
"Zyrra!! Sayang, kamu dimana?"
Baru saja Jovan ingin pergi ke dapur, wanita itu telah lebih dulu kelurahan dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.
Bulir bening yang menetes dari ujung rambut wanita itu, menambah kesan seksi pada diri Zyrra. Jovan bahkan sampai menelan ludahnya kasar. Matanya tak mampu berkedip memandang wajah Zyrra yang kian hari nampak makin cantik di matanya. Bahkan otaknya serasa beku, Jovan tidak ingat lagi dengan tujuan awalnya mencari sang istri itu. Hanya naluri kejantanannya lah yang terus menuntunnya untuk mendekati wanita itu.
"Kenapa?" Tanya Zyrra yang mendengar suara Jovan memanggil namanya.
"Kamu sangat cantik," bisik Jovan, tepat di wajah Zyrra. Perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya untuk m3lum4t b1bir ranum wanita itu. Namun, belum sempat Jovan mencicipi manis madu bibir milik istrinya itu, Zyrra lebih dulu menghindar dan bergegas ke ruang ganti.
Hormon Jovan yang sudah kepalang naik pun tak merelakan kepergian Zyrra begitu saja. Jovan menangkap pinggang ramping istrinya itu dan mengangkat tubuhnya ke atas ranjang.
"Kamu apaan sih? Lepas, aku mau pake baju."
"Nanti aja, temenin aku main sebentar." Ucap Jovan dengan suara serak, ia tak mampu lagi menahan darahnya yang bergejolak. Dengan beringas Jovan melancarkan aksinya tanpa ada perbincangan di antara keduanya lagi.
Tubuh Zyrra yang semula segar setelah habis mandi, kini di penuhi dengan keringat akibat ulah Jovan yang tiba-tiba mengajaknya ke surga dunia. Perlakuan lembut tiap kali mengajaknya berc1nt4, membuat Zyrra tak dapat menolak. Ia hanya bisa pasrah dan menikmati setiap permainan yang disuguhkan oleh pria itu.
Suhu kamar yang hangat kini menjadi panas dan di penuhi dengan suara d3c4p4n serta d3sah4n dari kedua insan yang tengah bergulat. Mereka saling menyerang dan membalikkan keadaan. Terkadang Jovan yang menjadi pemimpin permainan, terkadang juga Zyrra lah yang menguasai lapangan. Hingga mereka sampai ke titik pelepasan dan mengakhiri pergulatan panas keduanya.
Zyrra roboh di atas tubuh Jovan dengan nafas terengah dan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Begitu pula dengan Jovan yang tidak sadar sejak kapan istrinya itu membalikan posisi mereka hingga kini ia yang berada di b4w4h. Jovan memeluk tubuh Zyrra dan membaringkan ke sisinya.
"Kamu makin nakal ya sekarang? Belajar dari mana gaya semacam tadi?"
Blush..
Wajah Zyrra merona seketika tatkala Jovan menanyainya seperti itu. Zyrra menyembunyikan wajah merahnya ke dada bidang milik Jovan.
__ADS_1
Zyrra sendiri pun tidak sadar dengan apa yang ia lakukan hingga bisa seliar itu saat tengah melakukan hubung4n 1nt1m bersama Jovan. Ia hanya menuruti nalurinya yang ingin mengurangi pening di kepalanya dan segera mencapai p3lep4san mereka.
Melihat Zyrra yang menelusupkan wajahnya, Jovan tau bila istrinya itu tengah malu saat ini.
"Tak apa, aku malah suka. Aku jadi makin tergila-gila padamu Zyrra Azasya."
"Kamu tadi mencariku ada apa?"
Zyrra sengaja mengalihkan pembicaraan untuk menghilangkan rasa canggung pada dirinya.
"Tidak apa, kita bicarakan besok pagi saja."
Jovan yang semula ingin memberitahukan keadaan Joi yang sudah siuman kepada Zyrra pun kembali di urungkannya. Sebab waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ia takut Zyrra akan mengajaknya ke rumah sakit dan tidak mau pulang karena ingin menemani bocah kecil itu.
