
"Oalah Jaka, Jaka! Kamu kenapa ikut campur urusan Tuan Jovan dan Nyonya Zyrra to? Ileng, kamu itu cuman kacung di sini. Jangan cari penyakit!" Ucap Pak Bejo, kepala sekuriti di kediaman Argantara. Ia telah bekerja pada keluarga itu selama hampir lima puluh tahun lebih. Dan pemuda yang di panggilnya Jaka tadi adalah putra bungsunya, yang akan menggantikan posisinya di kediaman Argantara kelak.
"Maaf Pak, saya cuman ndak tega lihat Nyonya Zyrra yang kesakitan tadi."
"Wes, lain kali jangan lagi ikut campur urusan rumah tangga majikanmu! Itu ndak sopan!" Tutur Pak Bejo seraya berlalu masuk ke dalam pos meninggalkan putranya yang masih berdiri sembari menatap ke rumah besar keluarga Argantara.
Brak...!
Jovan membanting pintu sekuat tenaga hingga membuat Zyrra terjingkat kaget. Pria itu merampas bubur di tangan Zyrra dan melemparkannya ke sembarang arah.
"Pergi kemana saja kalian? Apakah aku sama sekali tidak berharga di matamu sampai-sampai kamu harus berselingkuh dengan pria sembarangan?" Tanya Jovan dengan nada tinggi. Suara Jovan bahkan sampai terdengar oleh para pelayan di luar.
'Apakah aku serendah itu di matamu?Aku tau kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku, dan aku juga sudah bersiap-siap dengan semua kenyataan ini. Tapi kenapa hatiku tetap tersa sakit saat mendengarmu berucap seperti itu?'
Zyrra hanya berkata dalam hati, sedikitpun ia tidak menanggapi ucapan Jovan. Hatinya seakan kembali teriris dengan sayatan yang begitu lebar. Melihat Zyrra yang hanya berdiam diri, Jovan menjadi makin meyakini kecurigaannya.
"Kenapa diam? Apakah semua yang aku katakan benar?"
"Emangnya kalau aku menyangkal, kamu akan percaya? Aku rasa, ga perlu untuk menjelaskan apapun yang aku sendiri tidak tau letak kesalahannya ada di mana."
"Cih! Jadi kamu mau bilang, kalau aku yang salah? Gitu?"
"Aku capek," Ucap Zyrra pelan. Suaranya bahkan hampir tidak terdengar. Zyrra ingin mengakhiri pembicaraan ini dan membaringkan diri ke ranjang karena kepalanya terasa pusing. Tapi Jovan malah tidak perduli, dengan beringas pria itu m3lum4t b1b1r Zyrra hingga membuat wanita itu hampir kehabisan nafas. Dari c1um4n itu dapat Zyrra rasakan emosi Jovan yang meledak-ledak. Ia ingin mendorong tubuh Jovan, tapi lutut dan sikunya terasa lemas, perlahan pandangan mata Zyrra mulai buram dan tubuhnya pun limbung ke lantai.
__ADS_1
Jovan yang melihat itu segera membaringkan tubuh Zyrra ke atas ranjang dan menelpon Dokter kandungan yang khusus menangani Zyrra semasa kehamilannya. Ia merasa bersalah karena sudah menuruti emosinya yang seakan tidak terkendali barusan. Melihat kebersamaan Zyrra dengan pria lain, membuat mata hati dan logika Jovan menjadi tertutup. Ia benar-benar tidak rela istrinya itu bersama pria lain, tak perduli siapa pun itu. Ya Jovan tau, Zyrra itu orang terpenting baginya dan Zyrra itu hanyalah miliknya seorang.
Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Dokter itu tiba dan langsung melakukan pengecekan terhadap Zyrra. Ia mendapati bahwa tubuh Zyrra kekurangan nutrisi dan juga wanita itu sepertinya mengalami tekanan. Dokter muda itupun menghela nafas berat, ia tau bila ini akan sangat berbahaya bagi Zyrra dan janinnnya. Namun akan sangat sulit menjelaskan pada orang seperti Jovan ini yang memiliki sifat acuh dan juga egois. Tapi sebagai seorang Dokter, ia juga harus mengatakannya.
"Maaf Tuan, bisa kita bicarakan hal ini di tempat lain?"
Degh!
Jantung Jovan seakan ingin melompat dari tubuhnya saat mendengar permintaan Dokter itu. Ia tau bila ini pasti amat serius dan bersangkutan mengenai calon bayinya. Jovan jadi makin merasa bersalah. Ia ingin sekali meminta orang untuk memukuli dirinya saat ini juga.
"Kita bicara di ruang kerja saya." Jovan membawa Dokter itu menuju ruang kerjanya yang berada di lantai dua.
"Maaf Tuan, saya harus mengatakan hal ini, sebab ini juga menyangkut keselamatan istri dan calon anak kalian."
"Nyonya Zyrra sepertinya mengalami eklampsia. Ini biasa di picu akibat stres semasa kehamilan dan juga kurangnya asupan gizi. Hal ini sangat berbahaya bagi Nyonya Zyrra, bahkan juga janinnya. Sebab dapat memicu kelainan mental pada janin, pendarahan setelah melahirkan, bahkan yang lebih buruk adalah keguguran. Jadi saya harap, Anda dapat lebih menjaga kesehatan mental Nyonya Zyrra untuk ke depannya."
"Apakah seserius itu?"
"Ingin sekali saya mengatakan tidak, tapi itulah kenyataannya. Saya permisi, selamat pagi Tuan Jovan."
Sepeninggalan Dokter tadi, Jovan bagaikan orang idiot yang kehilangan nyawanya. Ia duduk termenung di tepi ranjangnya sembari menatap wajah pucat istrinya yang masih tetap cantik.
''Aku memang bodoh karena tidak bisa mengendalikan emosi. Aku minta maaf karena sudah membuatmu seperti ini, ku mohon bukalah matamu."
__ADS_1
Tok..tok..tok..
"Maaf Tuan, apakah Nyonya Zyrra sudah siuman? Saya sudah membawakan bubur sumsum untuknya."
"Masuklah!"
"Maaf Tuan, sejak kemarin malam Nyonya Zyrra belum makan apapun. Dan pagi ini-"
"Pagi ini kenapa?"
"Em, anu Tuan. Kata mas Jaka, Nyonya Zyrra pagi tadi keluar untuk membeli bubur, tapi... tapi buburnya sudah berceceran di lantai. Jadi saya buatkan bubur yang baru untuk Nyonya."
Jovan mengingat kejadian pagi ini saat ia dan Zyrra tiba di amar mereka. Zyrra memang terlihat membawa sebuah bungkusan di dalam kantong plastik hitam. Namun Jovan tidak mengetahui bila di dalam bungkusan itu adalah bubur yang ingin di makan oleh istrinya. Rasa bersalah kembali merongrong dalam benak Jovan.
"Letakkanlah di sana! Biar nanti saya sendiri yang akan memberikan itu pada Zyrra."
"Baik Tuan. Saya permisi."
"Hei, kamu ga lapar? Ayo bangun, nanti bubur ini aku habisin loh..." Ucap Jovan lirih. Kemudian terdengar suara lenguhan dari Zyrra, perlahan mata cantik wanita itupun terbuka.
"Kamu sudah bangun? Lapar? Bibi tadi sudah buatkan bubur sumsum, nih coba cicipi." Zyrra menatap bingung pada Jovan.
'Bukannya tadi pagi masih marah-marah ga jelas? Trus kenapa sekarang dia jadi sok perhatian?' Jangan-jangan otaknya bermasalah?' Cibir Zyrra dalam hati. Ia masih marah atas perlakuan kasar Jovan padanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...