Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
GELISAH PART 1


__ADS_3

Zyrra baru saja bangun tidur saat ponselnya berdering. Rupanya itu panggilan dari suaminya, Jovan.


"Tumben dia nelpon jam segini, ada apa?" Tanya Zyrra sebelum menjawab panggilan telepon tersebut.


"Ya?"


"Sayang, malam ini kayanya aku bakal pulang terlambat. Aku harus mendatangi perusahaan di luar kota. Akan ku usahakan pulang cepat kalau urusanku sudah selesai."


"Oh," Jawab Zyrra singkat dan membuat Jovan geregetan pada istrinya itu.


"Oh? Cuma oh aja? Ga ada pertanyaan apa, gitu?"


"Apa? Kan kamu juga udah jelasin tujuan kamu, terus aku harus tanya apa?"


"Ya, apa kek. Emang kamu ga takut aku ada main sama perempuan lain di luar?"


"Emang kamu mau berbuat gitu?" Tanya Zyrra, kini dengan nada dingin menusuk. Entah mengapa ada rasa jengkel saat Jovan mengatakan hal barusan.


"Ya enggak, tapi...ayolah! Buat suami kamu ini seneng sedikit dengan rasa cemburu kamu." Jelas Jovan segera. Sebenarnya Jovan hanya ingin meminta perhatian dari Zyrra yang terlihat selalu acuh akan hubungan mereka. Ya, walaupun wanita itu tidak pernah menolak setiap ia meminta jatah. Tapi Jovan juga ingin Zyrra bermanja-manja dengannya.


Entah mengapa Jovan menginginkan itu, padahal sewaktu bersama dengan Bella dulu, ia sudah terbiasa akan sikap dewasa yang dimiliki oleh wanita itu. Dan sikap Bella juga Zyrra tak jauh berbeda, kedua wanita itu memiliki sifat dewasa dan pengertian. Hanya saja Zyrra lebih acuh dan terkesan dingin pada hubungan mereka. Berbeda dengan Bella yang jauh lebih hangat dan perhatian.


"Di cemburuin kok seneng? Aneh!" Zyrra mengakhiri panggilan tersebut secara sepihak. Sebenarnya ada rasa mengganjal dalam hatinya saat mendengar pernyataan Jovan mengenai perselingkuhan tadi. Tapi ia sebisa mungkin bersikap tenang dan mengacuhkan rasa dalam hatinya. Zyrra yakin bila perasaan yang ia miliki saat ini adalah bentuk dari kecemburuan sang jarang bayi dalam kandungannya saja.

__ADS_1


Zyrra bangkit dari ranjang empuknya dan melangkah menuju kamar mandi. Dia membasuh seluruh tubuhnya dan mengganti pakaian di ruang ganti. Usai beres dengan urusan kecantikan, wanita itu menuju dapur dan ingin membantu para koki untuk menyiapkan makan malam. Hanya itulah kegiatannya sehari-hari setelah Jovan tidak lagi mengizinkannya bekerja di perusahaan.


"Tidak perlu Nyonya, biar kami saja yang melakukan pekerjaan ini. Bila Tuan Jovan tau, kami bisa di pecat." Ucap kepala pelayan saat melihat Nyonya besar mereka ikut berkutat di dapur.


"Tidak, Bibi tenang saja."


"Tapi Nyonya,-"


"Bi, aku bosan kalau terus berdiam di rumah. Setidaknya aku bisa melakukan sedikit hal untuk mengurangi kebosananku." Jelas Zyrra yang tidak ingin mendapat bantahan lagi. Akhirnya tak ada seorangpun yang menghalangi Zyrra untuk melakukan apapun yang ia kehendaki. Wanita itu berbaur dengan para koki dalam menyiapkan bahan makan malam kali ini.


"Sudah Nyonya, biar sisanya kami saja yang melakukan. Nyonya sebaiknya ikut bergabung di meja makan bersam Tuan besar dan lainnya."


Kini Zyrra menuruti ucapan kepala pelayan dan duduk di meja makan bersama yang lain. Di sana sudah ada Tuan Bima dan juga Joi yang sudah lebih dulu tiba. Mata tua Tuan Bima memandang heran apa Zyrra yang muncul dari arah dapur.


