Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
SELAMAT TINGGAL NENEK SALMA


__ADS_3

Malam harinya, Zyrra tiba di kediaman Argantara bersamaan dengan Jovan. Keduanya lalu menuju kamar mereka di lantai dua. Jovan lebih dulu membersihkan dirinya di kamar mandi. Sedangkan Zyrra, memilih untuk membuka internet di ponselnya. Ia ingin mencari rumah sakit terbaik untuk Nenek Salma menjalani pengobatan.


Jovan yang telah membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian santai kembali ke tempat tidur. Ia melihat wajah serius Zyrra yang menatap layar ponselnya.


'Apa yang dia lakukan sampai begitu serius?' Tanya Jovan dalam hati lalu mengambil laptopnya dan mulai melanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi. Beberapa saat kemudian ponselnya berdering, nampak Bella yang tengah melakukan panggilan vidio padanya. Dengan semangat Jovan menyambut panggilan itu


"Hai sayang, tebak aku sekarang di mana?" Ucap Bella dengan wajah bersemangat. Ia ingin memberikan kejutan pada Jovan dan mengatakan bila ia sudah kembali ke Indonesia. Walaupun sudah lebih dari seminggu ia kembali namun, Bella belum memberitahukan hal itu dan akan mengatakan bila ia baru saja tiba.


"Em, di apartemenmu?" Tebak Jovan malas.


"Bukan, aku sudah ada di rumah kita!" Dan jawaban yang diberikan oleh Bella sontak membuat Zyrra terkejut. 'Rumah kita? Jadi mereka sudah memiliki rumah pribadi? Sebenarnya sudah sejauh apa hubungan mereka?' Batin Zyrra yang sudah pasti dapat mendengar panggilan vidio itu sebab dia dan Jovan berada di ruangan yang sama dan dengan jarak cukup dekat.


"Benarkah? Kenapa kamu tidak bilang bila kamu akan kembali? Setidaknya aku bisa menjemputmu." Ucap Jovan dengan wajah nampak berseri kala mendengar ucapan Bella.


"Apakah itu akan menjadi kejutan bila aku memberi tahumu?"


"Baiklah, lalu berapa lama kamu akan ada di Indonesia?"


"Mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Bagaimana bila besok kita pergi bersama? aku sudah sangat rindu padamu sayang"


"Baiklah, aku akan menjemputmu besok." Ucap Jovan lalu mengakhiri percakapan keduanya.


Zyrra lalu buru-buru memberi tahukan hal itu pada Tuan Bima. Walaupun ia tidak suka mencampuri urusan orang lain namun, Zyrra sudah terikat kontrak dengn pria tua itu untuk menjauhkan Jovan dari Bella.


Zyrra Massage


[Kek, Jovan dan Bella akan bertemu besok. Apa yang harus ku lakukan?]


Kakek Bima Massage

__ADS_1


[serahkan pada Kakek, Kakek akan urus semuanya. Tetap awasi pergerakan keduanya dan segera berikan informasinya.]


Percakapan keduanya pun berakhir, Zyrra menyimpan ponselnya di atas meja lalu bergegas ke kamar mandi. Usai Zyrra membersihkan dirinya, keduanyapun turun untuk menikmati makan malam bersama.


Di meja makan, Tuan Bima memerintahkan Jovan untuk pergi ke Batam besok, dan membawa Zyrra turut bersamanya dengan alasan takut Zyrra merasa bosan bila di rumah saja. Jovan sempat menolak, dan meminta Jonan untuk menggantikan tugas tersebut namun, Tuan Bima berisikeras agar Jovanlah yang turun tangan langsung. Akhirnya Jovan menyerah dan setuju untuk pergi ke Batam bersama Zyrra.


Keesokan harinya saat Jovan dan Zyrra menuju bandara, mereka berhenti di lampu merah tepat dimana Zyrra pernah menolong Joi dari preman. Jovan menyempatkan diri untuk melakukan panggilan dengan Bella, untuk memberikan penjelasan mengapa ia tak jadi untuk menemuinya.


Merasa seperti obat nyamuk, Zyrra menatap ponselnya dan membaca beberapa Novel yang tersedia di sebuah aplikasi di ponselnya itu. Ketika lampu kembali berwarna hijau ia melihat Joi tengah berlari ke arah mobilnya.


"Joi? Jovan Stop!" Pinta Zyrra namun, tak segera di turuti oleh Jovan hingga ia mengulangi dengan nada sedikit meninggi "Aku bilang stop!"


Akhirnya Jovan menghentikan mobilnya dengan terheran, ia tak mengerti mengapa Zyrra memintanya untuk menghentikan mobil secara tiba-tiba. Zyrra membuka mobil dan berlari menuju seorang anak lelaki, raut wajah keduanya nampak tidak baik-baik saja.


Jovan mencari tempat parkir lalu menyusul Zyrra dan bocah tadi. Wanita itu berlari menuju sebuah rumah kumuh yang hanya berdindingkan kardus bekas. Jovan tertegun di luar rumah itu, ia tak menyangka masih ada orang yang menempati tempat semacam itu.


"Siapa saja tolong...!"


