
"Ibuku sudah meninggal ketika melahirkanku. Dan Ayahku, semenjak Zyrra berusia delapan tahun, dia mengilang entah berada di mana. Dia hanya akan mengirimiku uang, untuk biaya sekolahku tanpa mau tau kondisiku. Aku tumbuh dan dibesarkan dalam sebuah panti asuhan."
Semua orang yang berada di ruangan itu sungguh terkejut mendengar penuturan Zyrra mengenai orang tuanya. Mereka tak menyangka, bila wanita yang terlihat begitu tegar dan dingin itu, rupanya telah menjalani pahitnya kehidupan semenjak kecil.
"Ekhem..!" Jovan berdehem untuk mengurai suasana melow yang terjadi saat ini. "Kek, karna Zyrra adalah orang baru di kota ini, aku menyuruhnya untuk tinggal di apartemen. Dan karena ini sudah larut, aku juga akan mengantarkannya kembali."
"Mana boleh begitu! Dia ini kan calon istrimu, mengapa tidak biarkan dia tinggal disini? Toh pernikahan kalian tinggal menunggu hari saja." Ucap Tuan Bima yang jelas tidak setuju dengan pemikiran Cucunya Jovan. Zyrra berinisiatif mengambil tindakan setelah mendengar ucapan Tuan Bima.
"Maaf Kek, tapi menurut Zyrra itu tidaklah baik. Toh seperti yang Kakek katakan pernikahan kami tinggal menunggu hari. Orang akan menggunjingkan keluarga ini, bila mengetahui Zyrra sudah tinggal di sini bahkan sebelum menikah."
Tuan Bima nampak setuju dengan pemikiran Zyrra "Baiklah, tapi kamu harus berjanji untuk mengunjungi Kakek di sini. Kakek selalu kesepian bila dua anak bandel ini telah pergi berkerja." Pintanya pada calon Cucu menantunya itu.
Zyrra tersenyum dan mengangguk antusias "Pasti Kek, Zyrra akan usahakan untuk setiap hari mengunjungi Kakek di sini. Kalau begitu kami pamit dulu Kek."
Setelah berpamitan pada sang Kakek, akhirnya Jovan dan Zyrra berangkat menuju apartemen. Sepanjang perjalanan tidak ada satu orang pun yang berbicara di antara dua orang itu. Hingga mobil mewah yang mereka tumpangi memasuki tempat parkir apartemen.
Zyrra turun dari mobil dan diikuti oleh Jovan. Zyrra memandang heran pada lelaki yang berjalan menuju lift itu, dan bergumam dalam hati 'Eh kok ikut turun? Kenapa gak langsung pulang aja sih?'
Seolah mengerti akan arti pandangan dari Zyrra, Jovanpun angkat suara "Ada hal yang ingin aku ambil dari Apartemenmu." Tanpa tanggapan apapun, Zyrra akhirnyamengikuti langkah Jovan dan memasuki lift.
Saat sudah di dalam lift, dan menekan nomor lantai yang mereka tuju, tiba-tiba terjadi pemadaman listrik hingga membuat liftpun berhenti. Beberapa menit pun berlalu, suasana yang gelap dan pengap membuat Jovan mulai mengalami sesak nafas, akibat rasa takut yang menderanya.
Sekuat apa pun lelaki bertubuh tinggi tegap itu melawan rasa takutnya namun, tetap saja gagal. Kedua kakinya seakan tak mampu lagi menopang berat tubuhnya, Jovan mencoba meraih Zyrra untuk meminta bantuan.
Sayangnya Zyrra yang tak mengetahui maksut Jovan justru semakin menjauh, tatkala melihat pria itu bertingkah aneh. 'Heh mau apa dia?! Awas aja kalau cari kesempatan dalam kesempitan!' Sinis Zyrra dalam hati.
Tubuh Jovan pun limbung, raga kekar itu tergeletak tak berdaya didekat kaki Zyrra. Melihat Jovan seperti itu, Zyrra bertanya-tanya dalam hati 'Eh kenpa dia? Pingsankah? Jangan-jangan dia...Calustrophobia?!'
__ADS_1
Zyrra berjongkok dan mengulurkan tangan ingin memeriksa keadaan Jovan namun, ia sangat terkejut saat pria itu menggenggam jemarinya dengan kuat. Saat Zyrra ingin menarik kembali tangannya, Jovan berkata dengan terbata-bata "To'..long ak'..ku."
Zyrra merasakan pundak lelaki itu bergetar hebat, dan akhirnya mendekap Jovan dalam pelukannya. Perlahan dia mengusap kepala lelaki itu dan berkata "Tak apa, matahari akan segera kembali, kegelapanpun akan segera berlalu. Pejamkanlah matamu, dan jangan kau buka hingga aku menyuruhmu. Bayangkan saja kamu saat ini sedang berada di tempat tidurmu dengan cahaya lampu yang terang. Teruslah untuk menjawab pertanyaanku."
