
"Kami sudah memutuskan untuk melangsungkan pernikahan secara sederhana dan dihadiri oleh beberapa orang keluarga saja."
"Ah, Kakek jangan salah paham, Jovan melakukan hal ini juga demi melindungiku. Kakek tau sendiri, keluarga Argantara adalah keluarga yang begitu disegani banyak orang. Dan tidak menutup kemungkinan juga memiliki saingan bisnis yang kejam," Tuan Bima masih menyimak penuturan yang diucapkan ole Zyrra denga serius. "Jadi dia tidak ingin aku terluka, ataupun dalam bahaya suatu saat nanti." Sambungnya kemudian.
"Entah apa yang ada dipikiran kalian. Banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadikan acara pernikahannya dirayakan secara mewah, walau dengan kemampuan terbatas. Tapi kalian, yang jelas-jelas memiliki lebih dari mampu, malah ingin melangsungkannya dengan sederhana?" Ucap Tuan Bima sambil menggeleng, ia tidak mengerti akan jalan pikiran kedua orang dihadapannya saat ini.
Usai melakukan perdebatan panjang mengenai pernikahan bersama Tuan Bima, akhirnya Jovan mengantarkan Zyrra untuk kembali pulang. Di dalam mobil, Jovan yang sejak tadi ingin mengutarakan kejengkalannya pada Zyrra namun tidak bisa sebab takut diketahui oleh sang Kakek akhirnya mempunyai kesempatan itu.
"Kau ini, apakah tidak mempunyai alasan lain yang lebih baik dari tadi? Kau hampir saja mengungkapkan rahasia kita. Dasar ceroboh!"
Zyrra yang merasa tidak terima disalahkan oleh Jovan pun angkat bicara.
"Oh! Lalu apakah TUAN JOVANDO ARGANTARA YANG TERHORMAT dan sangat berhati-hati ini, mempunyai alasan lain?"
Jovan terdiam mendengar perkataan Zyrra. Harus diakuinya bila ia pun tidak mampu menemukan alasan lain secepat Zyrra. Namun, tetap saja ia merasa kurang puas akan jawaban yang diberikan oleh Zyrra pada sang Kakek.
"Dan jangan pergi sembarangan seperti siang tadi. Kau tidak penting sama sekali bagiku, tapi posisimu di mata Kakek sangat berbeda. Lain kali perhatikan tindak tandukmu."
"Anda tidak perlu menghawatirkan saya Tuan. Saya sangat mampu menjaga diri saya sendiri."
"Oh benarkah? Dan kau akan merayu pria manapun seperti tadi?"
¤Sekedar kilas balik, tadi Jovan melihat Zyrra bersama dengan pria asing di halte bus saat ingin mengecek apakah Zyrra sudah kembali ke apartemennya atau belum¤
'Apa maksudnya?!' Batin Zyrra. Dengan senyum tenang wanita itu menatap Jovan dan berkata
"Itu bukan urusan Anda TUAN JOVANDO ARGANTARA! Saya rasa Anda telah menyalahi aturan nomor empat, dan bersiaplah untuk membayar dendanya."
"Kau!" Belum usai Jovan mengucapkan kalimatnya tiba-tiba mobilnya oleng. Mobilpun terpaksa ditepikannya ke bawah sebuah pohon besar di pinggir jalan. Jovan turun untuk mengecek apa yang terjadi, namun saat dia sedang berjongkok datanglah tiga orang pria bertato menyerangnya.
Jovan yang tidak siap akan hal itu pun sedikit kewalahan menghadapi tiga pria tadi. Salah seorang dari mereka ada yang membawa tongkat besi dan mengayunkan ke arah Jovan. Melihat keadaan Jovan yang sedang kesulitan, Zyrra memutuskan untuk turun dan membantu.
"Heii! Bisakah kalian berlaku gantelman? Tiga lawan satu?" Zyrra menjeda ucapannya dan kemudian tersenyum sinis "Cih banci!"
__ADS_1
'Dasar bodoh! Kenpa dia malah turun? Menyusahkan' Batin Jovan yang mendengar ucapan Zyrra sambil terus melakukan perlawanan pada dua pria dihadapannya.
Salah satu dari ketiga pria tadi melangkah ke arah Zyrra. Dengan memegang sebuah besi panjang dia menghampiri wanita itu.
"Wah..wah..wah, rupanya dia bukan hanya memiliki mobil mewah, tapi juga seorang gadis cantik! Kelihatannya malam ini kita bisa untung besar."
"Hi Nona manis, kemarilah! Bila kamu patuh, Kakak berjanji tidak akan menyakitimu. Hahahaha...!" Tawa pria yang memegang besi panjang di tangannya.
Zyrra melangkah ke arah pria berpostur tinggi kurus dan memegang besi panjang di tangannya itu. Dengan langkah gemulai, dia mendekat kearah pria tadi dan berbisik di telinganya "Aku tidak suka orang jelek!"
Dan bugh..!
Sebuah tendangan bersarang di dada pria kurus itu. Kedua pria yang masih bergulat dengan Jovan, tercengang melihat teman mereka telah terkapar tak berdaya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Jovan untuk melumpuhkan salah satu dari mereka. Namun, tanpa dia duga bila selain membawa senjata tajam dan besi pemukul, mereka juga membawa senjata api.
Zyrra yang melihat pria bertubuh gemuk mengeluarkan pistol dari dalam saku jaketnyapun berlari menghampiri. Dengan satu tendangan pistol itupun terlempar, sayangnya peluru dari pistol itu sempat mengenai lengan Jovan hingga mengeluarkan banyak berdarah. Pistol yang terlempar tadi, ditangkap oleh Jovan dan digunakannya untuk menembak kedua pria lain dibagian kaki.
