membuatnya puas. Jovan terus mengusap perut besar Zyrra dan dapat Jovan rasakan tendangan dari bayi mereka di dalam sana.
"Apakah dia baik-baik saja? Apa jenis kelaminnya?"
"Dia sehat, kelaminnya, perempuan." Zyrra sempat menjeda ucapannya. Ia takut, Jovan akan kecewa setelah mendengar bila bayi mereka ternyata perempuan. Karena menurut Zyrra, kebanyakan para Ayah, pasti menginginkan seorang putra sebagai anak tertua mereka.
"Yes! Yes, yes, yes, yes yes ...! Bukannya tebakanku benar? Anakku pasti perempuan. Dan dia akan menjadi putri cantikku."
Sikap Jovan kali ini membuat Zyrra terkejut, rupanya Jovan justru sangat mengharapkan seorang putri untuk menjadi anaknya. Zyrra pun ikut tersenyum melihat raut bahagia di wajah Jovan.
__ADS_1
BERSAMBUNG....