Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
ZYRRA KEMBALI MASUK RUMAH SAKIT


__ADS_3

Pancingannya kembali berhasil, kelima orang itu mengikutinya kesebuah tempat yang memiliki banyak skat. Mungkin tempat itu dulu adalah sebuah ruang penyimpanan barang. Zyrra mencari tempat untuknya bersembunyi dan membuat orang-orang itu berpencar mencarinya.


Zyrra mulai melumpuhkan satu persatu kelima pria yang sudah terpisah tadi. Seperti dugaannya, mereka lebih mudah diatasi saat terpisah. Walaupun Zyrra sudah kelelahan untuk menghadapi mereka namun, demi mengulur waktu menunggu polisi tiba di tempat itu, dia harus bertahan sedikit lagi.


Tapi tanpa diduga, beberapa pria diluar yang sudah dilumpuhkannya lebih dulu telah sadar dan kini datang membantu teman-temannya. Zyrra makin kewalahan, tenaganya telah terkuras habis. Juga luka-luka yang didapatnya di sekujur tubuh, membuat fisiknya makin lemah.


Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Zyrra tetap mencoba melakukan perlawanan. Hingga terdengar suara sirene dari luar. Rupanya Polisi yang di telponnya tadi telah tiba. Para penculik itupun berlarian, menghindari kejaran Polisi. Baku tembak pun terjadi, Zyrra yang sudah kelelahan ambruk ditempatnya. Namun, sebelum kesadarannya menghilang, ia sempat melihat Jovan yang berlari kearahnya.


"Zyrra..!!!" Jovan tiba di sana bersama anak buahnya dan para Polisi. Betapa terkejutnya ia, kala melihat wanita itu telah roboh dengan kondisi terluka parah dibeberapa tempat.


"Temukan para baj*ng*n itu! Aku mau mereka merasakan sakit sepuluh kali lipat dari ini. Dan cari Joi, aku yakin mereka menyekapnya disuatu tempat." Ucap Jovan, lalu dengan sigap membawa tubuh Zyrra menuju mobilnya.


Denis mengikuti langkah Jovan dan menyetir mobil untuk mereka. Jovan yang memangku tubuh Zyrra, merasa sangat bersalah melihat wanita itu yang kini terluka parah.


'Maaf aku terlambat, maaf sudah membuatmu seperti ini. Aku semestinya tidak membiarkan kalian pergi sendiri, tanpa pengawasanku.' Sesal Jovan dalam hati.


Mobil tiba di rumah sakit, para Suster membawa brankar untuk Zyrra, Jovan pun membaringkan wanita itu keatas brankar. Dokter dan Suster mendorong brankar menuju ruang IGD, karena kondisi Zyrra yang memang membutuhkan pertolongan.


Jovan kembali menghubungi anak buahnya, yang tadi ia perintahkan untuk mencari Joi dan menangkap para penculik sebelum dia mengantarkan Zyrra ke Rumah Sakit.


"Bagaimana? Apakah kalian sudah menemukan Joi?"


"Sudah Tuan, bahkan semua penculiknyapun sudah kami ringkus, dan kini mereka sudah dibawa kekantor Polisi."

__ADS_1


"Bagus, lalu bagaimana kondisi Joi? Apakah dia terluka?"


"Tidak Tuan, Joi kini bersama kami. Kami akan membawanya menuju Rumah Sakit sekarang."


"Tidak, carikan seorang perawat untuk menjaga Joi sementara waktu. Antarkan dia kembali ke hotel dan tempatkan beberapa penjaga disana."


"Baik Tuan!"


Panggilan diakhiri, Jovan melihat Dokter yang menangani Zyrra telah keluar. Iapun menghampiri Dokter itu dan bertanya "Bagaimana kondisinya Dokter? Apakah ada luka yang serius?"


Dokter itu menghela nafasnya, sebelum menjawab pertanyaan dari Jovan.


"Syukurlah lukanya tidak ada yang serius, hanya ada beberapa luka lebam dan luka lecet pada tubuh dan wajah Nyonya Zyrra. Sebaiknya dia dirawat dulu untuk beberapa hari kedepan."


"Baiklah Dok, terimakasih."


"Maaf Tuan, untuk sementara pasien tidak bisa dikunjungi, sampai dia dipindahkan keruang rawat inap." Ucap salah satu Suster pada Jovan. Jadi pria itupun mengurungkan niatnya dan menunggu Zyrra dibawa keruang rawat.


