Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
MEMBELI BUAH-BUAHAN


__ADS_3

Sepeninggalan Zyrra, Jovan telah kembali disibukkan dengan tumpukan file yang memerlukan tanda tangannya. Di tengah kesibukan Jovan yang membuat kepalanya pening, Jonan datang dengan wajah kusutnya. Adik bungsu Jovan itu duduk di depan mejanya sembari mengeluh.


"Van, lo bisa ga bantuin gue?"


"Apa?" Tanya Jovan tanpa memandang ke arah Jonan.


"Gue mau nikah, tapi Kakek ga setuju."


"Emang perempuannya mau nikah sama kamu?"


"Ya ia lah..! Emang lo pikir gue bakal nikah sama angin?" Tanya Jonan kesal.


"Ok, nanti aku bantu bicara ke Kakek." Jovan masih fokus pada file di tangannya, ia tak menanggapi serius ucapan Jonan, sebab Jovan telah hafal dengan sikap sang Adik yang memang tidak pernah serius.


"Lo emang paling bisa gue andelin. Thank's bray." Jonan akan meninggalkan ruangan sang Kakak andai saja Jovan tak kembali bertanya.


"Siapa nama perempuan itu?"


Jonan agak ragu menyebutkan nama wanita yang akan dijadikan pendamping hidupnya. Bukan karena takut akan menyinggung perasaan Jovan. Karena Jonan yakin, bila Kakaknya itu telah benar-benar jatuh cinta pada sang istri dan melupakan kisah cinta antara dia dan Bella. Namun, hal yang membuat Jonan merasa ragu ialah, takut Jovan tidak dapat membantunya dalam membujuk sang Kakek.


"Dia...dia...dia Bella."


Jovan menghentikan kegiatannya saat mendengar nama Bella yang keluar dari mulut Jonan. Dia menatap mata sang Adik seakan bertanya apakah itu adalah orang yang sama dengan Bella dalam pikirannya. Dan Jonan ternyata justru mengangguk, membuat Jovan menarik nafasnya panjang sambil memejamkan mata. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Jonan.


"Dari sekian banyaknya perempuan di muka bumi ini, kenapa harus dia yang kamu pilih?"


"Karena gue cinta sama dia. Jauh sebelum lo dan dia saling kenal." Tutur Jonan.


"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" Kini pertanyaan Jovan penuh dengan nada curiga.


"Kami udah berteman dekat sejak kuliah. Gue udah jatuh cinta sama dia waktu sama-sama ikut ospek."


"Aku tanya sejak kapan kalian menjalin hubungan?!" Tanya Jovan dengan nada meninggi.

__ADS_1


"Sejak lo mengakhiri hubungan kalian."


Jovan kini membuang muka dan mendudukkan diri di sofa, kemudian disusul oleh Jonan. Mereka sama-sama terdiam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing. Jovan tau betul bagaimana penolakan sang Kakek terhadap hubungan mereka dulu. Ia kini ikut bingung bagaimana cara agar bisa mendapatkan restu pria tua itu.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Sementara itu, Zyrra yang tengah mengidam buah-buahan segar sedang asik memilih buah di super maret bersama sang supir. Wanita itu berjalan ke arah tumpukan semangka dan memilih satu. Saat ia akan mengangkat semangka itu, seorang pria datang menghampirinya.


"Zyrra?"


Zyrra yang merasa namanya di penggilingan seseorang pun menoleh. Nampak wajah seorang pria tampan yang tengah tersenyum ramah padanya.


"Arya, kamu juga belanja di sini?"


"Ia, kebetulan bahan makanan di dapurku sudah kosong. Kamu sendiri?" Tanya pria itu berbasa-basi. Ia jelas melihat Pak Edy yang berdiri di sisi Zyrra dan mengikuti wanita itu kemana pun.


"Engga, aku ke sini sama supir."


"Oh, sebentar lagi jam makan siang. Kamu ada waktu?"


"Ah, maaf. Aku sudah ada janji dengan seseorang, bagaimana kalau besok?"


Arya langsung menyetujui tawaran Zyrra, wajahnya tak dapat menutupi kebahagiaan yang dirasa. Zyrra berlalu meninggalkan Arya dan membawa buah semangka di tangannya.


Usai membeli beberapa buah, Zyrra akhirnya memutuskan kembali ke perusahaan bersama Pak Edy. Zyrra sudah tidak sabar untuk mencicipi segarnya buah-buahan yang ia beli tadi. Dengan wajah ceria, Zyrra melangkah menuju ruangan Jovan bersama Pak Edy yang membawakan bungkusan buah-buahan. Zyrra membuka pintu ruangan Jovan dan mendapati suaminya tengah duduk bersama sang Adik dengan wajah lesu.


"Kalian kenapa?"


Mendengar suara lembut sang istri, wajah Jovan langsung berubah ceria, ia berdiri dan menghampiri istrinya itu.


"Kamu beli apa aja?" Tanya Jovan sambil membawa Zyrra duduk di pangkuannya.


"Tsk, kamu ini. Malu," Lirih Zyrra sambil melirik ke arah Jonan yang menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan saudaranya itu.

__ADS_1


"Kamu malu sama dia? Udah, anggap aja dia itu cuma hiasan."


"Enak aja lo, gue di samain sama hiasan. Kenapa ga sekalian aja lo samain gue kaya bintang peliharaan?" Ucap Jonan kesal.


"Nah, dengarkan? Anggap aja dia binatang peliharaan."


"What the-?!"


Zyrra terkikik melihat Jonan yang tidak dapat berkutik akan ucapan Jovan. Wanita itu pun bangkit dan ingin meninggalkan ruangan Jovan kembali namun langsung di cegah oleh Jovan.


"Mau ke mana?"


"Ambil pisau," Jawab Zyrra polos.


"Udah kamu duduk di sini aja, biar Pak Edy yang bawa buah ini ke dapur buat di potong."


"Jangan, kasihan Pak Edy nya capek." Tolak Zyrra dan ingin kembali pergi tapi masih di tahan oleh Jovan.


"Pak,"


"Baik Tuan." Tanpa perlu panjang lebar lagi, Pak Edy langsung membawa buah-buahan itu menuju pantry perusahaan. Akhirnya Zyrra kembali duduk namun tidak lagi di pangkuan Jovan.


"Kenapa tadi wajah kalian kelihatan muram? Apa ada masalah sama perusahaan?"


BERSAMBUNG....


β˜†β˜†β˜†halo readers...


tekan like dan jadikan favorit biar bisa dapat notifikasi bila ada bab baru...


jangan lupa kunjungi novelku yang lain juga ya...


dijamin ga kalah seru deh!

__ADS_1


judulnya cold hearted a girl,what's wrong with my bos dan taruhan berhadiah cintaβ˜†β˜†β˜†


__ADS_2