
"Sayang, punya kamu kebanyakan sambalnya, itu ga bagus buat kesehatan loh." Tegur Jovan yang merasa khawatir melihat istrinya sudah kepedasan hingga berkeringat.
"Ssst! Kalo gak pedes gak enak. Lagian kamu kenapa ga makan sotonya?"
"Em, aku udah kenyang." Jawab Jovan bohong. Padahal yang sebenarnya ia merasa jijik pada tempat itu, tapi demi menemani Zyrra ia rela duduk di sana.
"Bohong!" Tegas Zyrra dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia merasa kesal karena Jovan tak menghargai keinginannya untuk makan bersama di tempat itu.
"Engga sayang, bener aku udah kenyang."
Kini Zyrra makin terisak, ia benar-benar jengkel atas penolakan Jovan yang secara tidak langsung barusan. Melihat Hal itu, Jovan mau tidak mau memakan soto di piringnya walau hampir saja muntah karena tidak sanggup untuk menelan makanan itu.
"Ya ampun sayang, sssst...! Udah dong, kok malah nangis? Ok aku makan ya,"
Para ajudan yang di bawa oleh Jovan sekuat tenaga menahan rasa geli. Baru kali ini mereka melihat seorang Jovando Argantara menjadi serba salah. Biasanya sang CEO akan bersikap arogan dan kejam pada setiap orang yang ditemuinya. Namun bila sudah di hadapan Zyrra, pria itu berubah menjadi kucing Persia yang penurut.
(POV Author: Memang, bila cinta telah berbicara harimau yang ganas sekalipun akan tetap menjadi kucing penurut. 😜😜)
"Udah dong sayang, malu." Pinta Jovan dengan setengah berbisik. Orang-orang di sana melihat ke arah mereka dengan tatapan bingung, bahkan ada juga yang sambil terkikik.
"Hiks..hiks..kamu nyebelin! Nemenin aku makan aja ga mau, sekarang bilang aku malu-maluin!"
"Ya Tuhan...! Bukan gitu maksud aku sayang, aku ga,-"
__ADS_1
"Aku mau pulang!" Belum sempat Jovan menyelesaikan ucapannya, Zyrra sudah bangkit meninggalkan tempat itu dan memasuki mobil mereka. Jovan yang serba salah kembali berlari menyusul istrinya yang makin merajuk. Di dalam mobil air mata Zyrra makin deras saja, laksana hujan yang disertai dengan guntur dan petir, membuat Jovan kian gelabakan untuk menenangkan hati sang istri.
"Sayang, maaf ya? Aku ga bermaksud bilang kamu malu-maluin. Hanya aja tadi banyak orang yang liatin kita, jadi aku,-"
"Pulang!" Hanya itu kata yang keluar dari mulut Zyrra. Baginya setiap penjelasan yang diucapkan oleh Jovan, malah makin membuat rasa jengkel di hatinya makin menjadi-jadi. Jovan akhirnya diam dan menjalankan mobilnya untuk kembali ke kediaman Argantara. Ia tak tau lagi harus berbuat apa agar amarah istrinya itu dapat berkurang.
'Kenapa dia jadi cengeng gini sih? Kemana sikap dewasa dan tegarnya dulu? Apa ini yang di sebut dengan hormon kehamilan?'
Sepanjang perjalanan pulang banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak Jovan. Hingga kini mereka telah tiba di kediaman Argantara, Zyrra bergegas masuk ke kamar mereka yang kini sudah berpindah ke lantai satu. Tuan Bima yang tengah duduk di ruang tamu melihat air mata di wajah Cucu menantunya itu bahkan terheran-heran.
'Loh baru pulang kok sudah nangis? Jovan gimana sih jagain istrinya yang lagi hamil aja ga becus!' Umpat Tuan Bima dalam hati. Tak lama Jovan muncul dan ingin menyusul Zyrra ke dalam kamar. Akan tetapi Tuan Bima memanggilnya untuk duduk bersama di ruang tamu.
"Kamu ini gimana sih? Jagain satu istri aja ga bisa, bagaimana lagi kalau kalian sudah mempunyai anak?"
"Jovan ga tau kenapa Zyrra sekarang berubah menjadi sangat cengeng. Salah sedikit saja dia sudah langsung seperti itu." Tutur Jovan menjelaskan sambil memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
"Hahahaha...! Jadi ini bukan karena kalian ada masalah yang serius?"
Jovan lalu menggeleng lemah, Tuan Bima menepuk bahu kekar sang Cucu dan memberikan sebuah nasehat.
"Dia seperti itu juga bukan keinginannya, itu semua karena bayi yang ada di dalam perutnya yang mengendalikan semua akal sehat yang dia miliki. Jadi, sebagai seorang suami, kamu harus bisa lebih bersabar dan mengerti. Sebab di saat seorang istri telah mengandung, di situlah kesabaran seorang suami diuji."
Usai memberikan nasehat pada Jovan, Tuan Bima bangkit dan menuju ruang baca, meninggalkan Jovan yang masih termenung di atas sofa.
__ADS_1
'Ya, Kakek benar. Jarang-jarang melihat sikap manja Zyrra. Dulu wanita itu akan bersikap dingin dan acuh padaku, dan sikapnya yang sekarang adalah karena dia tengah mengandung anak kami. Jadi aku tidak boleh mengeluh, toh ini setimpal dengan apa yang akan kami dapatkan kelak.'
Jovan sudah membayangkan wajah lucu bayi mereka yang berada dalam gendongannya. Langkah kaki mungil yang menghampirinya saat dia pulang kerja, dan juga suara manis yang memanggilnya dengan sebutan Papah. Senyum cerah Jovan kembali merekah membayangkan hal itu. Ia lalu menyusul Zyrra menuju kamar mereka untuk melihat keadaan sang istri. Apakah wanita itu masih menangis, atatukah sudah lebih baik saat ini.
Pintu kamar terbuka, Jovan mendapati istrinya telah tertidur nyenyak di atas ranjang dengan mata sembab dan hidung memerah. Hati Jovan jadi penuh penyesalan, ia mendekati Zyrra dan mencium kening wanita itu.
"Maafkan aku sayang, aku berjanji tidak akan membuatmu kesal lagi. Maaf akan ketidak pekaanku padamu, I love you," bisik Jovan dan memeluk Zyrra dari belakang. Kini ia ikut berbaring di sisi sang istri, merasakan harumnya rambut hitam milik Zyrra. Tanpa sadar akhirnya Jovan ikut terlena dan memejamkan mata, dengan deru nafas teratur.
BERSAMBUNG....
...CERITA INI HANYALAH FIKSI SEMATA!!!...
...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT, KARAKTER DAN SEBAGAINYA, ITU HANYALAH KETIDAK SENGAJAAN AUTHOR....
^^^mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga^^^
^^^votenya ya...^^^
^^^Dukungan kalian sangat berarti bagi Author, dan untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan karyaku, aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada kalian...^^^
selamat tahun baru 2023 semua...!😄😄
Semoga di tahun yang baru ini, kita selalu di berikan limpahan rezeki, kesehatan, panjang umur🙏🙏🙏
__ADS_1
I♡U READER'S...😙😙.