
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Joi sudah boleh pulang setelah dipastikan kondisinya benar-benar pulih. Jovan menjemput kepulangan Joi bersama Zyrra.
Sesampainya mereka di kediaman Argantara, Tuan Bima langsung menyuruh Jovan untuk menyusulnnya ke ruang belajar. Di sana Tuan Bima memberi perintah pada Jovan untuk menangani masalah anak Perusahaan mereka di Batam. Bahkan, orang tua itu juga menyuruh Jovan untuk membawa Zyrra serta Joi untuk ikut bersamanya.
Zyrra, Jovan dan Joi kali ini berbeda di Batam, untuk meneruskan tugas dari Tuan Bima yang sempat tertunda waktu itu. Joi nampak antusias sekali saat Jovan menawarkan ajakan untuk ikut pergi, sebab ini adalah kali pertamanya keluar kota.
Dulu, Joi hanya bisa memimpikan dirinya pergi ke suatu tempat menggunakan sebuah pesawat. Tapi kini, semenjak tinggal di kediaman Argantara, semua hal yang diimpikannya perlahan menjadi kenyataan.
Joi yang dulu harus berjuang keras untuk sekedar mendapatkan sesuap nasi, untuk dirinya dan juga Nenek yang telah merawatnya, sangat berbanding terbalik dengan Joi yang kini. Kehidupan yang dijalaninya kini benar-benar mewah. Semua berkat bantuan dari Zyrra dan Jovan.
Bagi Joi kecil, Zyrra dan Jovan sudah seperti malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuknya. Walaupun dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya namun, paling tidak ia bisa mendapatkan itu dari Zyrra dan Jovan.
Zyrra yang selalu ada untuknya di saat terburuk dan Jovan yang selalu mendukungnya di segala hal adalah anugerah tersendiri bagi bocah kecil itu. Joi berjanji pada dirinya, akan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang itu hingga kelak ia dewasa.
Pesawat kini telah mendarat dengan sempurna, Jovan membewa Joi dan Zyrra menuju hotel milik keluarga Argantara yang akan mereka tempati untuk beberapa hari kedepannya. Mereka nampak seperti keluarga kecil yang bahagia.
Para staf dan Manager hotel yang mengetahui akan kedatangan pemilik hotelpun menyambut mereka di depan lobi hotel.
"Selamat datang Tuan, Nyonya. Maaf apakah kalian akan menempati satu kamar tidur?" Tanya Manager hotel itu pada Zyrra dan Jovan.
"Ia" ucap Jovan sedangkan "Tidak!" Ucap Zyrra bersamaan, membuat Manager hotel itu merasa kebingungan.
"Maaf Tuan, Nyonya lalu apakah kalian akan satu kamar?" Manager hotel itu kembali bertanya. Dan lagi-lagi jawaban yang diberikan oleh keduanya berbeda dalam waktu bersamaan.
__ADS_1
Zyrra dan Jovan saling pandang sebelum akhirnya Jovan memutuskan untuk menyuruh Manager tadi menyimpan satu kamar dengan dua ranjang. Mereka kini melangkah menuju lift dan di dalam sana Zyrra memulai perdebatan dengan Jovan.
"Di sini tidak ada Kakek, kenapa kita masih harus satu kamar?"
"Di sini memang tidak ada Kakek, tapi orang kepercayaannya ada di mana-mana."
Zyrra terdiam, penjelasan Jovan ada benarnya. Tapi dia tahu betul Tuan Bima tidak akan mempermasalahkan hal itu, selama Jovan jauh dari Bella. Sayangnya hal itu hanya dia dan Tuan Bima yang mengetahuinya, jadi kini Zyrra hanya bisa menghembuskan nafas beratnya.
Tiba di lantai yang mereka tuju, ketiga orang itu memasuki kamar mereka. Ruangan yang memiliki dua ranjang dan fasilitas lainnya seperti televisi, kulas dan lainnya itu adalah kamar terluas di hotel ini. Hanya beberapa orang saja yang bisa menempati kamar itu.
Zyrra lalu mengajak Joi untuk membersihkan diri sebelum mereka makan malam. Dengan telaten Zyrra membantu Joi untuk mandi, mengenakan pakaian dan segala rutinitas setelah mandi.