...****************...
Di rumah sakit, Joi yang di temani oleh Bella dan juga Jonan tengah menikmati makan malam bersama. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.
"Apa itu Tante?"
"Apa yang akan Joi lakukan kalau ketemu sama Ibu kandung Joi suatu saat nanti?"
Joi terdiam mendengar pertanyaan dari wanita cantik di hadapannya itu. Ia terlihat sangat murung dan menundukkan kepalanya.
"Maaf kalau pertanyaan Tante,"
"Joi mau tanya, kenapa dia buang Joi. Apa dia ga sayang sama Joi? Atau seperti yang teman-teman Joi bilang, kalo Joi ini anak pembawa sial, jadi Ibu tidak menginginkan Joi?"
__ADS_1
Hati Ibu mana yang tidak merasa sakit mendengar putranya mengatakan hal yang semenyakitkan itu. Terlebih lagi Bella belum mengakui dirinya sebagai Ibu kandung dari Joi. Hatinya makin teriris, namun sekuat tenaga Bella menahan air matanya.
"A..apakah Joi, tidak membenci I..Ibu?" Tanya Bella dengan suara serak dan putus-putus.
"Tidak. Nenek Salam pernah bilng, apapun alasan Ibu membuang Joi, Joi harus tetap berterima kasih karena sudah mau membawa Joi ke dunia ini dan bertemu dengan Mamah Zyrra."
Kini Bella tak mampu lagi menahan isak tangisny, air matanya pecah kala bocah pria kecil itu menyebut wanita lain sebagai Ibunya. Padahal ia kini berada tepat di hadapan Joi dan bisa dengan mudah mengatakan bola ia adalah Ibu yang sudah melahirkannya.
'Maafkan Mamah sayang, Mamah tidak bisa menjagamu hingga kita akhirnya terpisah. Tapi satu hal yang harus kamu tau, Mamah tidak pernah membuangmu. Mamah selalu mencari kamu sayang, Mamah janji, mulai saat ini Mamah akan selalu ada bersamamu. Tolong beri sedikit waktu kami untuk Mamah agar bisa mengungkapkan semua ini.' Lirih Bella dalam hati.
"Kenapa Tante Bella nangis? Kata Mamah Zyrra,kita ga boleh cengeng. Kita harus kuat, biar tetap ganteng. Tapi karena Tante Bella perempuan, jadi kata-katanya di ubah jadi biar tetep cantik."
Ucapan Joi membuat Bella tertawa, ia memeluk tubuh anak itu dengan erat sembari menghujaninya dengan banyak kecupan. Jonan tersenyum melihat kedua orang di hadapannya itu. Ada rasa bahagia yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata oleh Jonan saat ini. Ia tak tau pasti alasannya, tapi dalam dada Jonan seperti ada ratusan bahkan ribuan kupu-kupu yang beterbangan.
Setelah Joi tertidur, Jonan mengantarkan Bella kembali ke apartenennya. Sebab besok wanita itu harus terbang ke Singapura untuk melakukan fashion show beberapa hari.
"Apa kamu yakin ga papa jaga Joi sendirian?"
"Ga papa, toh ada perawat yang ikut jaga di sana juga."
"Kalo gitu aku masuk dulu, by Jo." Bella berbalik dan ingin masuk ke apartemennya namun Jonan menahan kepergian wanita itu.
"Apakah aku ada kesempatan untuk memilikimu?"
Pertanyaan dari Jonan membuat Bella terpaku, jauh di dalam lubuh hatinya, Bella masih mencintai Jovan, tapi ia juga ingin memberikan kesempatan pada Jonan agar ia bisa terus bersama dengan putra mereka. Jadi, Bella mengambil nafas dalam dan tersenyum pada Jonan seraya memberikan anggukan.
Dan bagaikan memenangkan sebuah jekpot besar, Jonan benar-benar bahagia saat ini. Setelah bertahun-tahun menanti, akhirnya ia dapat kesempatan untuk bersama dengan wanita yang dicintainya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan lupa tekan like, komen dan Votnya ya...