
Usai melakukan olah raga panas, Jovan meraih ponselnya dan menghubungi Denis sang asisten.
"Bawakan baju ganti untukku dan istriku."
Jovan melihat ke arah wanita yang masih tertidur di atas ranjang besar kantornya, senyum cerah pun terukir di wajah tampan laki-laki itu.
Ia melangkah ke luar ruang istirahat dan masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Di ruang kerja, Denis telah tiba dengan dua buah paper bag di tangannya.
"Aku mau, besok harus sudah ada lemari pakaian untukku dan Zyrra."
"Baik Tuan, nanti akan saya perintahkan seseorang untuk meletakkan sebuah lemari dan beberapa pakaian ganti untuk Tuan dan Nyonya."
Jovan mengangguk dan meraih paper bag dari tangan Denis kemudian membawanya kembali ke ruang istirahatnya. Dan dua sudah mendapati Zyrra yang duduk seraya menggosok kedua kelopak matanya.
"Kau sudah bangun? Nah, kenakanlah pakaian ini. Pakaianmu yang tadi sudah lusuh."
Zyrra meraih paper bag itu dan ingin membawanya menuju kamar mandi namun saat ia bangkit pinggangnya terasa nyeri dan membuat wanita itu meringis.
"A...ah..!"
"Kau kenapa?" Tanya Jovan hawatir.
Zyrra tidak menjawab, ia hanya memicingkan bola matanya ke arah laki-laki itu.
'Kenapa, kenapa. Jelas-jelas ini semua gara-gara dia. Kalo aja dia bisa nahan sedikit aja hasratnya, mana mungkin pinggangku bisa sesakit ini' Gerutu Zyrra dalam hati.
"Ia maaf, aku berjanji akan lebih pelan lagi nanti." Ucap Jovan yang sontak saja membuat bola mata Zyrra membelalak seketika.
"Lagi?"
Jovan tersenyum dan mengangguk polos, pria itu kemudian memeluk tubuh Zyrra dari belakang seraya menciumi aroma rambut istrinya.
'Ah, yang benar aja? Jangan-jangan orang ini mengidap kelainan s3x.' Lagi-lagi Zyrra hanya dapat menggerutu dalam hati.
"Bisa lepas sekarang? Aku masih punya banyak kerjaan yang belum selesai."
__ADS_1
"Biar pekerjaanmu Denis saja yang selesaikan. Kamu cukup temani aku di sini aja."
"Jangan ngaco! Nanti apa kata karyawan lain kalau tau aku hanya makan gaji buta?"
Jovan baru saja membuka mulutnya ingin menjawab pertanyaan Zyrra, tapi dering lebih dulu ponsel menghentikannya.
Dia melihat panggilan itu dari kekasihnya Bella, Jovan melepaskan pelukannya dan membiarkan Zyrra bangkit meninggalkannya.
"Ya?"
"Sayang, kamu datangkan ke acara keluargaku besok lusa?"
"Ia,"
"Baguslah ada yang ingin aku tanyakan sama kamu, aku tunggu kamu di taman belakang rumah aku."
"Ok, maaf aku masih ada urusan lain. Aku tutup dulu ya?"
"Ok, by sa-" belum selesai Bella berbicara, Jovan sudah lebih dulu mengakhiri panggilan itu.
Ternyata hal yang dia takutkan terjadi juga, laki-laki yang sangat ia cintai kini telah berpaling hati dengan wanita yang bersetatuskan sebagai istri resminya.
Namun Bella tidak dapat menyalahkan Jovan, ia sendiri sadar telah melakukan kesalahan besar yang mungkin bila di ketahui oleh Jovan, pria itu justru akan sangat membenci dirinya.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Zyrra yang tengah mengganti bajunya, kini termenung di depan cermin besar.
'Kenapa hatiku sakit saat liat nama wanita itu yang nelpon Jovan? Wajarkan? Dia itu pacar aslinya, ayolah Zyrra! Kamu harus sadar diri, kamu itu cuman istri kontrak Jovan, ga lebih!'
Zyrra mencuci wajahnya dan keluar dari kamar mandi, tiba-tiba saja sebuah tangan sudah mencengkeram pinggangnya posesif dan mendorong tubuh Zyrra ke dinding.
"Kenapa lama? Kalau kesulitan memasang sesuatu, aku bisa bantu. Kamu tinggal panggil aku aja sayang,"
"Em, aku ga kesulitan sama sekali kok. Bisa lepaskan? Aku masih ada pekerjaan."
"Kamu begitu ingin pergi, Jangan-jangan kamu mau ketemu orang lain?" Tanya Jovan penuh selidik.
"Terserah kamu lah, intinya selama kita masih di perusahaan, kamu itu adalah bosku dan aku karyawan kamu. Jadi kita harus bisa saling menjaga profesionalisme." Ucap Zyrra yang sudah lelah akan sikap posesif Jovan yang makin membuatnya sesak.
__ADS_1
"Ok, kalau gitu sebagai bos, aku ingin kamu menemaniku makan siang."
"Tapi,"
"Eits! Kamu ga boleh nolak permintaanku. Ingat, aku ini adalah bos kamu."
Zyrra menghembuskan nafasnya kasar, tapi yang diucapkan oleh Jovan memanglah tidak salah.
Akhirnya Zyrra pun menyetujui permintaan Jovan dan ikut pergi makan siang bersama suaminya itu.
...****************...
Di sebuah rumah besar seorang lelaki tampan tengah memandangi sebuah foto pada layar ponselnya.
Ia menatap foto itu dengan begitu intens, bibirnya pun menyunggingkan sebuah senyum aneh.
Setelah puas menatap foto itu, ia bangkit dan meraih sebuah anak panah dan membidikkannya ke sebuah foto laki-laki yang tertembak di sebuah dinding.
"Jovando Argantara, tunggulah pembalasanku! Aku akan menghancurkan semua yang kamu miliki saat ini. Bahkan istrimu yang seksi ini pun akan aku jadikan budak *3** pemuas nafsuku!" Ucap pria itu sambil tertawa saiko. Suara taranya bahkan menggema di seluruh penjuru ruangan.
"Permisi Tuan, saya sudah mendapatkan informasi mengenai pesta keluarga Vandof. Dan sepertinya dalam pesta yang mereka adakan kali ini, keluarga Argantara ikut akan hadir." Tutur seorang pria paruh baya yang terdengar begitu hati-hati saat berbicara dengan pria tadi.
"Bagus! Di pesta itu, aku akan mengambil apa yang gagal aku dapatkan."
Laki-laki paruh baya itu pun meninggalkan laki-laki muda yang kelihatannya adalah atasan dari pria paruh baya tersebut.
Sedangkan si pria muda yang kira-kira baru berusia sekitar tiga puluhan tahun itu pun kembali melanjutkan panahnya yang menjadikan foto Jovan sebagai target.
Bahkan di dinding itu bukan hanya ada foto Jovan saja, melainkan seluruh anggota Argantara, termasuk almarhum sang Ayah dan Ibu Jovan.
BERSAMBUNG....
...CERITA INI HANYALAH KARANGAN BELAKA!...
...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, KARAKTER DAN SEBAGAINYA, ITU HANYALAH KEBETULAN SEMATA....
mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan votenya
__ADS_1