Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
PENYESALAN PITTO DAN LISA


__ADS_3

"Ka, kamu siapa?"


"Perkenalkan, Saya Lola. Penanggung jawab semua cabang yang berada di bawah naungan Argantara grup.''


"Bagus. Anda datang tepat waktu. Saya ingin komplain tentang sikap kasar wanita liar ini." Tunjuk Pitto pada Zyrra. Ia ingin mengalihkan pembicaraan agar Lola tidak mengungkit perihal kebohongan Lisa barusan.


"Siapa yang kau sebut dengan wanita liar?"


Muncul suara bariton dari arah belakang beberapa security yang Lola bawa. Dan setelah mengetahui siapa pemilik suara tersebut, Lola beserta pegawai butik menundukkan kepala.


"Saya tanya sekali lagi, siapa yang kau sebut dengan wanita liar?"


"Tuan Jovan? Maaf bila kami telah membuat keributan di butik Anda. Saya dan calon istri saya merasa terganggu akan wanita ini. Tapi Tuan tenang saja, saya akan mengurus masalah ini dengannya." Pitto ingin meraih lengan Zyrra, tetapi pria bertubuh besar yang berada di sisi Zyrra meremas tangan Pitto kuat.


"Lepas br3ngs3k. Kenapa kamu selalu menghalangi kami hah? Atau jangan-jangan kamu ini adalah Ayah dari anak haram ini?"


"Lancang!" Banyak Jovan pada Lisa dengan wajah merah padam. Zea adalah putri kesayangannya, sekaligus juga penerus keluarga Argantara selanjutnya. Bagaimana mungkin bisa ada yang berani menghina langsung putrinya di hadapan Jovan. Jovan berjalan mendekat ke arah Zyrra dan putri kecilnya. Belum cukup di situ saja, Jovan menambahkan lagi keterkejutan Pitto dan Lisa dengan mengambil Zea dari troli lalu menggendongnya.

__ADS_1


"Berani-beraninya kamu menyebut putriku sebagai anak haram. Tangkap kedua orang ini, dan bawa ke kantor polisi atas tuduhan pencemaran nama baik, serta perlakuan tidak menyenangkan."


Pitto dan Lisa terbelalak, mereka tidak menyangka bila bayi yang Zyrra bawa adalah putri dari Jovando Argantara. Dan bayi itu juga merupakan penerus keluarga Argantara generasi ke empat yang dihubungkan oleh orang-orang kalangan atas. Pitto yang merasa menyesal karena sudah berkata kasar pada bayi itu parah ketika di bawa oleh para security. Sedangkan Lisa, wanita itu memberontak dan ingin membela diri.


"Tuan. Tuan Jovan. Sa, saya menyesal telah mengucapkan kata-kata kasar tentang putri Anda. Saya tidak tau, jika bayi ini adalah putrimu. Andai saya tau, saya akan-"


"Cukup. Saya tidak perduli akan alasanmu. Cepat bawa mereka pergi dari sini." Jovan tak memberikan kesempatan pada Lisa untuk menjilat. Jovan yang sudah terbiasa dengan para penjilat dalam dunia bisnis merasa makin muak pada Lisa. Baginya, Lisa itu seperti lintah yang menempel dan harus segera disingkirkan.


"Kamu kok di sini? Bukannya tadi kamu bilang mau ketemu klien dulu?"


"Belum. Aku masih cari yang cocok."


"Kalo gitu, biar aku temenin. Lola, kamu bisa kembali ke perusahaan."


"Baik Tuan. Aku pergi dulu ya, Ra. Dah,"


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kamu. Kalo aja kamu bisa lebih berkuasa dari Tuan Jovan, kita ga mungkin kata gini." Gerutu Lisa sewaktu mereka berada di dalam mobil polisi. Pitto yang tidak terima di salahkan pun menjawab dengan ucapan tak kalah pedas.


"Kamu nyalahin aku? Hei. kalo aja kamu ga maksa buat pergi ke butik mahal itu dan ga cari gara-gara sama Zyrra, kita ga bakal kaya gini. Sekarang kami nyalahin aku? Sadar, kamu itu cuma perempuan yang suka gede gengsi tapi ga ngaca."


"Apa kamu bilang? Aku ga ngaca? Eh, dari awal kamu yang ga ngaca. Aku mau sama kamu itu juga karena uang. Kalo aja aku bukan orang berduit, mana mau aku sama orang kaya kamu ini."


"Cukup! Kalian ini berisik sekali!" Bentak polisi yang geram akan perdebatan dia insan di belakangnya itu. Pitto dan Lisa digiring menuju kantor Polisi dan dimasukkan ke dalam penjara. Mereka hanya tinggal menunggu waktu sidang, untuk menentukan berapa lama mereka di sana.


Penyesalan, hanya itulah yang dapat Pitto dan Lisa rasakan. Berandai-andai, hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Tetapi itu semua tentu tidak mengubah apapun. Keserakahan, ketamakan serta kesombongan, telah menghancurkan keduanya. Kini, Pitto dan Lisa harus membayar perbuatan mereka pada Zyrra di masa lampau dengan menghabiskan waktu mereka di dalam bui rutan.


Ingat!


Tak ada keburukan yang akan berakhir baik. Tuhan tidak pernah menutup mata, dan Tuhan pula maka mendengar. Tuhan tahu, harian waktu yang tepat untuk mengambil sesuatu yang bukan milik kita. Jadi, jangan pernah kita melakukan suatu perbuatan yang dapat merugikan diri kita di masa depan.


Terus berjuanglah, dan percaya saja, Tuhan akan menunjukkan keadilan pada hambanya yang terzalimi. Bahkan, Tuhan akan menggantikan penderitaan kita, dengan sesuatu yang jauh lebih baik.


BERSAMBUNG……

__ADS_1


__ADS_2