Zyrra dengan panik memapah Jovan kembali kedalam mobil. Dia terlihat sangat cemas akan keadaan Jovan yang mengeluarkan banyak darah, akibat peluru dari tembakan si gendut tadi.
'Lukanya lumaya dalam, bila terus dibiarkan takutnya orang ini bisa mati kehabisan darah' Fikir Zyrra di tengah kepanikannya.
"A'..apa yang kau lakukan? Hei, hei! Aku sedang terluka okey?" Tanpa menjawab Zyrra hanya melirik sekilas dan tetap meneruskan aksinya.
Entah mengapa jantung Jovan berdetak kencang seperti habis melakukan lari maraton. Jaraknya yang begitu dekat dengan Zyrra membuatnya salah fokus. Matanya tertuju pada bibir merah alami yang dimiliki oleh wanita itu. Baju hem yang berantakan, dan kancing yang sedikit terbuka memberikan kesan seksy tersendiri di mata Jovan. Tanpa sadar, dia mulai menutup mata dan mulai menikmati setiap gerakan Zyrra yang merayapi tubuhnya.
Tak..!
Suara sabuk yang dipasang Zyrra di lengan Jovan membuat hayalan lelaki itu sirna seketika. Matanya terbuka, dan melihat Zyrra telah duduk manis kembali di tempatnya.
'Ah sial! Apa yang aku harapkan? Dia hanya ingin menghentikan pendarahan di lenganku?! Aku rasa terlalu lama berjauhan dengan Bella membuatku semakin bodoh!' Umpat Jovan dalam hati.
"Aku tidak bisa mengemudi dengan lengan seperti ini" Ucap Jovan seraya menunjukan lengannya yang sakit. Zyrra hanya melirik sekilas dan berkata "Lalu?"
"Lalu?! Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja kamu yang harus mengemudikan mobil ini."
__ADS_1
"Aku tidak bisa mengemudi" Jovan ternganga mendengar jawaban singkat Zyrra. Ia tidak menyangka, bila wanita yang pandai berkelahi ternyata tidak bisa mengemudi. Mau tidak mau Jovan mengemudikan mobilnya dengan sebelah tangan.
"Ambil ponselku, dan telpon orang yang bernama Radit. Suruh dia segera datang ke apartemenmu."
Zyrra menurut dan segera mengambil ponsel Jovan di atas dashboard. Lalu menghubungi orang yang bernama Radit, seperti yang diperintahkan oleh Jovan.
Setibanya di Apartemen Zyrra membantu Jovan berbaring di atas sofa. Mengambil air, gunting dan kotak P3K lalu kembali lagi pada Jovan. Perlahan Zyrra mengelap bekas darah di lengan pria itu dan memotong lengan baju milik Jovan untuk mempermudah membersihkan lukanya.
Setiap gerakan yang dilakukan oleh Zyrra, membuat debaran tersendiri di dalam dada Jovan. Entah mengpa Perhatian yang dilakukan oleh Zyrra membuat hatinya menghangat.
"Aku ingin mandi dulu. Kau duduklah di sini dan menunggu seseorang yang kau perintahkan untuk datang."
Ucap Zyrra kemudian berlalu pergi, tubuhnya benar-benar lengket oleh keringat. "Ah! Berendam dalam air hangat memanglah sangat menyenangkan."
Setengah jam kemudian, ia telah mengenakan pakaian dan keluar melihat kondisi Jovan. Peluru di lengannya telah dikeluarkan, Jovanpun nampak telah tertidur pulas.
"Untung saja kamu cepat menghentikan pendarahan pada luka tembak di lengan Jovan, bila tidak, aku yakin kondisinya saat ini tidak baik-baik saja. Kalau begitu biarkan dia istirahat malam ini di sini. Kemungkinan Jovan akan mengalami demam, kamu harus berjaga dan memberikan obat ini bila demamnya muncul." Ucap Dokter Radit panajang lebar menjelaskan pada Zyrra.
"Bukankah ini tugasmu?" Skak zyrra sesaat kemudian.
"Ia...ta'..tapi aku harus berjaga di rumah sakit malam ini. Aku...aku berharap kamu bisa membantuku." Pinta Dokter muda itu memelas pada Zyrra.
"Tidak!" Satu kata itu membungkam berjuta kalimat yang seharusnya diungkapkan. Zyrra kemudian berlalu memasuki kamarnya dan meninggalkan sang Dokter bersama Jovan di ruang tamu.
"Aish! Dua orang ini benar-benar dingin. Bila mereka kelak memiliki seorang anak, bukankah anak itu akan menjadi sebuah bongkahan es?" Dumelnya lalu menatap ke arah Jovan dan bergumam "Sory Van, tapi gue ada tugas penting malam ini. Jadi, lo harus bergantung sama calon bini lo dulu."
Mau tidak mau Dokter itu meninggalkan Jovan sendirian di Apartemen milik Zyrra, karena dia memang akan beetugas malam ini. Walaupun Radit adalah dokter pribadi milik keluarga Argantara, tetapi dia juga masih berkerja di sebuah Rumah Sakit.
Tok...tok..tok...
"Nona Zyrra, saya pamit dulu! Ingatlah untuk memberikan obat yang sudah ku tunjukkan tadi bila Jovan mengalami demam."
BERSAMBUNG....
__ADS_1
***Terus kasih dukungan kalian ya guys...🙏🙏🙏***