
Zyrra baru saja menidurkan putri kecilnya, seorang pelayan datang dengan tergopoh-gopoh dan mengatakan bila ada dua orang tamu tak dikenal datang dan mencarinya.
"Mereka ada bilang namanya, Bi?"
"Kalo ga salah, namanya Dea dan Bobi Nya."
Zyrra tersenyum lalu meminta pelayan untuk mempersilakan kedua orang itu masuk dan menyiapkan minuman. Zyrra bergegas turun ke ruang tamu, menemui dua orang penting tadi.
"Dea...!" Zyrra memeluk erat tubuh sahabat lamanya itu. Keduanya cukup lama saling berpelukan untuk melepaskan rindu. Apalagi kabar menghilangnya Zyrra yang sempat membuat Dea dan Bobi ikut merasakan khawatir. Sayangnya, lokasi menghilangnya Zyrra berada di luar negeri yang membuat mereka tidak dapat ikut membantu.
"Kalian kenapa ga kasih tau dulu kalo mau ke sini? Aku kan jadi ga bisa siapin cemilan."
"Emang kami ke sini mau minta makanan apa?" Ucap Bobi dari arah belakang kedua wanita itu. "Kami ke sini mau kasih lo ini."
Bobi memberikan secarik undangan pernikahan untuk Zyrra. Di atas surat undangan itu tertulis nama Bobi dan Dea. Zyrra membulatkan matanya sambil tersenyum lebar kepada sepupu dan sahabatnya itu.
"Selamat ya? Akhirnya kalian bersama juga. Ngomong-ngomong, sejak kapan kalian jadian? Kok ga pernah cerita?" Kini Zyrra membuat raut wajahnya seakan kecewa.
__ADS_1
"Sebenarnya udah lama sih kami jadian, cuma aku niat kasih tau kamunya kalo kita udah ketemu langsung. Dan baru kali ini kita bisa ketemu langsung. Jadinya baru ini deh bisa kasih tau kamu. Oh ya, dimana keponakanku yang paling cantik?"
"Dia baru saja tidur. Kita duduk dulu yuk. Bibi udah bikin minuman tuh." Zyrra membawa Dea dan Bobi untuk duduk di sofa. Ketiga orang itu saling menceritakan berbagai hal yang mereka lalui selama tidak bertemu.
"Oh ya Ra, gue denger lo lupa ingatan. Kok kelihatannya lo baik-baik aja?" Bobi memandang Zyrra dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Tidak Bobi temukan perbedaan dari sepupunya itu, Zyrra nampak baik seperti tidak pernah terjadi apapun padanya.
''Ia. Waktu aku masih di Itali kemaren kan, sempet ada sedikit insiden yang bikin aku amnesia dan akhirnya bisa ketemu Papah. Bahkan aku juga sampai harus ngelahirin Zea sebelum waktunya. Tapi, saat aku mengalami kontraksi, ingatanku satu persatu balik. Jadi aku bisa ingat semuanya lagi deh.''
Dea dan Bobi ber oh ria bersama setelah mendengar penuturan Zyrra mengenai proses kembalinya ingatan miliknya. Mereka terus mengobrolkan banyak hal, hingga tanpa terasa waktu sudah hampir sore. Baby suster Zea membawa putri kecil itu yang baru selesai mandi. Wangi dari bedak bayi semerbak di seluruh ruang tamu.
''Wah cantiknya keponakan, Tante. Sini sayang, ikut Tante sebentar.'' Dea lebih dulu mengambil Zea dari gendongan sang suster. Meskipun Zea baru pertama kali bertemu dengan Dea, tetapi bayi mungil itu tetap anteng dalam gendongan sang Tante. Belum puas Dea menggendong keponakan kecilnya, Bobi sudah ingin mengambil alih Zea dari Dea. Bobi agak sedikit tegang saat pertama menggendong keponakannya. Bahkan Bobi sampai membuat bayi berusia dua bulan itu menangis.
''Hei, gue masih mau gendong keponakan gue.''
''Sampai kapan kau ingin menyiksa putri ku ha? Lihatlah wajahnya yang mungil ini, harus ternoda oleh tangan kotormu."
"Sembarangan. Meskipun aku ini tidak sekaya Lo, tapi gue juga rajin cuci tangan tau. Dan satu lagi, dia ini juga keponakan gue, cuma dianya aja yang belum terbiasa ama gue. Lo liat aja nanti kalo dia udah terbiasa. Gue yakin Lo ga bakal dianggap lagi deh sama dia."
__ADS_1
Bobi dan Jovan terus memperdebatkan mengenai tuan putri kecil mereka. Sementara Zyrra dan Dea hanya memperhatikan dari samping. Terlihat jelas, rasa cemburu yang berapi-api dari mata Jovan setelah mendengar ucapan Bobi barusan.
"Udah, mending kamu bersihin diri dulu. Makan malam sebentar lagi siap. Kalian makan di sini aja ya?"
"Engga deh Ra, kita makan di hotel aja."
"Loh kok gitu? Kenapa harus tinggal di hotel sih? Kan di sini juga bisa?"
"Lo kaya ga ngerti aja sih, Ra? Kita kan juga butuh waktu buat dua-duaan." Kelakar Bobi dan mendapat cubitan dari Dea. "Kita udah terlanjur mesen hotel. Sayang kan kalo ga digunain."
"Ok deh. Besok mampir ke sini lagi ya?"
"Pasti. Kalo gitu kita pergi dulu ya? By, by, keponakan cantik Tante."
Zyrra mengantarkan kepergian sepupu dan sahabatnya itu ke depan pintu. Jovan yang baru saja selesai mandi buru-buru turun dengan rambut basahnya dan mengambil Zea dari gendongan sang Ibu.
"Hai Tuan putri, Papah. Hari ini Zea nakal ga? Ada bikin susah Mamah?"
__ADS_1
"Engga dong Pah, Zea kan anak pinter." Ucap Zyrra sembari menuruti suara anak kecil.
BERSAMBUNG……