Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
ANAK MALANG


__ADS_3

"Apa maksut kamu?!"


"Wait..wait...wait...waitz, calm dawn bro, bukan itu maksut gue. Lo kira gue gila apa, berani gituin calon Kakak ipar gue?" Jonan yang merasakan ketidak sukaan Kakaknya pada perkataan yang diucapkannya tadi, segera menceritakan kronologi sebenarnya.


FLASH BACK ON...


Tok...tok...tok


Terdengar ketukan di pintu kamar Jonan, entah sudah yang keberapa kali hingga akhirnya dia bangkit dan membukakan pintu dengan mata yang masih terpejam.


"Maaf Tuan muda, Tuan besar meminta Anda segera turun dan menemuinya di bawah." Ucap seorang pelayan muda dengan wajah tertunduk takut.


"Inikan belum jam sarapan? Kenapa Kakek nyuruh gue turu? Ya udah sana, gue entar turun."


Usai mencuci muka, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dulu Jonan segera menemui sang Kakek di ruang bawah. Saat melihat Cucunya turun, tanpa membiarkan Jovan bertanya Tuan Bima langsung mengeluarkan perintah


"Bawa Cucu menantuku kemari!"


Jonan langsung melebarkan bola matanya saat mendengar ucapan sang Kakek.


"Kek, itu kan calon istrinya Jovan, kenapa jadi Jonan yang harus menjemputnya? Lagi pula supir di sinikan banyak Kek, nggak harus Jonan jugakan?"


"Jovan sudah berangkat pagi-pagi sekali. Aku tidak mau dia merasa canggung karena kita menyuruh seorang supir untuk menjemputnya."


Jovan baru mau membuka mulutnya untuk menyanggah perintah sang Kakek, namun langsung dibungkam dengan ucapan tegas dari pria tua itu.


"Dia orang baru di kota ini, dan belum mengetahui seluk beluk jalanan di sekitar sini. Seorang wanita sangat tidak baik berkeliaran sendiri di tempat asing. Pergilah sebelum tongkat ini melayang ke kepalamu!"


Mau tidak mau Jonan akhirnya pergi menjemput Zyrra tanpa bantahan sedikitpun. 'Heran, sebenarnya yang Cucu Kakek itu siapa sih? Aku atau wanita itu?' Gumam Jonan sambil mengendarai mobilnya.


Tiba di depan Apartemen yang ditinggali oleh Zyrra, Jonan melangkahkan kakinya memasuki kamar itu. Menengok kesana dan kemari mencari keberadaan sang penghuni apartemen tersebut namun, tak kunjung jua menemukannya.


Hingga ia memutuskan untuk memasuki sebuah ruangan yang sudah pasti adalah tempat peristirahatan bagi Zyrra. Baru saja dia mendudukkan bokongnya, terdengar sebuah teriakan yang memekakan telinga.


"Aaaaaa...!!!!"

__ADS_1


Mata Jovan hampir tidak berkedip memandang lekuk tubuh menggoda milik Zyrra, yang mengenakan handuk dan hanya menutupi bagian dada hingga pertengahan paha. Menampakkan kaki jenjang putih mulusnya, serta sisa bulir-bulir bening di beberapa bagian tubuh wanita itu. Sebagai pria normal, tentu bohong bila Jonan mengatakan dia tidak tertarik akan pemandangan tersebut. Ingin rasanya dia menerkam wanita itu dan membawanya kedalam kukungan. Namun, pemikiran itu segera ditepisnya, mengingat wanita itu akan menjadi Kakak iparnya.


Dengan tatapan menghunus bak pedang panglima perang, yang siap membantai setiap musuh-musuhnya, Zyrra memberikan itu pada Jonan. "Keluar!" Perintahnya kemudian.


Jonan akhirnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa canggung dengan keadaan itu. Berdiri di ambang pintu, Jonan menunggu Zyrra keluar. Dia ingin menjelaskan maksutnya datang ke Aprtemen itu agar Zyrra tidak salah paham.


Setelah lama menunggu akhirnya Zyrra pun keluar, Jonan segera menjelaskan maksut kedatangannya pagi ini. Setelah mendengarkan penjelasan dari Jonan, tanpa berucap sedikitpun Zyrra melangkah pergi meninggalkan Jonan dan diikuti lelaki itu dari belakang.


Di sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan yang keluar dari kedua orang itu. Hanya deru mobil lain yang terdengar ditelinga. Jonan tak berani berucap sepatah katapun karena tau Zyrra kini tengah marah besar padanya. Hingga kini mobil mewah yang mereka tumpangi tiba di kediaman Argantara.


FLAS BACK OFF...


"Itulah ceritanya, lo gak usah khawatir. Sebejat-bejatnya gue, lo tenang aja! Gue masih bisa ngontrol otak gue kok! Yah, palingan entar kalau gue lagi sama cewe lain, cuman bisa bayangin dia doang!" Ucap Jonan dengan santainya setelah menjelaskan kronologi panjang lebar pada Jovan. Jovan yang tak mengerti, mengapa kejengkelan dalam hatinya akibat ucapan Jonan tak kunjung reda, walaupun Adiknya telah menjelaskan segalanya. Ia hanya bisa mendengus kesal dan kembali fokus pada laptopnya.


