Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
DENIS MESUM


__ADS_3

Pagi hari saat Zyrra membuka mata, ia mendapati Jovan yang telah menyiapkan sarapan untuknya.


"Ganti bajumu dengan ini" Jovan menyerahkan paper bag pada Zyrra "Setelah sarapan kita akan pulang."


Zyrra membuka paper bag itu dan melihat sweater dan celana super tebal. Wanita itu membulatkan matanya dan menatap ke arah Jovan.


"Apa ini? Kau mau buat aku mati kepanasan?"


"Kau alergi terhadap udara dingin. Jadi itu adalah pilihan yang tepat untukmu."


"Oh, come on Mr. Jovando Argantara. Ini siang dan bukannya malam, kita juga tinggal di Indonesia yang memiliki cuaca panas. Dengan baju ini aku akan menjadi ikan kukus, kau tau?"


Jovan memikirkan ucapan Zyrra, wanita itu ada benarnya juga. Cuaca di luar juga kelihatannya sangat terik, jadi tidak mungkin dia akan kedinginan.


Jovan meraih ponselnya dan menghubungi Denis.


"Carikan baju kerja wanita, tapi ingat harus serba panjang!"


Zyrra dibuat ternganga oleh ucapan Jovan, bisa-bisanya pria itu menyuruh seseorang pria mencarikan pakaian untuknya.


'Yang bener aja? Trus dalamanku gimana?' Batin Zyrra, ingin ia menanyakan hal itu tapi rasanya sangat memalukan bila membahas masalah pribadi pada seorang pria. Ya, walaupun pria itu adalah suaminya sendiri.


Toh pernikahan mereka hanya sebatas di atas kertas belaka dan tidak melibatkan hati atau pun fisik. Jadi Zyrra pikir tidak perlu membahas masalah itu.


Tak beberapa lama suara ponsel Jovan bergetar, pria itu lantas melihat siapa yang melakukan panggilan padanya dan itu adalah asistennya Denis.


"Maaf Tuan, lalu bagaimana dengan pakaian dalam Nyonya, apakah perlu saya belikan juga?"


"Ya."


"Tapi saya tidak tahu ukuran tubuh Nyonya Tuan."


Mendengar hal itu Jovan pun berpikir, 'Jangankan kamu, aku saja yang sudah lama menjadi suaminya masih belum tau ukuran pakaian dalamnya. Tapi aku rasa itu cukup besar' ucapnya dalam hati dan menatap ke arah dada Zyrra.


Melihat tatapan mata Jovan tertuju ke arah area terlarang miliknya, Zyrra lalu menyilangkan tangannya ke depan dada. Jovan berdehem dan memalingkan kembali wajahnya.


"Kau cari saja yang ukurannya cukup besar, atau kau bisa bertanya pada penjual pakaian dalam di sana." Ucap Jovan dan mengakhiri panggilan tersebut.


Sementara di tempat lain, Denis yang mendapat perintah dari atasannya untuk mencarikan pakaian dalam untuk wanita merasa sangat tertekan.


Bukan hanya karena merasa malau, tapi juga karena tidak mengerti apapun mengenai hal semacam itu. Ingin rasanya dia bertanya pada sang penjual seperti yang disarankan oleh atasannya, tapi itu juga akan menjatuhkan harga dirinya sebagai laki-laki dewasa.


Hingga tanpa sengaja Denis melihat kehadiran Lola di tempat itu. Ia mengenali wajah Lola saat melihat wanita itu bersama istri atasannya, ketika di hotel beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Permisi!"


Lola yang sedang memilih baju langsung menoleh dan mendapati orang penting di perusahaan tempatnya bekerja tengah menyapanya saat ini.


"Ya, Tuan Denis? Ada yang bisa saya bantu?"


"Em, ya, aku memerlukan sedikit bantuanmu."


Lola dapat melihat telinga Denis yang memerah, sepertinya pria itu mengalami masalah yang cukup sulit sampai-sampai harus meminta bantuannya.


"Dan apakah itu? Mungkin saya bisa membantu Anda."


Denis nampak berpikir sejenak lalu mulai bercerita mengenai istri Jovan yang berada di rumah sakit dan memerlukan baju ganti. Tapi dia tidak menyebutkan nama dari istri atasannya itu.


Lola dengan senang hati membantu Denis mencarikan pakaian dalam untuk istri atasan mereka.


"Maaf Tuan, kira kira berapa ukuran dada Nyonya?"


Denis tidak tahu harus menjawab apa, tadi bahkan saat dia bertanya pada Jovan langsung, pria itu malah menyuruhnya untuk bertanya pada penjual pakaian dalam.


"Aku juga tidak tau, tapi kira-kira ukurannya sama dengan yang biasa di kenakan oleh Manajer Zyrra."


