
Saat di dalam mobil berdua, Zyrra mulai angkat bicara. "Bagaimana sekarang?"
"Apakah kita punya pilihan lain?" Tanya Jovan tanpa menoleh dan terus fokus mengemudi. Zyrra terdiam sejenak kemudian menatap Jovan sesaat.
"Ada, tapi entah mereka akan setuju atau tidak."
"Apa?"
"Kita tetap bisa mengikuti kemauan mereka dengan mengadakan pesta pernikahan mewah namun, dengan mengusung tema pesta topeng."
Jovan tertawa sinis mendengar ucapan Zyrra "Lalu apa bedanya? Semua orang tetap akan mengetahui tentang pernikahan ini."
"Kau benar, tapi setidaknya mereka tidak mengenali siapa orang yang menikah denganmu."
Lama tidak ada suara yang terdengar, kedua orang yang berada dalam satu mobil itu terdiam dengan fikirannya masing-masing.
"Baiklah aku setuju. Nanti biar ku bicarakan hal ini pada Tante Mona." Ucap Jovan yang akhirnya menyetujui ide dari Zyrra.
Setibanya mereka di Apartemen, Zyrra langsung meninggalkan mobil Jovan tanpa berbasa basi lagi dengan pria itu. Begitupun Jovan, setelah Zyrra turun pria itu langsung kembali menjalankan mobilnya dan meninggalkan area apartemen.
Saat telah kembali ke kediaman Argantara, Jovan langsung menuju kamarnya. Saat ia akan pergi mandi ponsel yang ia letakkan di atas nakas berdering. Jovan menggapai ponsel itu dan menerima panggilan tersebut.
"Hai sayang, apa kabar?" Ucap seorang wanita disebrang sana yang melakukan panggilan pada Jovan tadi.
"Hai," Balas Jovan dengan nada yang terdengar menggantung.
Walaupun Bella berada jauh dari Jovan namun, ia tau kekasihnya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Mereka telah bersama selama bertahun-tahun, jadi wanita itu sangat hafal dengan nada bicara Jovan yang sedang mengalami kesulitan dan menyembunyikan itu darinya.
"Hei ada apa? ceritakan padaku, mungkin aku bisa membantumu."
"Bella, apakah kau percaya padaku?"
"Tentu saja, kau adalah kekasihku. Bagai mana mungkin aku tidak mempercayaimu?"
Jovan sedikit lega mendengar jawaban dari kekasihnya, namun ia ragu untuk mengatakan yang sejujurnya. Ia takut, Bella akan marah pada keputusan yang telah diambilnya secara sepihak. Dengan nafas berat, Jovan akhirnya mencoba berterus terang.
"Bella, dua hari lagi aku akan menikah."
__ADS_1
"A..apa? apa kau sedang bercanda? Jovan ini sungguh tidak lucu." Suara gadis itu terdengar bergetar. Jovan tau ini pasti tidak akan mudah namun, ia tetap harus menjelaskannya.
"Tidak, aku benar-benar serius kali ini. Kakek memintaku untuk segera menikah dan mengancam akan mencabut fasilitas untuk Mamah bila sampai minggu ini aku tidak segera melangsungkan pernikahan."
Tak ada jawaban dari Bella, wanita itu hanya terdiam dan suara isakkanlah yang terdengar di ponsel.
"Sayang, percayalah! aku sangat mencintai kamu. Pernikahan ini hanya untuk sementara, bila Kakek telah memberikan hak waris sepenuhnya padaku, maka aku dan dia akan bercerai. Percayalah padaku."
"Aku...aku tidak tahu lagi harus bagai mana, aku hanya bisa berharap kau tidak akan meninggalkanku."
"Percayalah, aku akan selalu setia padamu."
Jovan terus mencoba meyakinkan Bella bahwa ia tidak akan meninggalkan wanita itu. Hingga akhirnya wanita itu pun mempercayai ucapan Jovan.
"Apakah kau akan datang? Aku akan menjemputmu ke bandara bila kau pulang."
"Tidak, aku tidak akan sanggup melihatmu bersanding dengan wanita lain, walau itu hanya sekedar sandiwara." Ucapan Bella sungguh menyayat hati Jovan. Sebenarnya lelaki itupun tidak menginginkan dirinya bersanding dengan wanita lain, selain Bella. Namun apalah daya, ia tak memiliki pilihan lain. Andaikan Bella tidak terlahir di keluarga Vandof atau andaikan saja dulu tidak ada perselisihan antara keluarga Argantara dan keluarga Vandof, mungkin kini ia telah bersanding dengan kekasihnya itu. Sayangnya, itu hanyalah sebuah perandaian, sebuah angan yang harus dikuburnya sementara waktu. Paling tidak, hingga ia telah menguasai Argantara Grup sepenuhnya.
