Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
ZEA AZASYA ARGANTARA


__ADS_3

"Maaf Tuan Bima. Sebagai orang tua dari Shava kami mengakui kalau dalam mendidik putri kami. Tapi saya rasa, Shava sudah seharusnya bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri."


"Papah. Kok Papah ngomongnya gitu sih?"


"Lalu? Apa kamu mau masuk penjara demi putri kesayanganmu ini?" Nyonya Hardian terdiam atas pertanyaan suaminya. Sebagai wanita karir, tentu saja ia tidak ingin memiliki reputasi yang buruk. Tetapi ia juga tidak mungkin membiarkan putrinya masuk kedalam bui.


''Biarkan Tuan Bima yang memutuskan, hukuman apa yang pantas untuk Shava.''


''Maafin Shava, Pah. Shava tau Shava salah, Shava mohon jangan biarkan Shava masuk penjara. Shava ga mau di penjara,''


Sebagai orang tua dari Shava, Tuan Hardian tentu tidak ingin melihat putri satu-satunya masuk ke dalam jeruji besi. Tetapi ini mungkin akan lebih baik, dari pada harus berurusan dengan keluarga Argantara yang akan membuat mereka kesulitan di kemudian hari.


Shava yang melihat keteguhan hati sang Ayah yang tidak ingin membantunya, lalu mendekati Tuan Bima. Wanita muda itu berlutut sembari menangis di dihadapannya.


''Kek, Shava mohon, maafin Shava. Shava janji, ga akan ganggu hubungan Jovan dan Zyrra lagi. Shava mohon, Kek.''


Tuan Bima yang melihat Shava yang tumbuh bersama kedua cucunya tentu tidak tega melihat wanita itu menangis seperti ini. Tuan Bima bahkan tidak berniat sedikitpun untuk membawa masalah ini ke meja hijau. Hanya saja, Tuan Bima yang kadung kecewa akan tingkah Shava, ingin melihat reaksi kedua orang tua gadis itu saat mengetahui perbuatan putri mereka.


Sikap tegas Tuan Hardian pada putrinya, membuat hati Tuan Bima luluh. Andai saja sikapnya barusan sama seperti yang istrinya lakukan, Tuan Bima pasti tidak akan memaafkan Shava dengan mudah.


''Baiklah. Tapi saya minta, kamu tidak boleh lagi menemui Jovan. Bahkan kamu dilarang untuk kembali ke tanah air untuk selamanya.''

__ADS_1


Syarat yang diajukan oleh Tuan Bima memang terdengar mudah, namun tidak bagi Shava. Ia yang sudah amat mencintai Jovan pastinya tidak akan mampu untuk tidak menemui pria itu. Tetapi Shava tidak memilki pilihan lain, ia harus menyetujui persyaratan itu, demi dirinya dan juga kedua orang tuanya. Sebab Shava tau, bagaimana sikap keluarga Argantara dalam menindak orang-orang yang sudah mengusik keluarga mereka.


''Baik, Kek. Shava janji.''


FLASH BACK OFF...


Sementara Zyrra yang duduk bersama Joi di kursi taman, mereka terlihat bahagia dan saling melepaskan rindu. Zyrra sengaja membawa Joi sedikit menjauh dari Bella dan Jonan sebab ingin membicarakan tentang mereka yang sebenarnya adalah sebuah keluarga.


''Joi, Joi sayang ga sana Mamah?"


"Sayang." Jawab Joi dengan mantap.


"Kalo gitu, Joi jawab pertanyaan Mamah ya? Joi pengen ga ketemu sama orang tua kandung Joi?" Joi terdiam. Bocah laki-laki itu membusuk lalu kembali menatap wajah Zyrra.


Zyrra terkejut bukan main mendengar ucapan putra angkatnya itu. 'Sejak kapan Joi tau? Emang dia beneran tau?' Tanya batin Zyrra.


"Joi tau?"


"Ia. Mommy Bella dan Papah Jonan kan, orang tua kandung Joi?"


"Joi tau dari mana?"

__ADS_1


"Papah Jonan yang bilang. Tapi Joi enggak peduli. Bahu Joi, Mamah Zyrra dan Papah Jovan adalah satu-satunya orang tua yang Joi punya."


Ucapan manis dari bibir Joi membuat hati Zyrra tersentuh. Setetes butiran bening mengalir di pipi mulusnya.


"Makasih sayang, Joi juga akan selalu jadi putra kesayangan Mamah. Sekarang ayo kita lihat Adek baru Joi."


"Yey!! Joi akhirnya punya Adek."


Zyrra menggenggam jemari kecil Joi dan membawanya menemui putri kecilnya yang sedang bersama Jovan. Sebelum masuk ke dalam rumah, Zyrra menghentikan langkahnya kemudian berjongkok mensejajarkan diri dengan Joi.


"Joi, Mamah mau minta sesuatu ke Joi. Meskipun Mommy Bella dan Papah Jonan ga langsung kasih tau ke Joi kalo mereka adalah orang tua kandung Joi, tapi mereka tetap orang tua Joi yang harus di hormati. Mereka juga sangat menyayangi Joi seperti Mamah dan Papah sayang ke Joi. Jadi Mamah minta, Joi harus tetap jadi anak Mamah yang baik dan penurut ya?"


"Ia, Mah." Keduanya lalu melanjutkan langkah menuju ruang keluarga dimana Jonan, Bella, Jovan dan seorang bayi mungil tengah menunggu. Dan seperti tau bila sang Ibu ada di dekatnya, bagi dan akan gendongan Jovan pun menangis.


"Owh, sayang. Kangen ya sama Mamah? Sini kita ngobrol sama Kak Joi."


Zyrra mengambil putrinya dari gendongan Jovan dan menunjukkannya pada Joi. Joi mengelus pipi mungil adik kecilnya yang masih kemerahan.


"Siapa namanya, Mah?"


"Zea. Namanya Zea Azasya Argantara."

__ADS_1


BERSAMBUNG……


__ADS_2