...****************...


Sementara itu dikota A, Tuan Bima yang mendapat kabar mengenai penculikan yang terjadi pada Joi hingga membuat Zyrra terluka, kini tengah menuju bandara dan ingin menyusul mereka ke Batam. Anak buah kepercayaanya juga mengabarkan bila, penculikan kali ini didalangi oleh saingan bisnis keluarga Argantara. Tuan Bima sangat geram akan hal ini, ia kembali teringat akan peristiwa yang menimpa putri bungsunya dulu.


'Kenapa para bi*dab itu masih saja mengganggu ketenangan keluargaku? Apakah masih belum cukup putriku dulu menjadi korban? Tidak, kali ini mereka harus kutangani sampai tuntas. Agar hal semacam ini tidak terjadi lagi di kemudian hari' batin Tuan Bima.

__ADS_1


"Selidiki siapa dalang dibalik semua ini, dan siapkan beberapa anak buahmu untuk melakukan penyerangan pada pelakunya. Biar semua orang tau apa resikonya bila berurusan dengan keluarga Argantara." Ucap Tuan Bima, pada orang kepercayaannya.


Pesawat kini telah mendarat di bandara, Tuan Bima dan supirnya langsung menuju rumah sakit tempat Zyrra dirawat. Sesampainya dia di sana, Jovan tengah menunggui Zyrra di depan pintu IGD. Wajahnya tertunduk lesu, penampilan pria tampan itu seperti orang yang tidak terurus.


Dengan langkah lebar, Tuan Bima menghampiri Cucunya lalu menghajar Jovan dengan tangan tuanya sendiri.


"Dasar Cucu tidak berguna! Menjaga istri sendiri saja tidak becus, apalagi bila harus menjaga satu keluarga?! Kau sungguh mengecewakan Kakek, Jovan." Ucap Tuan Bima dengan nafas terengah setelah puas menghajar cucunya itu.


Jovan tidak berniat menyangkal ucapan Kakeknya, dia pun mengakui hal itu. Dia menerima segala tindakan yang dilakukan oleh Tuan Bima. Bahkan baginya ini tidak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh Zyrra.


Para Suster membawa Zyrra menuju ruang rawat, Tuan Bima melepaskan cengkramannya pada kerah baju Jovan dan mengikuti Zyrra menuju ruang rawatnya. Jovanpun mengekori dari belakang, ia ingin melihat kondisi Zyrra saat ini. Hingga mereka tiba di ruangan yang akan ditempati oleh Zyrra untuk beberapa hari kedepan.


Kedua pria berbeda usia itu melihat wajah cantik Zyrra kini telah dihiasi dengan beberapa luka lebam di beberapa tempat. Jovan makin geram pada dirinya sendiri karena tidak segera mengetahui banyak panggilan yang dilakukan oleh Zyrra. Hingga membuat wanita itu berjuang sendiri melawan para penculik itu.


Ponsel di saku keduanya bergetar, Tuan Bima dan Jovan meninggalkan ruang rawat untuk menerima panggilan. Tuan Bima dan Jovan saat ini mendapatkan laporan yang sama, yaitu mengenai siapa dalang dibalik penculikan itu. Saat Jovan ingin meninggalkan Rumah Sakit dan menuju lokasi di mana anak buahnya kini berada, Tuan Bima mencegahnya.


"Tetaplah di sini dan jaga Cucu menantuku. Biar Kakek yang akan mengurus para baj*ng*n itu."


Jovan mengangguk dan membiarkan Kakeknya menangani hal ini. Walau sebenarnya Jovan juga ingin pergi dan memberi pelajaran langsung pada dalang dari semua kekacauan ini, tapi dia juga tidak tega bila harus meninggalkan Zyrra seorang diri di rumah sakit.


BERSAMBUNG...


***Hai reader's... mohon doanya ya.. semoga kali ini pengajuan aku keterima...๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข

__ADS_1


Soalnya tempo hari aku banyak bikin kesalahan pas diawal episode.๐Ÿ˜ณ


Makanya aku melakukan banyak revisi ulang buat memperbaikinya, dan semoga kali ini aku udah bener๐Ÿ˜…***


__ADS_2