
Malam harinya, Jovan tiba di kediaman Argantara. Pria itu memasuki kamar mereka dan mendapati Zyrra yang sudah tertidur pulas. Ia perlahan mendekati wanita itu dan duduk di ujung ranjang sambil memandang wajahnya.
Entah mengapa, tiap kali ia memandang wajah dingin itu ada rasa hangat yang mulai merayapi hatinya. Bahkan rasa itu tidak pernah ia rasakan saat bersama dengan kekasihnya Bella.
Jovan bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara itu ponsel yang diletakkannya di atas nakas berbunyi dan membangunkan Zyrra.
Perlahan dia bangkit dari pembaringannya dan menatap ke arah ponsel itu. Tertera nama Bella disana, Zyrra ingin meraih ponsel itu tapi kembali diurungkannya saat mendengar suara langkah kaki dari arah kamar mandi. Dan benar saja, Jovan muncul dengan pakaian tidurnya.
"Apakah kamu ingin sesuatu?"
"Tidak, aku terbangun karena suara ponselmu. Aku juga ingin melihat Joi, seharian ini aku tidak melihatnya."
"Tetaplah berbaring, ini sudah larut. Joi pun kurasa sudah tertidur saat ini, sebab dia akan mulai bersekolah besok." Ucap Jovan sambil menahan bahu Zyrra yang ingin meninggalkan ranjang. Jovan merasa hawatir akan kondisi wanita itu yang masih lemah.
Zyrra melirik sekilas kearah bahunya yang dipegang oleh Jovan. Wanita itu lalu mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya.
Jovan lalu meraih ponselnya dan melangkah menuju balkon dan menghubungi kekasihnya, Bella.
"Ada apa?" Ucapnya singkat, walau nada bicaranya terdengar lembut tapi Bella bisa merasakan ketidak sukaan pada nada itu.
"Maaf aku mengganggu waktumu. Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam."
"Hem, ya, Selamat malam. Lekaslah tidur, malam ini akan ada hujan. Jadi jangan lupa untuk menyalakan penghangat ruangan di kamarmu.
"Ya, dan kau pun."
Panggilan berakhir, Jovan kembali ke dalam dan menuju ranjang dimana Zyrra telah terlelap di sana. Ia pun tak lupa untuk menyalakan penghangat ruangan mereka.
Tengah malamnya, Zyrra merasakan kegerahan. Antara sadar dan tidak sadar, wanita itu melepaskan pakaiannya satu persatu hingga hanya menyisakan bra dan ****** ******** saja. Wanita itu juga menyingkap selimut yang dikenakannya, lalu kembali tertidur saat merasakan kelegaan setelah menyingkirkan hawa panas di tubuhnya.
Jovan yang merasa kehausan, bangun dan ingin mengambil air minum. Namun, ia malah mendapati tubuh Zyrra yang setengah telanjang. Bahkan selimut yang semula menutupi tubuhnya, kini berada di bawah.
Gluk...!
__ADS_1
Jovan menelan ludahnya kasar, rasa haus pada tenggorokannya kini semakin menjadi jadi. Pria mana yang bisa menolak godaan dari seorang wanita cantik dan bertubuh indah seperti Zyrra. Apa lagi wanita itu bersetatuskan istrinya dan kini tengah berbaring di atas ranjangnya tanpa mengenakan pakaian.
'Astaga! Apakah orang ini sengaja menggodaku? Tidakkah dia tahu betapa menyakitkannya hal ini' fikir Jovan yang memegangi Jovan juniornya.
Pria itu bergegas menuju dapur dan mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas. Berharap air dingin itu mampu untuk meredakan luapan gejolak pada dirinya. Tapi setiap kali ia menenggak air mineral itu, Jovan justru makin teringat akan bentuk tubuh Zyrra. Ia juga melihat Jovan Juniornya yang semakin berdiri tegak.
'Ah, sial! Apakah kau tidak bisa menunggu rumah sungguhanmu? Kau menyusahkan sekali!' gumamnya pada sang junior yang menyiksanya tiap kali membayangkan tubuh Zyrra.
Akhirnya pria itu memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dan ketika Jovan mulai memasuki ruangan itu, ia memejamkan mata sambil meraba-raba pada tembok.Akhirnya Jovan dapat kembali berbaring di ranjangnya.
Sekuat tenaga pria itu mencoba untuk memejamkan mata, agar tidak melihat pemandangan yang dapat merusak fikirannya. Saat dia mulai menutup kelopak matanya bayangan tubuh Zyrra selalu saja muncul.
'Ah otak sialan! Bisa gak sih berhenti untuk membayangkan dia?!' Gerutunya pada diri sendiri 'Ok, Jovan kamu harus tidur! Alihkan fikiran dan mulai menghitung Domba.'