"Ia Kek, Zyrra ikut membuat makan malam. Tolong jangan salahkan mereka, Zyrra bosan kalau hanya diam terus. Jadi Zyrra ingin melakukan sedikit hal untuk mengurangi rasa bosan."


Tuan Bima tersenyum mendengar penuturan Zyrra. Wanita itu sangat persis seperti almarhum istrinya saat hamil putranya Johan dulu.


Almarhum Nyonya Hani Diningrum adalah wanita yang berhasil memikat hati seorang Bima Argantara. Sifatnya yang ceria dan juga selalu bersemangat, membuat hari-hari Tuan Bima selalu terasa sangat berharga. Bahkan kepergian istri tercintanya itu, tak membuat Tuan Bima merasa kehilangan. Sebab ia bisa merasakan kehadiran sosok seorang Hani Diningrum di setiap sudut rumah ini.


Usai makan malam, Zyrra menemani Joi kembali ke kamarnya. Zyrra membacakan sebuah cerita pengantar tidur seperti biasa. Perlakuan hangat Zyrra pada bocah berusia empat tahun itu, selayaknya Joi adalah putra kandungnya sendiri. Zyrra selalu nomor satu di hati Joi, baginya Zyrra adalah malaikat yang di kirim Tuhan. Jadi Joi berjanji dalam hati, akan menjaga dan melindungi Zyrra saat dia dewasa kelak. Tidak perduli apakah Ibu kandungnya akan ia temukan atau tidak. Bagi Joi, Zyrra tetaplah satu-satunya Ibu yang ia miliki.


Kisah hidup Joi memang amat memilukan, semenjak ia terlahir ke dunia ini, Joi tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Satu-satunya kasih sayang yang ia dapatkan hanyalah dari seorang Nenek tua pemulung yang kini juga telah pergi meninggalkannya. Untunglah Zyrra datang dalam hidup Joi, di saat yang tepat. Hingga kini, bocah laki-laki itu bisa merasakan hangatnya pelukan seorang Ibu. Bahkan ia juga mendapat keluarga yang lengkap. Ada Ayah, paman, juga seorang Kakek yang amat menyayanginya, walaupun Joi hanya anak angkat di keluarga ini.

__ADS_1


Ia yang dulu harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan sesuap nasi, kini telah di berikan kecukupan. Bahkan Tuhan juga memberinya cinta kasih dari sebuah keluarga. Joi kecil tidak pernah menyangka, bila pertemuannya dengan wanita penolong di kala seorang preman tengah memalaknya dulu, dapat mengantarkan Joi kecil pada titik yang membahagiakan sekarang ini.


Bagi Joi, tidak ada yang lebih ia harapkan selingkuh dari kasih sayang seorang Ibu. Dan ia mendapatkannya dari Zyrra, bahkan ia mendapatkan kasih sayang dan cinta yang lebih dari bayangannya dulu.


...****************...


Waktu sudah menunjukkan pukul 11.33 malam, namun mata Zyrra seakan enggan terpejam. Ia sangat gelisah, rasanya begitu menyiksa saat tidak ada Jovan di sisinya. Bahkan di tengah malam begini, Zyrra terisak sebab Jovan tak kunjung segera pulang. Rasanya ingin sekali Zyrra mendatangi tempat Jovan berada dan memeluk tubuh kekar pria itu. Namun itu tidak mungkin di lakukannya. Sebab, selain tempatnya yang jauh, ini juga sudah terlalu larut malam. Tidak akan baik bagi bayi dalam kandungannya ini.


Di tengah tangis Zyrra yang tidak berkesudahan, Jovan rupanya tiba dan melihat wanita itu duduk meringkuk di atas ranjang mereka. Jovan bergegas menghampiri istrinya dengan panik.


"Sayang, kenapa? Apa yang sakit? Kita kerumah sakit sekarang."


BERSAMBUNG....


...CERITA INI HANYALAH FIKSI SEMATA!!!...


...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT, KARAKTER DAN SEBAGAINYA, ITU HANYALAH KETIDAK SENGAJA AUTHOR....


^^^mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga^^^


^^^votenya ya...^^^


^^^Dukungan kalian sangat berarti bagi Author, dan untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan karyaku, aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada kalian...^^^

__ADS_1


Iā™”U READER'S...šŸ˜™šŸ˜™


__ADS_2