Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
TERUNGKAPNYA ORANG TUA JOI PART 2


__ADS_3

Joi terbangun karena merasakan pergerakan di sisinya. Mata bocah tampan itu perlahan terbuka. Ia mendapati Ayah dan Ibu angkatnya yang saling berpelukan dengan ZyrraΒ  yang berlinangan air mata.


"Mamah..?"


Zyrra yang semula berada dalam dekapan Jovan langsung memeluk erat tubuh Joi. Ia menciumi pucuk kepala putra angkatnya itu.


"Ga perduli siapa orang tua kamu, Joi tetap anak Mamah yang paling pinter." Ucap Zyrra dengan sesenggukan.


"Ia Mamah, Joi akan tetap jadi anak Mamah dan Papah walau nanti orang tua kandung Joi udah ketemu."


Hati siapa yang tidak hancur mendengar anak berusia ... berbicara lebih dewasa dari usianya. Jovan menjadi geram pada kelakuan Jonan. Andai saja Adiknya itu bisa lebih menata kehidupannya dan tidak selalu bermain wanita, tidak akan ada anak malang di hadapannya ini. Apalagi kesulitan yang harus Joi alami semasa hidup bersama dengan almarhum Nenek Salma dulu. Ia tidak dapat membayangkan, bila kabar keturunan keluarga Argantara selama ini hidup kesusahan akibat ulah bejat sang Adik. Tentu saja hal tersebut akan berpengaruh besar pada nama baik keluarga juga perusahaan yang sudah susah payah Tuan Bima dirikan.


"Ok, ini udah malam. Besok Joi juga harus sekolah. Lanjut lagi tidurnya, Mamah sama Papah juga mau tidur." Jovan mengajak Zyrra meninggalkan kamar Joi. Ia khawatir suasana hati Zyrra akan berpengaruh pada janin dalam kandungannya.

__ADS_1


"Jangan terlalu di pikirkan. Ingat, kamu lagi hamil. Bayi kita juga pasti sedih liat Mamah nya melow kayak gini. Sekarang kamu istirahat aja, biar aku yang bahas ini semua sama Kakek dan Jonan."


Zyrra tak melawan, tubuh dan pikirannya sudah cukup lelah dengan persoalan hari ini. Di tambah lagi ia yang tengah mengandung yang membuatnya makin mudah lelah. Tak butuh waktu lama baginya untuk segera menuju alam mimpi. Zyrra kini telah terlelap dengan mata sembabnya. Setelah yakin istrinya itu telah tertidur, Jovan kembali menemui Jonan dan Kakeknya ke ruang baca.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


"Pernahkah kamu memikirkan nama baik keluarga Argantara sebelum melakukan hal yang mencoreng nama keluarga ini? Apakah di matamu, usaha yang Kakek perjuangkan selama ini, hanya untuk memodalimu bermain wanita? Kakek membiarkanmu melakukan tindakan yang salah selama ini, itu karena Kakek yakin, kamu akan bisa menjaga nama baik keluarga Argantara. Tapi nyatanya Kakek salah! Kamu justru melemparkan lumpur, tepat di wajah Kakek.''


"Cepat kumpulkan semua perempuan yang pernah terlibat hubungan denganmu. Kira harus menanyakan alasan mereka karena lebih memilih membuang Joi dari pada menyerahkannya ke keluarga Argantara." Titah Jovan saat mereka telah tiba di rumah sakit.


"Lo gila?! Mana mungkin gue inget siapa aja cewe yang udah ng3n7o7 ama gue?"


"Lalu, bagaimana cara kamu menangani masalah ini? Apa kamu akan menunggu penyakit jantung Kakek semakin buruk dulu baru bertindak?!" Tanya Jovan dengan nada suara sedikit meninggi. Ingin sekali rasanya dia menghajar sang Adik saat ini juga. Namun, Jovan sekuat tenaga menahan emosinya. Apalagi kondisi Kakek mereka yang sedang kritis saat ini, Jovan tidak ingin membuat kegaduhan di rumah sakit.

__ADS_1


Sedangkan Jonan yang tidak tau siapa Ibu dari Joi, hanya bisa mengerang frustasi. Dari puluhan wanita yang telah ia tiduri, tidak satupun dari mereka yang masih berhubungan dengannya. Karena bagi Jonan, mereka itu hanyalah tempat pelampiasan. Dan ia pun tidak pernah melakukan hubungan badan lebih dari sekali pada wanita yang sama. Oleh karena itu, Jonan dapat memastikan, bila ia selalu menggunakan pengaman sebelum mulai b3rc1nta dengan setiap wanita yang bersamanya.


Dengan langkah lebar Joanan melangkah pergi dari rumah sakit. Ia mengemudikan mobilnya dengan begitu laju di jalanan kota dan membuat pengemudi lain mengumpatinya. Putra kedua generasi Argantara itu, menyetir kesembarang arah. Ia hanya ingin menenangkan otaknya yang seakan mendidih. Hingga mobilnya tiba di sebuah apartemen milik kekasihnya Bella. Ya, bagi Jonan, hanya Bella lah yang dapat memenangkannya saat ini. Setibanya Jonan di depan pintu apartemen Bella, ia langsung memencet tombol bel. Butuh waktu lumayan lama untuknya menunggu Bella membukakan pintu, mengingat ini telah cukup larut dan wanita itu pastilah sudah tertidur.


"Jonan? Kenapa kamu kesini malam-malam gini?"


Tanpa menjawab pertanyaan Bella, Jonan langsung memeluk erat tubuh wanita itu yang seperti obat bagi hatinya. Bella yang tidak tau hal apa yang sedang menimpa pria di depannya ini hanya menepuk pelan bahu Jonan. Dalam pikiran Bella, mungkin Jonan saat ini sedang amat membutuhkan tempat berkeluh kesah.


"Ayo kita masuk, kamu bisa menceritakan semuanya di dalam."


"Sekarang coba kamu cerita. Kenapa kamu datang ke sini malam-malam dan langsung memeluk aku?" Tanya Bella ketika mereka sudah duduk di atas sofa.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2