Sejujurnya Zyrra pun merasa takut akan hal ini, tapi dia mencoba menguatkan hatinya sembari membuka perbincangan dengan Jovan.
"Kakek Bima itu, menurutmu adalah tipe orang yang seprti apa?"
Jovan mengikuti saran Zyrra dan menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari wanita itu. Sembari menunggu listrik menyala dan lift kembali berfungsi. Hingga pertanyaan terakhir yang mengusik sanubarinya.
"Lalu di mana Mamahmu sekarang?" Hening. Tak ada respon dari Jovan, hingga dia kembali berkata "Tak apa bila kamu tidak mau membahas itu. Aku tidak akan memaksa, maaf karena sudah menyinggungmu."
"Sudah hampir delapan belas tahun ini Mamah berada di Rumah Sakit Jiwa, karena gangguan mental akibat kepergian Papah beberapa tahun lalu."
Jawaban Jovan mengejutkan Zyrra, dia tak menyangka bila bukan hanya dia yang tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Usai Zyrra berkata demikian, lampu kembali menyala dan lift pun kembali bergerak. Zyrra yang merasakan silau di matanya menyadari posisi aneh mereka kini. Wanita itupun bangkit tanpa, aba-aba hingga membuat tubuh Jovan terjelembab kelantai lift.
Jovan yang baru menyadari bila listrik telah kembali menyala, bangun dan membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan. Merasa malu karena sisi lemahnya dilihat oleh orang lain, Jovan berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.
Pintu lift terbuka saat mereka telah tiba di lantai tujuan. Zyrra melangkah lebih dulu meninggalkan Jovan yang masih berdiri disana.
"Aku akan mengambilnya lain kali." Itulah kata yang didengar Zyrra sebelum pintu lift kembali tertutup dan membawa Jovan di dalamnya.
Keesokan harinya, Jovan yang selalu bisa menyelesaikan pekerjaanya dengan sempurna hari ini terlihat berbeda. Pria itu tidak mampu memfokuskan pikirannya, Ingatannya tertuju pada malam saat dia dan Zyrra terjebak di dalam lift. Ucapan penenang dari wanita itu selalu terngiang dalam memori pendengaran Jovan.
"Tak apa, matahari akan segera terbit dan kegelapanpun akan berlalu." Itulah ucapan Zyrra yang selalu terngiang di telinga Jovan, hingga tanpa sadar bibir tebal pria itu menyunggingkan senyum manis.
__ADS_1
"Rapat hari ini cukup sampai di sini, saya mau besok lusa semua data tentang proyek baru dikota B sudah harus ada di meja saya" Titah Jovan pada seluruh bawahannya dan pergi meninggalkan ruang meeting.
Di dalam ruangan pribadinya, Jovan memerintahkan anak buahnya untuk pergi menjemput Zyrra di kediaman Argantara. Dia tau wanita itu kini berada di sana, setelah mendapat telpon dari asisten rumah tangga yang ditugaskannya kusus untuk menjaga sang Kakek, dan segera melaporkan apa saja kegiatan Kakeknya sehari-hari.
"Carikan aku butik terbaik di kota ini, kemudian jemput wanita yang bersama Kakekku, bawa dia ke butik itu untuk mencoba baju pengantin kami. Setelah selasai, antarkan dia kembali ke apartemen milik Jonan."
"Baik Tuan!" Ucap lelaki itu kemudian membungkuk dan berlalu pergi.
Setelah kepergian asisten pribadi kepercayaannya, terdengar ketukan dari luar pintu. Munculah seorang lelaki dengan senyum menggoda di wajahnya.
"Hei, apakah calon pengantin ini tidak mempersiapkan baju pernikahannya? Jangan sampai, mempelai wanita lo merasa kecewa karena sikap acuh lo seperti ini, dan jangan ampai juga lo nyesel kalo dia gue rebut kelak."
Ucapan mengolok dari Jonan tak sedikit pun membuat Jovan tersinggung. Dia masih asik dengan laptopnya dan menjawab dengan nada santai "Kamu tak perlu risau dengan semua itu, Denis sudah mengurus semua."
"Yah, asal lo tau aja, cuman laki-laki buta yang nolak kawin sama cewe secantik dan seseksi Zyrra. Dia itu bener-bener ciptaan Tuhan yang sempurna. Walaupun harus gue akui dia terkesan dingin dan angkuh, tapi justru itu yang bikin penasaran. Dan tubuhnya yang indah tanpa pakaian dengan bulir-bulir air yang masih tersisa kaya pagi tadi itu, adalah sebuah pemandangan terindah."
Kali ini perkataan Jonan mampu mengusik ketenangan Jovan, bahkan menyulut sedikit emosi dalam dada pria itu.
"Apa maksut kamu?!"
BERSAMBUNG...
***Yey...!!! Akhirnya udah bab enam nih...thank's untuk yang udah baca karya-karya aku
Mohon kritik dan saran sebagai bentuk dukungan kalian ya!!!
Ingat,buat tekan like dan jadikan favorit๐๐๐ kalo bisa vote juga ya๐
__ADS_1