'Astaga! Aku gak nyangka ternyata orang ini punya otak yang mesum! Bisa-bisanya dia menjadikan Zyrra sebagai tolak ukur. Jadi selama ini dia sudah memperhatikan tubuh Zyrra?' Batin Lola dan menatap jijik pada Denis.


"Kenapa kamu menatapku sperti itu?"


"Ukuran yang dimiliki Zyrra sepertinya lumayan besar. Aku rasa ukuran 36 D ini sudah tepat."


Setelah memilihkan pakaian dalam itu, Lola lalu menyerahkannya pada Denis. Pria itu pun membawa pakaian dalam dan pakaian ganti untuk Zyrra ke tempat kasir dan melakukan pembayaran.


Sang kasir menatap nakal pada Denis dan tersenyum-senyum pada pria tampan di hadapannya itu.


"Karena kamu sudah membantuku, kamu bebas membeli apapun yang kamu inginkan. Aku akan membayarnya untukmu."


Lola menatap Denis dengan penuh binar di matanya. "Benarkah? Apakah kau yakin Tuan?"


"Ya, ini kartu kreditku. Setelah kau berbelanja kau bisa kembalikan padaku besok."


Denis menyerahkan kartu ATM yang sebenarnya milik Jovan pada Lola. Pria itu kemudian meninggalkan toko pakaian wanita itu lalu bergegas ke rumah sakit tempat Zyrra berada.


Sesampainya Denis di sana, ia lalu menyerahkan paper bag yang berisikan pakaian dalam dan baju ganti untuk Zyrra pada Jovan.


"Ok, thank you Denis. Kau memang selalu bisa ku andalkan seperti biasanya." Puji Jovan, sambil menepuk pundakΒ  kokoh Denis.

__ADS_1


Ia lalu melangkah ke sisi ranjang Zyrra dan menyerahkan paper bag itu. Tanpa membuka paper bag terlebih dahulu, Zyrra langsung membawanya ke dalam kamar mandi.


"Wah...! Ukurannya pas! Bagaimana Denis bisa tau ukuranku?" Tanya Zyrra pada dirinya sendiri.


Di luar dugaan, ternyata Denis adalah orang yang sangat hebat. Pria itu bisa mengetahui sesuatu yang bahkan tidak pernah di lihatnya secara langsung.


Zyrra keluar dari dalam toilet dan mengenakan pakaian yang dipilihkan oleh asisten kepercayaan suaminya itu.


Mereka bertiga pergi ke perusahaan bersamaan dan dengan mobil yang sama pula. Hal itu membuat semua mata menatap berbeda pada Zyrra pagi ini.


"Maaf Tuan, tapi kita harus segera ke bandara dan menuju kota X."


Jovan mengangguk pada Denis dam keluar dari mobilnya sebentar, ia pergi menghampiri Zyrra.


"Jangan pulang terlalu larut, Pak Edi akan menjemputmu sore ini. Dan satu lagi, jauhi pria yang bernama Putu itu, aku belum selesai berurusan dengannya." Ucap Jovan dan berlalu meninggalkan Zyrra.


'Idih, kenapa sih itu orang, udah kaya orang yang lagi cemburu aja, aneh!' Batin Zyrra sambil memasuki Perusahaan.


Belum ada lima menit setelah Jovan membicarakan masalah Putu, kini pria itu telah berdiri di lobi dan menunggu kedatangan Zyrra.


Senyum sumringahnya terpancar, kala melihat kedatangan wanita cantik yang dianggapnya sebagai kekasih.


(Prof Author: ya... walau dia sendiri aja sih yang mikir gitu...😞)


"Sayang!"


"Astagfirullahalazim! Itu orang apa penampakan sih?" Ucap Zyrra dengan suara pelan, lebih mirip disebut desisan.


"Kamu gak papa kan? Aku denger dari karyawan lain katanya kamu di dorong seseorang hingga tercebur ke dalam kolam renang semalam."


"Tolong jaga professionalisme antara kita, selama di kantor."


"Baiklah..." ucap putu terrunduk, Zyrra ingin berlalu tapi kembali dihadang oleh pria berkacamata itu.


"Kamu belum jawab pertanyaan ku!"


Zyrra menjawab malas "Ia, aku baik-baik aja. Sekarang kembali ke meja kerja kamu dan lekaslah bekerja."


Putu tersenyum dan mengangguk antusias, pria itu berjalan menuju lift bersama dengan Zyrra. Kabar mengenai hubungan antara keduanya telah menyebar di perusahaan.


Tapi Zyrra malas menggubris hal itu, setidaknya itu bisa menutupi masalah pagi ini karena satu mobil dengan CEO perusahaan dan asisten kepercayaannya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


...^^^Nantikan episode selanjutnya ya...^^^...


***Eits! jangan lupa untuk like dan favoritnya ya....πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰***


__ADS_2