Jovan yang memperhatikan setiap tindakan dan ucapan Zyrra pada bocah kecil itu teringat akan masa kecilnya dulu. Di mana sang Mamahlah yang membantunya menyiapkan segala keperluan sebelum dan sesudah ia mandi. Sayangnya hal itu kini hanya tinggal kenangan manis dimasa kecil Jovan. Ia harus kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya sedari usianya masih muda. Tapi setidaknya sang Mamah kini masih bisa ia lihat walaupun, di Rumah Sakit Jiwa.
"Om, Joi udah mandi. Om gak mandi? Kata Kak Zyrra harus mandi dulu sebelum makan, biar gak bau." Ucap Joi sambil memegang telapak tangan Jovan. Perbuatan Joi membuat Jovan tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum dan mengangguk pada bocah lelaki itu.
"Permisi, bolehkah saya mengambil foto kalian untuk dijadikan cover majalah keluarga?" Tanya seorang wanita muda pada Zyrra dan Jovan. Keduanya saling menatap, lalu Zyrra pun menanyakan alasan mengapa harus mereka yang di jadikan cover majalah itu.
"Maaf bila kehadiran saya mengganggu waktu kalian, tapi saya sangat tertarik dengan keharmonisan keluarga kalian." Tutur fotografer majalah keluarga itu.
'Eh nih orang kelilipan gajah kali ya? Harmonis dari mana coba? Ngobrol aja enggak' Batin Zyrra, ia benar-benar bingung dari segi mana orang ini melihat keharmonisan di antara mereka. Sedangkan dia dan Jovan bahkan tidak saling berbicara satu sama lain.
Sementara Zyrra sibuk dengan pemikirannya Jovan justru menyetujui fotografer itu untuk mengambil gambar mereka bertiga. Hal itu tentu saja membuat sang fotografer wanita sangat senang.
__ADS_1
Beberapa angel pun diambilnya,mulai dari Zyrra yang menyuapi Joi, hingga kecupan di pipi yang dilakukan oleh Jovan. Tentu saja semua itu adalah perintah dari sang fotografer.
"Baiklah, terimakasih atas waktunya. Bisa saya minta nomor yang bisa dihubungi untuk melakukan pembayaran?"
"Tidak, tidak perlu. Kami sangat senang melakukannya." Ucap Jovan yang membuat Zyrra melayangkan tatapan horor ke arahnya. "Apa?" tanya Jovan yang melihat tatapan itu.
"Kami sangat senang melakukannya." Ucap Zyrra sambil mencibirkan bibirnya sambil meniru gaya Jovan berbicara.
Hal itu sontak saja membuat Jovan tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menyangka, Zyrra yang selama ini berwajah dingin bisa menunjukkan ekspresi konyol seperti itu. Walaupun maksud Zyrra adalah mengejek ucapannya namun, itu tidak membuat Jovan marah sama sekali.
Zyrra yang melihat Jovan tertawa malah makin emosi. Dengan wajah datar dan tatapan tajam ia memandang Jovan yang masih tertawa sambil memegangi perutnya.
Jovan perlahan menghentikan tawanya saat menyadari ekspresi menyeramkan dari Zyrra. Ia berdehem untuk menghilangkan kecanggungan yang dirasakannya. Saat Jovan berhenti tertawa, kini giliran Joi yang tertawa melihat ekspresi kedua orang dewasa di hadapannya itu.
"Om dan Kakak benar-benar lucu, tapi apakah boleh Joi ke pantai? Joi sangat ingin berenang di sana." Ucap Joi sambil menunjuk ke arah pantai.
"Emangnya Joi bisa berenang?" Tanya Jovan "Kalau Joi bisa berenang, Om akan izinkan Joi untuk kesana. Tapi bila tidak bisa, maka lebih baik jangan. Berbahaya!" Sambungnya lagi sambil memegang pundak pria kecil itu.
Joi tertunduk sedih dan menggeleng, ia memang tidak pernah belajar berenang sebab, tidak ada orang yang mengajarinya. Zyrra yang melihat kesedihan di wajah Joi mencoba untuk menghiburnya.
"Enggak apa-apa, nanti kita kesana sama-sama. Tapi enggak usah berenang ya? Kita main air aja, ok?"
Joi mendongakkan kepalanya dan kembali tersenyum, dia segera menganggukkan kepala. Ponsel di saku celana Jovan bergetar, seseorang dari anak Perusahaan menelfonnya dan memberitahukan bila rapat siap di lakukan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
***Jangan lupa untuk selalu like dan favoritnya ya...😙😙😙***