
Makan siang telah tiba, Zyrra dan temannya Lola pergi ke kantin untuk memesan makanan mereka. Selayaknya karyawan kantor lain, Zyrra duduk dan menikmati makanan itu sambil berbincang dengan Lola. Kedua wanita muda itu membahas mengenai pekerjaan dan sambil sesekali bercanda. Hingga dering di ponsel milik Zyrra menghentikan obrolan mereka.
"Ya?"
"Nyonya, Tuan kecil mengalami kecelakaan."
Mata cantik Zyrra langsung melebar seketika, ia bangkit dari tempat duduknya dan berlari meninggalkan Lola yang menatapnya bingung.
"Sekarang dia di mana? Aku akan segera ke sana."
"Kami berada di Rumah Sakit XYZ."
Zyrra mengakhiri panggilan tersebut dan menghubungi supir pribadinya.
"Siapkan mobil sekarang! Kita harus ke Rumah Sakit XYZ."
Usai berkata demikian, Zyrra . maling mengakhiri panggilan dan bergegas menuju tempat parkir. Di sana Pak Edi telah menunggunya dan membukakan pintu untuk wanita itu.
"Cepat Pak!"
"Baik Nyonya."
Mobil itu pun melaju menuju rumah sakit tempat Joi berada. Sepanjang perjalanan, Zyrra tak hentinya berdo'a untuk tidak mendapatkan kabar yang lebih buruk dari ini lagi.
Dengan derai air mata, Zyrra mencoba menyingkirkan beragam pikiran negatif yang memenuhi kepalanya saat ini. Wanita itu memejamkan mata dan terus berharap Joi baik-baik saja.
Setibanya di rumah sakit, Zyrra langsung menghubungi nomor perawat yang bertugas menjaga Joi.
"Aku sudah samapi, di mana kalian sekarang?" Perawat itu memberitahukan ruang rapat Joi dan Zyrra bergegas menuju ke sana.
__ADS_1
Dengan nafas terengah, Zyrra tiba di sebuah lorong depan pintu ruang operasi. Kakinya seakan lemas, saat melihat tubuh pria kecil itu sedang di tangani oleh beberapa Dokter yang mencoba menyelamatkan nyawanya.
"Ya, Allah...Joi! Kamu harus kuat nak, kamu harus kuat!" Lirih Zyrra sebelum kesadarannya perlahan menghilang dan tubuhnya pun limbung. Untung saja Suster dan seorang wanita cantik sempat menangkapnya dan memanggil beberapa perawat lain untuk membantu Zyrra yang terlihat sangat pucat saat ini.
Saat para suster ingin membantu mengangkat tubuh Zyrra, Jovan tiba dan langsung merebut Zyrra dari para suster. Wanita yang membantu Zyrra bersama perawat di rumah sakit itu tercengang akan perlakuan Jovan.
Wanita itu tersenyum miris dan mencoba menahan bulir air matanya yang hampir terhatuh kala melihat laki-laki pujaannya kini terlihat begitu memperdulikan wanita lain.
Ya, dia adalah Bella, ia tiba di sana bersamaan dengan Joi dan susternya. Bajunya bahkan penuh darah akibat memangku bocah kecil itu yang bersimbah darah.
Para perawat mengarahkan Jovan untuk membawa Zyrra ke ruang rawat dan membaringkan tubuh istrinya ke atas ranjang pesakitan.
"Dia sedang mengandung anak kami, cepat panggilkan Dokter!" Ucap Jovan dengan panik.
Duar...!!!
(Prof Author: hehe...gitukan biasanya efek yang muncul pas ada kabar buruk dari seseorang kalo di filem-filem.ππ)
Dokter pun tiba dan memeriksa keadaan Zyrra beserta bayinya. Jovan menunggu di sisi Zyrra dengan perasaan cemas, sedangkan Bella hanya bisa menatap lelaki itu dari kejauhan. Ingin rasanya Bella menghampiri Jovan, namun ucapan yang keluar dari mulut Jovan barusan menandakan bila pria itu bukan lagi miliknya. Jovan telah resmi milik wanita lain, yang kini telah menjadi istri laki-laki tersebut.
"Istri Anda baik-baik saja, janinnya juga kuat, dan pingsan yang dialami oleh pasien barusan adalah suatu hal yang wajar mengingat masa kehamilan yang masih dalam trimester pertama. Saya sarankan untuk mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi juga vitamin."
Jovan kini bernafas lega dan mengucapkan terimakasih pada Dokter itu. Ia mendekat ke arah Zyrra dan mencium lembut punggung tangan wanita itu.
Bella yang sudah tak tahan melihat perlakuan lembut Jovan pada Zyrra pun memutuskan untuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat pria itu memanggil namanya dan berjalan mendekat.
"Bella, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Jovan dengan lembut, ia baru menyadari baju wanita itu yang berlumuran darah. "Apa yang terjadi?" Tanya nya lagi.
Bella pun mulai menceritakan kejadian yang menimpa Joi hingga mereka berada di sini.
__ADS_1
Flash Back On...
Setelah mengetahui Joi adalah putra kandungnya yang menghilang lima tahun lalu, Bella berniat untuk mendekatkan diri pada pria kecil itu secara perlahan. Dan hari ini Bella menemui Joi di sekolahnya untuk melihat apa saja kegiatan anak kecil itu.
Namun betapa terkejutnya Bella, saat melihat putra kecilnya yang tergeletak di dekat tangga dan bersimbah darah. Dengan panik Bella membawa Joi menuju mobilnya namun, di cegah oleh sang perawat yang bertugas untuk menjaga Joi.
"Maaf Anda siapa? Serahkan Tuan kecil pada saya."
"Minggir! Aku akan membawanya menuju rumah sakit."
"Maaf Nyonya, tapi saya adalah suster yang di percayai oleh kedua orang tua anak ini untuk menjaganya. Jadi, biar saya saja yang membawa Tuan kecil ke rumah sakit."
Ingin rasanya Bella mengatakan dia anakku dan ia adalah Ibu kandung Joi, namun ia masih belum dapat mengungkapkan itu semua saat ini. Dengan terpaksa ia menyetujui keinginan sang perawat.
"Baiklah, tapi saya mohon izinkan saya untuk ikut."
Perawat itu sebenarnya ragu, tapi ini bukan saatnya untuk memikirkan hal lain. Mereka harus segera membawa Joi ke rumah sakit karena darah yang terus keluar dari kepala bocah kecil itu.
Saat suster memberi anggukan, Bella membawa mereka menuju mobil keluarga Argantara dan langsung melaju ke rumah sakit. Ia terus memeluk tubuh mungil anak itu dengan berlinang air mata.
'Tuhan, kumohon selamatkan anakku, ku mohon Tuhan...' Lirih Bella dalam hati.
BERSAMBUNG....
Sory Reader's....aku lama ga up, aku kurang sehat akhir-akhir ini. Kepalaku pusing banget, hidung juga meler terus, jadi ga bisa konsen ngetik deh...π
Tapi alhamdulillah sekarang udah agak baikan. Jadi aku usahakan buat nebus ketinggalan update ceritakan lagi.π
Tolong dukungan kalian untuk terus memberikan like, komen, dan juga votenyaπ
__ADS_1
Jangan lupa juga buat jadikan cerita ini sebagai favorit biar dapat notif saat ada bab baru.
Iβ‘U READER'S...ππ