...****************...


Sedangkan di kediaman Argantara, Tuan Bima dan Zyrra yang tengah berbincang setelah melakukan sarapan pagi dihentikan oleh kedatangan seorang pria muda, tampan, dan mengenakan jas hitam yang menghampiri mereka.


"Selamat pagi Tuan Besar, Nona. Saya kemari, menjemput Nona untuk memilih gaun pengantin." Ucap lelaki itu.


"Jovan telah menungguku Kek, kalau begitu Zyrra pamit dulu."


Tuan Bima mengangguk dan membiarkan Zyrra pergi bersama orang kepercayaan Jovan. Di dalam mobil pria itu memperkenalkan dirinya.


"Maaf Nona, nama saya Denis. Asisten pribadi Tuan Jovan."


Mendudukan bokongnya di kursi belakang, hanya sekali anggukan kepala sebagai jawaban bila ia kini telah paham akan ucapan pria itu. Mobil pun melaju kesebuah butik ternama di kota ini.


Saat tiba disana, para Manajer dan staf kariawan butik telah berjejer untuk menyambut kedatangan tamu terhormat mereka. Populeritas yang disandang oleh keluarga Argantara di Kota A, sudah tidak diragukan lagi. Sebagai pemilik perusahaan raksasa terbesar di Asia, keluarga Argantara adalah sekelompok orang-orang yang tidak bisa disinggung.


Mendapat kesempatan untuk menjadi penyokong kebutuhan keluarga tersebut, adalah suatu kehormatan tersendiri bagi banyak orang. Tidak terkecuali butik ini, mereka mengerahkan segala fasilitas agar pelanggan terhormatnya merasakan kenyamanan saat berada di tempat itu.


"Ini adalah gaun pengantin keluaran terbaru dan hanya ada Tiga buah saja Nona. Setiap manik yang ada di gaun ini terbuat dari permata asli 24 karat." Ucap sang Manajer menunjukkan sebuah gaun pengantin panjang berwarna biru langit, dengan banyak manik-manik cantik yang menghias setiap sudut gaun.


Zyrra memandang takjub pada gaun pengantin itu. 'Ini jelas berkali-kali lipat lebih cantik dari gaun pengantin yang ku pesan untuk...ah! Untuk apa aku mengingatnya lagi?' Gumam Zyrra dalam hati, ia merasa jengkel dengan dirinya yang malah mengingat kenangan bersama sang mantan kekasih.

__ADS_1


Setelah selesai mencoba gaun yang akan dikenakan pada upacara pernikahanya dengan Jovan, akhirnya mereka memutuskan kembali ke apartemen. Namun, saat mobil berhenti di lampu merah Zyrra tak sengaja melihat seorang bocah pengamen yang tengah dipalak preman. Awalnya dia tak terlalu menghiraukan hal itu, hingga si preman tadi menampar bocah kecil dan merampas hasil mengamen sang bocah kecil.


Zyrra yang geram akan tingkah preman itu turun dari meobil dan menghampiri mereka.


Plak..!!!


Sebuah tamparan keras bersarang di pipi pria bertubuh tinggi dengan tato disepanjang lengannya. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melotot kearah Zyrra.


"Dasar banci! Orang tak berguna seperti kamu ini tidak pantas disebut pria!" Ucap Zyrra dengan nada sarkas dan berteriak, membuat preman itu makin emosi.


Saat sang preman ingin membalas tamparan dari Zyrra, wanita itu menahan lengan preman itu dan memberikan sebuah tendangan telak, yang membuat sang preman jatuh terjelembab ke tanah.


Zyrra berbalik dan ingin menghampiri bocah tadi namun, bahunya di tahan oleh tangan kasar.


Plak..!


Satu tamparan itu mampu membuat tubuh Zyrra tersungkur di trotoar. Rupanya tamparan itu berasal dari sang preman dan ketika orang itu ingin mengulangi aksinya tubuhnya sudah melayang akibat terjangan dari Denis. Lelaki itu menghajar preman tadi hingga tak mampu lagi berdiri.


Zyrra seakan tak menghiraukan rasa sakit di pipi kanannya, ia mencoba menghampiri bocah kecil malang yang mendapat kekersan dari preman tadi. Zyrra berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan lelaki kecil itu, lalu tersenyum dan berkata "Apakah kamu baik-baik saja? Di mana tempat tinggalmu? Biar kakak antar."


"Di ujung jalan sana kak. Rumahku jauh, aku tinggal bersama Nenekku" Ujar anak lelaki kecil itu sambil menunjuk ke arah sebuah gang sempit.


Zyrra mengangguk paham dan menatap ke arah Denis "Kembalilah, aku akan pulang sendiri."


"Tapi Naona, Tuan memerintahkan saya untuk mengantar Nona kembali usai memilih gaun."


"Kamu tidak perlu cemas, dia tidak akan memperdulikan aku kemana." Ucap Zyrra dan berlalu pergi sambil menggandeng tangan kecil bocah pengamen tadi.


BERSAMBUNG....


***Hai,hai,hai....πŸ‘‹


Jangan lupa like dan favoritnya ya...


Alhamdulillah juga kalo ada yang mau kasih voteπŸ˜†

__ADS_1


I love you all πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™***


__ADS_2