Jovan merogoh sakunya dan menghubungi seseorang melalui ponselnya. "Cepat kemari dan bawa ambulans." Usai berkata demikian, Jovan menghampiri Zyrra. Ia mencoba memeriksa denyut nadi seorang wanita tua yang dipangku oleh Zyrra. Setelah memeriksa dan tidak merasakan denyut nadi dari wanita tua itu, Jovan menggelengkan kepala.


"Tidak..! Tidak, Nenek adalah orang yang kuat! Nenek, Nenek bangun Nek. Nenek sudah berjanji kalau kita akan pergi ke rumah sakit. Ayo Nek, bangun! Kita pergi sekarang!" Teriak Zyrra histeris yang begitu menyayat hati siapapun yang mendengarkan.


Joi yang melihat hal itu hanya terduduk dan menangis. Di dunia ini baginya Nenek Salma adalah segalanya. Ia tidak memiliki siapapun selain Nenek Salma. Bayangkan, betapa hancurnya bocah lelaki itu saat ini.


Ambulans akhirnya tiba, tubuh Nenek Salma di bawa masuk untuk menuju rumah sakit. Zyrra menggandeng lengan kecil Joi untuk dibawa menuju mobil milik Jovan. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan air mata. Zyrra tahu ini bukan saat yang tepat untuknya bersedih, karena ada yang lebih hancur dibandingkan dengannya.


Tiba di mobil Jovan, Joi hanya terdiam dan menangis. Bocah lelaki kecil itu tidak tau harus bagaimana, diusianya yang masih sangat muda, ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Satu-satunya yang memberikan kehidupan dan kehangatan orang tua adalah Nenek Salma. Namun kini, orang itupun telah pergi untuk selamanya.


Sesampainya di rumah sakit, Nenek Salma dibawa ke ruang gawat darurat. Seluruh Dokter berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa wanita tua itu namun, Tuhan telah lebih dulu menjemputnya, bahkan sebelum mereka tiba di rumah sakit.

__ADS_1


Akhirnya jenazah Nenek Salma di kebumikan di TPU Muslim dekat rumah sakit itu. Awan mendung dan gerimis mengiringi prosesi pemakaman. Bahkan langitpun seakan ikut bersedih akan kepergian Nenek Salma.


Hingga prosesi pemakaman selesai, Joi masih berjongkok di dekat pusara Neneknya. Bocah itu seakan enggan untuk meninggalkan tempat itu. Zyrra yang tahu betul bagaimana cerita hidup yang dijalani oleh anak lelaki itu mencoba menghiburnya.


"Joi, Joi dengar Kakak! Joi gak sendirian, Joi masih punya Kakak. Joi sekarang tinggal sama Kakak ya?"


Joi memandang ke arah Zyrra lalu menganggukkan kepala. Joi kini hanya bisa bergantung dan berharap belas kasihan dari Zyrra. Ia tidak memiliki tempat bernaung lain, Nenek yang sudah membesarkannya selma empat tahun kini sudah pergi untuk selamanya.


'Selamat tinggal Nenek Salma, terima kasih untuk kasih sayangmu padaku.' Batin Joi lalu mengikuti langkah Zyrra dan meninggalkan pemakaman tersebut.


Jovan dan Zyrra membawa Joi kembali ke kediaman Argantara. Mereka memutuskan untuk mengurus surat adopsi Joi ke pengadilan esok, setelah membicarakan hal itu pada Kakek Bima.


Saat di perjalanan, Jovan menghentikan mobilnya di sebuah butik. Zyrra terheran mengapa mereka berhenti di tempat itu dan tidak bergeming di tempat duduknya. Jovan yang melihat Zyrra masih duduk manis di tempatnya, langsung mengetuk kaca jendela san menyuruh Zyrra untuk turun.


"Kita mau apa di sini?"


"Menurutmu?" Jawab Jovan lalu melangkah masuk ke dalam butik itu. Zyrra tanpa tahu maksud dari Jovan yang berhenti di tempat itu hanya bisa mengekorinya sambil menggandeng Joi disebelahnya.


Para pelayan butik menyambut kedatangan Jovan dengan senyum lebar. Mereka amat antusias akan kehadiran orang nomor satu di Asia dalam butik mereka."Selamat datang Tuan,ada yang bisa kami bantu?"


"Carikan pakaian untuk anak ini!" Tunjuk Jovan pada Joi yang berdiri di samping Zyrra.


"Baik, mari kami tunjukkan tempat Tuan dan Nyonya menunggu." Ucap kariawan butik menunjukkan tempat duduk pada Zyrra dan Jovan.


'Dia ternyata baik juga.' Batin Zyrra sambil sesekali melirik ke arah Jovan. Tak lama kemudian mereka tiba dengan bermacam-macam jenis pakaian yang pas di tubuh kecil Joi. Lelaki kecil itu mulai mencoba pakaian yang dibawakan oleh pegawai butik satu persatu.


Saat mereka tiba di kediaman Argantara, hari sudah gelap bahkan bisa di katakan cukup larut malam. Semua orang di kediaman itu nampaknya sudah tidur. Para pengurus rumah tangga juga tidak tinggal di rumah besar. Mereka tinggal di pafiliun sebelah yang sudah di sediakan oleh Tuan Bima. Jadi terpaksa Joi malam ini tidur satu kamar dengan mereka.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


***jangan lupa untuk like dan favoritnya ya...😉😉***


__ADS_2