...****************...
Pagi hari menyapa, namun kali ini jauh berbeda dari hari sebelumnya. Pagi ini, hujan turun dengan derasnya. Membasahi aspal dan pepohonan, menghilangkan sedikit folusi udara kota yang dipenuhi dengan mobil-mobil serta kendaraan lain.
Akhirnya setelah beberapa menit berlalu sebuah masakan pun siap si santap. Telur dadar dan tumis capcay adalah menu sarapannya pagi ini, dengan cepat ia melahap makanan itu kemudian membereskan piring kotor dan mencucinya di westafel.
Setelah pekerjaan rumah selesai, Zyrra memutuskan untuk pergi ke Supermarket terdekat dan membeli beberapa bahan makanan untuk mengisi kulkasnya. Tanpa diduga ia bertemu dengan Arya, pemuda yang pernah menolongnya waktu itu di halte.
"Hai kamu Zyrra kan?" Tanya pemuda itu yang lebih dulu melihat Zyrra kemudian menghampirinya.
Zyrra tak langsung menjawab, ia menatap pria yang menyapanya ini. Dia masih mencoba mengingat apakah dia pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya atau tidak. Dan akhirnya setelah beberapa saat terdiam, wanita itu mampu mengingat siapa Arya.
"Oh hai, kamu Arya yang waktu itu kan?"
"Aku fikir Nona Zyrra sudah melupakanku."
Zyrra tersenyum ramah dan kembali melangkah menuju tempat sayuran.
"Mana mungkin aku melupakan orang yang sudah menolongku. Oh ya, apa yang kamu lakukan disini?"
__ADS_1
"Aku juga membeli beberapa keperluan. Hanya saja karena aku tidak bisa masak, jadi aku membeli beberapa makanan instan."
"Emh, kalau begitu, bagaiman bila sebagai ucapan terimakasih karna kamu sudah menolongku waktu itu, aku yang mentraktirmu makan?"
"Oh benarkah? Aku akan sangat senang kalaubegitu."
Setelah selesai berbelanja kedua orang itu menuju sebuah cafe didekat sana. Karena cuaca yang masih hujan lebat, membuat kedua orang itupun tidak bisa mencari tempat lain.
Saat keduanya tengah asik menikmati santapan mereka sambil mengobrol, datanglah seorang pria dan duduk di bangku kosong antara mereka.
"Hai Zyrra, siapa dia? Kalian nampak akrab." Zyrra menatap malas pada Jonan yang berlagak dekat dengannya.
"Selamat siang Tuan Jonan, maaf saya keluar tanpa izin. Perkenalkan dia Arya, teman lama saya." Ucap Zyrra pada Jonan menggunakan bahasa formal. Ia tidak mau membuat Arya mengetahui siapa dirinya, dan apa hubungannya dengan keluarga Argantara.
Jonan mengangguki ucapan Zyrra dan memanggil pelayan untuk memesan sesuatu.
"Boleh aku gabung?" Tanyanya pada Zyrra dan kemudian menatap Arya.
Kedua orang itu hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Jonan. Zyrra kembali menikmati makanan di mejanya tanpa memperdulikan kehadiran Jonan saat ini. Arya yang mengira Zyrra merasa sungkan pada Jonan, memulai pembicaraan santai.
"Maaf Tuan Jonan, di bagian apakah Zyrra berkerja saat ini?"
Jovan melirik sekilas ke arah Zyrra, kemudian menjawab dengan santai.
"Pelayan pribadiku."
Mendengar jawaban sembrono yang diucapkan Jonan, Zyrra tersedak makanan yang sedang di kunyahnya.
"Uhuk...uhuk..!"
Arya kemudian mengulurkan segelas jus pada Zyrra, dengan tatapan tidak suka Zyrra memandang ke arah Jonan.
"Apakah kau baik-baik saja?"
Tanpa bersuara, Zyrra hanya mengangguk kemudian kembali melanjutkan makannya.
Bersambung...
__ADS_1
***jangan lupa untuk selalu like dan favoritkan ya...😄
kalau bisa kasih vote nya juga😆😆***