
Di tengah tangis Zyrra yang tidak berkesudahan, Jovan rupanya tiba dan melihat wanita itu duduk meringkuk di atas ranjang mereka. Jovan bergegas menghampiri istrinya dengan panik.
"Sayang, kenapa? Apa yang sakit? Kita kerumah sakit sekarang."
Mendengar suara lembut sang suami, Zyrra mendongak dan memeluk tubuh pria itu dengan erat. Ia melampiaskan kekesalan dan juga rasa rindu pada dada bidang Jovan. Hal itu malah membuat Jovan makin panik dan berpikir macam-macam. Ia takut terjadi hal buruk pada kandungan istrinya.
"Sayang, kenapa? Ada yang sakit? Bilang dong, jangan bikin aku panik," Tanya Jovan lagi masih dengan nada lembut.
Zyrra hanya menggeleng dan mengeratkan pelukannya. Ia seakan belum puas memeluk raga kekar suaminya itu.
"Kalo ga ada yang sakit, terus kenapa kamu nangis, hem?"
"Kamu kenapa lama banget pulangnya? Aku ga bisa tidur.." Ucap Zyrra dengan terisak dan memukul lengan Jovan.
"Astaga, jadi kamu nangis kaya gini karena ga bisa tidur? Maaf ya, aku ga tau, lain kali ga akan aku ulangi lagi." Tutur Jovan dan kembali memeluk Zyrra.
Baru kali ini Zyrra bersikap manja padanya, hal itu tentu saja membuat Jovan senang bukan main. Baru siang tadi ia mengharapkan hal itu, dan kini sudah benar-benar terjadi. Walaupun Jovan tau, itu semua karena faktor ehamilan Zyrra. Tapi ia tetap merasa senang, baginya sikap Zyrra saat hamil ini sangat menggemaskan.
"Kamu bau, mandi sana!" Titah Zyrra yang sudah puas memeluk raga suaminya itu. Ia seakan sadar dari pengaruh hipnotis seseorang dan kembali ke dirinya lagi.
"Lah, kan emang aku tadi belum sempet mandi. Lagian kamu juga langsung nempel aja tuh, malah ga mau lepas."
"Ih apaan? Mana ada kaya gitu? Udah sana mandi!" Kilah Zyrra dengan wajah memerah bagai tomat matang. Jovan tidak ingin melanjutkan aksinya dalam menggoda istrinya itu, ia pun bergegas ke kamar mandi. Berhubung malam memang sudah larut, dan keinginannya untuk memeluk tubuh sang suami pun telah terlaksanakan, akhirnya Zyrra dapat tertidur dengan nyenyak.
...****************...
Pagi hari yang cerah telah tiba, hangatnya cahaya mentari pagi menerpa wajah ayu seorang gadis keturunan keluarga Vandov. Wanita dengan wajah sedikit kebule-bulean itu mengerenyit, kala cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden menerpa wajahnya. Perlahan mata biru laut itu terbuka, Bella bangkit dan menuju kamar mandi. Setelah hampir seminggu ia berada di luar kota, akhirnya Bella dapat kembali ke kota A dan menemui putranya, Joi.
Bella amat bersemangat ketika menuju bandara, ia sudah tidak sabar untuk bertemu bocah tampannya. Bella sudah membelikan sebuah mainan untuk Joi, dapat ia bayangkan senyum cerah putranya kala mendapatkan mainan yang baru saja ia belikan.
Ketika Bella ingin menaiaki pesawat tujuannya, tiba-tiba saja ia mendapatkan panggilan dari kediaman keluarga Vandov yang memintanya untuk segera pulang ke kota B. Dengan wajah lesu, Bella menuruti kemauan keluarganya dan kembali ke kota B. Keluarga Bella sangat jarang memintanya pulang. Dan bila mereka meminta wanita itu untuk kembali, maka pasti ada hal penting yang akan mereka sampaikan. Mau tidak mau ia harus mengurungkan niatnya untuk bertemu Joi dan membeli sebuah tiket menuju kota yang berlawanan.
Di dalam pesawat, Bella tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pemuda tampan yang tengah terburu-buru hingga dirinya terjatuh.
"Sorry," Ucap pemuda tampan itu dan membantu Bella berdiri.
"Are you ok?"
__ADS_1
{Apakah kamu baik-baik saja?}
"Yeah," Jawab Bella singkat dan meninggalkan pria itu. Namun tanpa di duga, mereka justru duduk di kursi yang berdekatan.
"Hai, my name is Hendrick. Sorry about earlier."