Jovan menarik nafas dan mulai menghitung Domba-Domba di otaknya. 'Satu Domba, dua Domba, tiga domba' dia terus menghitung hingga sampai ke Domba yang ke empat puluh. Otaknya berhianat dan ia kembali mengingat tubuh Zyrra 'empat puluh dada, empat puluh satu dada, empat puluh tiga dada, empat puluh... eh! Astaga...! Kenapa jadi balik ke dada?! Ayolah Van, fokus!'
Pria itu memulai kembali hitungan dombanya dari awal. Dia mulai merasakan kantuk yang menyerang matanya, sebelum Zyrra membalikkan tubuh dan malah memeluk dirinya erat. Bahkan kaki wanita itu dengan nakalnya bertengger diatas Jovan junior, membuat Jovan mengerang frustasi.
'Aaargh! Apa sih maunya perempuan ini?! Sengaja menggoda imanku atau bagaimana?! Ok, ini kamu yang memintanya.' Jovan yang sudah kehabisan kesabaran langsung membalikan tubuhnya dan menghadap ke arah Zyrra.
Jantung Jovan berdetak kencang kala bibirnya menyentuh bibir kenyal milik Zyrra. Perlahan, dia mulai membuka mulutnya dan memagut bibir manis wanita dihadapannya itu. Namun, saat Jovan ingin melakukan lebih, ia teringat akan janjinya pada Bella.
'Astaga! Apa yang sudah kulakukan? Hampir saja aku mengkhianati wanita yang kucintai' batin Jovan lalu membalikkan tubuh Zyrra lalu menyelimutinya.
'Huh...! Bersabarlah junior, dia bukan rumahmu.'
Pagi pun menjelang, malam yang menyiksa Jovan akhirnya berlalu. Zyrra perlahan membuka matanya dan mendapati durinya yang tidak mengenakan pakaian. Dia melihat ke arah di mana Jovan tidur dan tidak mendapati pria itu di sana.
Zyrra bernafas lega, Tapi ia masih bingung siapakah yang telah melepaskan bajunya. Apakah dia kembali melakukan kebiasaannya saat merasa kegerahan?
Dan ketika Zyrra ingin pergi ke kamar mandi, Jovan keluar dengan bola mata yang merah dan kelopak menghitam. Zyrra memandang wajah pria itu dengan penuh keheran.
'Apakah dia berkerja sampai larut malam? Sepertinya dia sangat kekurangan istirahat.' Batin Zyrra lalu bangkit menuju kamar mandi.
__ADS_1
Dan saat dia berpapasan dengan Jovan, Zyrra memberikan saran untuk pria itu.
"Tidurlah lebih awal, tidak baik berkerja sampai larut. Perhatikan juga kesehatanmu, aku tidak mau bila kau repotkan di kemudian hari."
Usai berkata demikian, Zyrra memasuki kamar mandi. Jovan menatap punggung wanita itu dan mengepalkan tangannya dengan kuat.
'Apa dia bilang? Tidak ingin menyusahkannya di kemudian hari? Apakah dia tidak sadar bila aku begini juga karenanya?' Dumel Jovan dalam hati.
Pria itu mengenakan kemeja dan jasnya, lalu pergi ke dapur untuk sarapan. Ia ingin segera pergi ke kantor dan mengistirahatkan mata di ruangan pribadi miliknya.
Tuan Bima dan Jonan telah lebih dulu berada di sana. Mereka sama-sama menatap keheranan pada penampilan Jovan pagi ini. Pria berusia 28 tahun yang biasanya bangun pagi dan berpenampilan rapi itu kini, terlihat sangat kacau dengan kantung mata yang menghitam.
Bahkan Jovan pun sampai lupa mengenakan celana panjangnya, ketika turun dari kamarnya. Pandangan heran dari kedua orang yang menatapnya seakan tidak dihiraukan oleh Jovan. Ia tetap acuh dan meneruskan sarapan paginya.
"Van, lo baik-baik aja kan? Gak punya masalah sama Zyrra atau yang lainnya kan?"
Pertanyaan dari Jonan hanya mendapati lirikan singkat olehnya. Hingga kini giliran Tuan Bima yang berbicara "Kau semalam tidak tidur?"
Pertanyaan Tuan Bima membuat Jovan menghentikan suapan rotinya. Ia tidak tahu bagaimana bisa Kakeknya mengetahui bila ia tidak dapat tidur semalam.
"Kakek tau?"
"Ya elah Van, keliatan banget dari penampilan dan tampang lo yang kacau ini, kali. Lo aja ampe gak inget pake celana pas turun tadi."
Mendengar ucapan Jonan, Jovan langsung melihat ke arah bawah. Dan benar saja saat ini dia tidak mengenakan celana panjang, hanya ada handuk yang masih melilit di pinggangnya.
BERSAMBUNG....
...***Ok gais....thank's buat like kalian....
Jangan lupa jadikan vaforit cerita ini ya...
Dukungam kalian ini sangat berguna buat aku😙😙
__ADS_1
Jangan ketinggalan novel karyaku yang lainnya ya...
Ada yang berjudul what's wrong with my bos?,istri masa depanku dan taruhan berhadiah cinta***