
Di dalam apartemennya, Bella yang kini hanyalah tinggal seorang diri menangisi kebodohannya. Harapannya untuk berkumpul bersama dengan Joi, putranya pun harus sirna.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini Tuhan? Kau telah mengambil Jovan dan memberikannya pada wanita lain. Satu-satunya pria yang aku cintai tak Kau izinkan untuk hidup bersamaku. Sekarang, Kau pun ingin membuatku menjauh dari putraku sendiri? Betapa kejamnya balasanmu ini, Tuhan?" Lirih Bella dalam keheningan malam. Deraan air mata tak dapat terhenti layaknya hujan yang turun di musim penghujan.
Terbayang kembali wajah sang putra yang tertawa riang. Setiap bayangan-bayang yang sudah ia susun hancur berkeping-keping sudah. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki keadaan. Bahkan Jonan, laki-laki yang ia jadikan sebagai jembatan baginya dan Joi sudah tidak lagi percaya padanya.
Dengan putus asa, Bella meraih sebuah pisau buah yang terdapat di atas meja. Dengan tersenyum, Bella menggoreskan mata pisau itu ke pergelangan tangannya. Darah segar bercucuran ke lantai, sayup-sayup Bella mulai kehilangan kesadarannya.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Selamat siang Tuan, Hendrix. Semuanya sudah siap." Ucap seorang wanita seksi pada pria muda yang tengah duduk bersandar di kursi kebesarannya.
"Bagus. Sebentar lagi kita akan bertemu sayangku." Dengan langkah tegap, pria bernama Hendrix itu keluar dari ruangannya bersama sang asisten.
__ADS_1
Pria bernama Hendrix itu, adalah pemilik sebuah perusahaan yang kini sedang berkembang pesat di Indonesia. Dia bernama lengkap Hendrix Bramasta, putra angkat keluarga Bramasta. Sedari kecil, Hendrix sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya di panti asuhan. Ia menjalani hari-harinya seperti anak-anak panti lain, berharap ada sepasang suami istri yang mau mengadopsi mereka. Hingga, harapan itu pun terkabul. Suatu hari, keluarga Bramasta datang ke panti asuhan tempatnya dibesarkan dan membawanya ke luar negri. Meskipun keluarga yang mengadopsi Hendrix bukanlah dari keluarga terpandang, tetapi berkat kerja kerasnya, kini ia dapat membangun perusahaan miliknya sendiri.
Kini, Hendrix ingin mengembangkan usaha yang ia rintis ke Indonesia. Hanya saja, ia masih kalah saing dari sebuah perusahaan tua yang hingga kini tetap menduduki posisi pertama di Asia. Bagi Hendrix, batu sandungan seperti ini harus segera disingkirkan, dan menjadikan perusahaan miliknya memiliki posisi perusahaan itu. Hendrix bahkan rela, bertahun-tahun menutupi jati dirinya untuk memasuki perusahaan itu dan memudahkannya dalam mengawasi setiap pergerakan di sana. Hingga suatu hari, kehadiran seorang wanita yang membuat rencana Hendrix harus berakhir.
Hendrix jatuh cinta pada wanita itu yang sayangnya adalah istri dari pemilik perusahaan saingan terbesarnya. Meskipun demikian, Hendrix tidak perduli. Ia tetap nekat menculik wanita itu ke sebuah hotel, dan berencana menggaulinya di sana. Hendrix bahkan telah menyiapkan sebuah kamera untuk merekam aksi mereka dan akan ia tunjukkan pada sang suami dari wanita tadi. Namun, rencananya ternyata gagal karena suami wanita itu sudah lebih dulu mengetahui keberadaan mereka sebelum ia sempat melakukan aksinya.
Hal tersebut membuat Hendrix menjadi makin terobsesi pada sang wanita, hingga ia mencari tau titik lemah suaminya untuk dapat mempermudahnya dalam merebut wanita itu. Tak butuh waktu lama bagi Hendrix untuk mendapatkan informasi tentang musuh keluarga tersebut. Jadi, Hendrix sengaja mendekati keluarga itu untuk menjadi pendukung baginya. Dan yang lebih menguntungkan lagi bagi Hendrix adalah, niatnya di sambut baik oleh keluarga tersebut. Hingga kini, Hendrix telah memiliki pondasi yang cukup kokoh untuk melawan keluarga saingan bisnisnya.
Di atas meja makan, tak terdengar perbincangan dari orang-orang yang berada di sana. Mereka hanya menikmati sarapan paginya masing-masing. Suasana dalam keluarga Argantara, kini menjadi semakin kaku dari sebelumnya. Bahkan, para pelayan pun ikut merasakan ketegangan yang terjadi di antara para Tuan meteka.
Jonan yang sedari awal duduk berseberangan dengan Joi, menatap lekat wajah bocah kecil itu.
'Gimana mungkin gue ga sadar, kalo wajah kami mirip? Lo bener-bener tega, Bel. Andai aja dari awal lo kasih tau gue yang sebenarnya, gue bakal lebih banyak habisin waktu sama anak kita.' Ujar Jonan membatin. Ia merasa amat dirugikan dalam kebohongan Bella selama ini terhadapnya.
__ADS_1
"Mah, hari ini ada rapat orang tua murid di sekolah Joi. Mamah bisa datang ga?"
"Bisa dong sayang, sekarang Joi abisin dulu sarapannya, abis itu baru kita berangkat bareng-bareng, ok?"
"Ok Mamah..! Papah ga ikut?"
"Ikut. Papah yang akan antar kalian."
Mendengar percakapan antara Jovan dan Zyrra dengan putranya, hati Jonan jadi terasa makin sakit. Tanpa menghabiskan makanan di piringnya, Jonan bangkit meninggalkan meja makan.
'Semestinya yang ada di posisi Jovan sekarang ini tuh gue! Semestinya yang dipanggil Papah oleh Joi itu gue! Joi itu anak kandung gue, tapi sekarang dia udah jadi anak orang lain karena kebodohan gue.' Lirih Jonan dalam hati. Ia benar-benar merasa kesal pada dirinya sendiri karena sudah gagal melindungi putranya hingga harus menjalani kehidupan yang sulit dan berakhir menjadi putra angkat di keluarganya sendiri.
BERSAMBUNG....
__ADS_1