{Hai, namaku Hendrick. Maaf soal barusan.}
"It's ok," Jawab Bella singkat.
"Are you model?"
{Apakah kau Model?}
"Yes i am."
"Oh good! Can you be a model for my new company?" Pinta pria yang bernama Hendrick itu pada Bella, sambil menyodorkan sebuah kartu nama. Bella menerima kartu nama tersebut dan mulai membacanya.
{ Oh bagus! Bisakah kau menjadi model untuk perusahaan baruku?}
"Oh, ternyata kamu bisa bahasa Indonesia?" Tanyanya tak percaya.
"Aku juga asli orang Indonesia, hanya kebetulan Nenekku adalah keturunan Belanda." Jawab Bella, kini wanita itu bersikap lebih santai.
Mereka pun mulai membicarakan banyak hal. Kehadiran pria yang bernama Hendrick itu, dapat sedikit mengurangi kekecewaannya karena tidak dapat bertemu dengan Joi.
"Bukankah perusahaan barumu berada di kota A? Lalu apa yang kamu lakukan di kota B?"
"Aku ingin menemui teman lama di sana."
Bella manggut-manggut mendengar jawaban pria itu. Ia tidak menyangka kepulangannya jalinan ini akan mengantarkannya pada teman baru.
...****************...
Hari ini Zyrra datang ke sebuah salon untuk melakukan perawatan rutinnya. Ia adalah tamu VVIV di salon itu, dan pemiliknya sudah sangat akrab pada Zyrra karena wanita itu adalah pelanggan tetap di sana. Seperti biasa kedatangannya di sambut langsung oleh para staf salon dan membawa Zyrra menuju ruang spa.
"Ah, Nyonya Zyrra, seperti biasanya kan?"
__ADS_1
Zyrra tersenyum sambil mengangguk, ia kemudian berbaring dan menikmati pijatan demi pijatan yang dilakukan oleh karyawan salon itu. Pijatan yang lembut, serta aroma terapi yang menenangkan membuat Zyrra terlena dan mulai memejamkan mata. Hampir saja Zyrra tertidur andai tidak ada sebuah suara yang mengganggu telinganya.
"Isn't this Miss Argantara? Ah, how lucky I was to meet you here."
{Bukankah ini Nyonya Argantara? Ah, betapa beruntungnya aku bisa bertemu denganmu di sini.}
Zyrra membuka mata dan menoleh ke sisinya, ia dapat melihat seorang wanita cantik bermata sipit tengah tersenyum ke arahnya. Dengan ekspresi bingung Zyrra tersenyum canggung pada wanita itu.
"Introducing. I'm Wen Xie Luo, your husband's partner business." Ucap wanita itu menjelaskan dan mengulurkan tangannya.
{Perkenalkan. Aku Wen Xie Luo, rekan bisnis suamimu.}
Zyrra menyambut uluran tangan itu dengan senyum tulus di wajahnya. Ia juga ikut berbagai basi selayaknya yang di lakukan oleh wanita itu padanya. Hingga obrolan keduanya tiba pada pembahasan mengenai perlakuan lembut Jovan.
"You know, your husband is gentle man. He always takes care of me, I think our business continuity will get better in the future." Wen Xie Luo sengaja mengucapkan hal demikian untuk membuat Zyrra marah.
{Kau tau, suamimu itu adalah pria yang lembut. Dia selalu memperhatikanku, aku rasa kelangsungan bisnis kami akan semakin membaik kedepannya.}
"Really? I'm glad to hear that. Hopefully this collaboration can bring great benefits to both parties." Jawab Zyrra masih dengan tenangnya.
{Benarkah? Aku senang mendengar hal itu. Semoga kerjasama ini dapat membawa keuntungan besar bagi kedua bekah pihak.}
Zyrra tidak menanggapi maksud lain dari perkataan Wen Xie Luo tadi. Yang ia tangkap dari ucapan wanita itu adalah kerjasama yang akan semakin baik karena keramahan sang suami. Jadi Zyrra berfikir dirinya pun harus berlaku yang sama terhadap wanita itu.
BERSAMBUNG....
...CERITA INI HANYALAH FIKSI SEMATA!!!...
...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT, KARAKTER DAN SEBAGAINYA, ITU HANYALAH KETIDAK SENGAJA AUTHOR....
^^^mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga^^^
^^^votenya ya...^^^
^^^Dukungan kalian sangat berarti bagi Author, dan untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan karyaku, aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada kalian...^^^
Iā”U READER'S...šš
__ADS_1