
"Kenapa kau membawa wanita itu ke rumah ini?" Tanya Tuan Bima tanpa memandang ke arah Jonan dan Bella.
"Aku akan menikahinya."
Tuan Bima membanting koran di tangannya ke atas meja, wajah tuanya memerah karena amarah. Ia tak percaya, setelah Cucu sulungnya, kini Cucu keduanya pun jatuh cinta pada gadis keturunan Vandov itu. Tuan Bima telah mencoba berbagai cara untuk memisahkan Jovan dan Bella dulu. Hingga ia pun meminta Zyrra untuk menjauhkan Jovan dari wanita keturunan Vandov itu.
Tuan Bima semula senang saat mengetahui akhirnya Jovan benar-benar mencintai Zyrra dan akan segera memberinya seorang Cicit. Dan berpikir pernikahan antara Jovan dan Zyrra, adalah keputusan yang tepat lalu akan membuat keluarga mereka aman dari keturunan Vandov itu. Namun ia tak menyangka, kini Cucu Keduanya lah yang kembali membawa masuk wanita itu ke dalam rumahnya.
"Apakah kalian sangat menginginkan Kakek kalian ini mati?! Sampai-sampai kalian secara bergantian dan sengaja membawa wanita ini dan mengatakan ingin menikahinya!"
"Kakek, bukan begitu. Tapi Jonan benar-benar mencintai Bella dan hanya ingin menikah dengannya Kek,"
Tuan Bima sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya, pandangannya seakan berputar. Tubuh tua Tuan Bima tersungkur ke lantai, tepat di hadapan Jonan dan Bella. Kedua orang itu membawa Tuan Bima kembali ke kamarnya dan memanggilkan Dokter pribadi keluarga itu.
Tak lama Radit pun tiba dan memeriksa keadaan Tuan Bima. Untungnya pria tua itu baik-baik saja dan hanya mengalami tekanan darah tinggi. Walaupun masih dalam batas aman, namun juga dapat berbahaya bila sering dipicu seperti sekarang. Dokter Radit menyarankan untuk tidak menambah tekanan pada Tuan Bima dalam beberapa hari ke depan. Hal itu tentu saja membuat Jonan dan Bella amat bingung, bagaimana cara untuk mendapatkan restu dari Tuan Bima bila tidak mengatakannya? Namun bila terus mengungkit galau ini, itu juga akan sangat berbahaya bagi kesehatan Tuan Bima sendiri.
"Lebih baik kita tunda saja dulu tentang pernikahan ini. Aku tidak ingin kondisi Kakek Bima menjadi makin parah." Ucap Bella lirih. Ia sudah pasrah akan keadaan yang harus dia hadapi kedepannya. Mengubur keinginannya untuk terus bersama Joi, putra kandungnya dan menikah dengan Hendrix Bramasta.
"Tidak, kita pasti masih memiliki cara lain. Aku akan menceritakan hal ini pada Jovan, lalu meminta solusi padanya." Ucap Jonan sembari menggenggam erat jemari Bella. Ia sudah bertekad untuk menikahi wanita itu, jadi tidak akan ada yang bisa menghalangi keinginannya, sekalipun itu adalah sang Kakek sendiri.
"Apa kamu yakin? Maksudku-" Ucapan Bella tertahan. Ia tau tak semestinya mengungkit hubungannya dan Jovan dulu. Tapi ia juga ragu, akankah pria itu mengizinkan Adiknya menikah dengan mantan kekasihnya?
"Kamu tenang aja, Jovan pasti bakal ngerti." Jawab Jonan yang sadar akan keraguan Bella.
__ADS_1
ππππππππππππ
"Tentu saja Nyonya Jovando Argantara."
Ucapan Jovan barusan membuat wajah Zyrra bersemu merah. Ia tak menyangka pria yang dulu begitu cuek dan dingin terhadapnya itu, kini dapat bermulut manis, hingga dirinya pun tak dapat berkutik atas setiap perlakuan Jovan.
Tok..tok..
Bunyi ketukan di pintu membuat Zyrra menjaga jarak dari Jovan. Wanita itu menggeser tempat duduknya agak sedikit menjauh.
"Permisi Tuan, ini adalah cemilan yang Anda minta." Ucap sekretaris Jovan dan meletakkan bingkisan di tangannya ke atas meja. Jovan hanya mengangguk, tanpa harus diperintah lagi, Denis pun keluar dari ruangan itu.
"Makanlah, aku sudah meminta Denis mencarikan makanan sehat untukmu."
"Kenapa? Ga suka?"
Zyrra menggeleng lemah, kini matanya mulai berkaca-kaca dan hampir meneteskan bulir kristal. Melihat itu, Jovan langsung mendekat dan memegangi kedua pipi Zyrra.
"Terus kamu maunya apa? Jangan nangis dong,"
"Aku pengen makan buah seger,"
"Ok, kalo gitu biar aku-" Belum selesai Jovan berbicara, Zyrra sudah lebih dulu menyela sembari menghentakkan kaki.
__ADS_1
"Engga! Aku mau pilih sendiri."
"Tapi sayang, kerjaanku masih banyak. Gimana aku bisa nemenin kamu?"
"Kan aku udah bilang, sen-di-ri!" Ucap Zyrra dengan penuh penegasan. Ia bukanlah wanita manja yang kemana-mana harus selalu ditemani. Zyrra susah terbiasa hidup mandiri bahkan jauh sebelum ia mengenal Jovan. Jadi baginya ada atau tidaknya pria itu, tak akan berpengaruh sama sekali.
"Kamu yakin mau sendiri?"
"Apa aku terlihat seperti wanita manja?"
"Ya, kalau dulu memang tidak. Tapi sekarang, aku sendiri bingung mau jawab apa. Kamu mandiri, tapi juga cengeng. Terkadang kamu dewasa, dan sekaligus juga manja, tapi aku suka." Jelas Jovan sambil mengecup singkat bibir Zyrra yang selalu menggoda bagi Jovan. Zyrra yang merasa ucapan Jovan itu memang ada benarnya, tak dapat berkata apa-apa lagi.
"Ok kalau kamu mau sendiri, aku akan minta sama Pak Edy buat jemput kamu. Tapi, sebelum jam makan siang, aku maut kamu sudah kembali lagi ke sini."
BERSAMBUNG....
βββhalo readers...
tekan like dan jadikan favorit biar bisa dapat notifikasi bila ada bab baru...
jangan lupa kunjungi novelku yang lain juga ya...
dijamin ga kalah seru deh!
__ADS_1
judulnya cold hearted a girl,what's wrong with my bos dan taruhan berhadiah cintaβββ