Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
HARI PERNIKAHAN


__ADS_3

Di sebuah gedung nan megah, ribuan orang tengah menghadiri sebuah acara besar yang diselenggarakan oleh kalangan atas. Tamu undangan yang menghadiri tidak hanya dari dalam negri, tapi juga berasal dari berbagai Negara.


Sesuai dengan tema yang diusung, acara pernikahan kali ini tergolong unik. Semua orang yang menghadiri pesta kali ini diharuskan mengenakan topeng, tidak terkecuali pengantin itu sendiri. Bahkan wartawan yang meliput acara tersebutpun diwajibkan untuk mengenakan topeng.


Acara pertama adalah ijab kabul, yang tidak disiarkan oleh media dan hanya dihadiri oleh keluarga terdekat. Jovan sudah duduk manis diseberang penghulu yang akan menikahkannya bersama Zyrra. Ijab Qabul itu dihadiri oleh Tuan Bima sebagai saksi dari Jovan, dan Bobi sebagai wali dari Zyrra, serta beberapa kerabat dekat dari Jovan dan Zyrra.


Sekian lama menunggu, akhirnya mempelai wanita dengan kebaya berwarna peach yang nampak menyatu dengan warna kulitnya tiba. Make up yang terpoles natural di wajah Zyrra menambah kecantikan yang dimiliki oleh wanita itu. Semua mata tertuju pada Zyrra yang nampak sangat cantik dengan balutan kebaya, bahkan Jovan hampir tidak bisa berkedip melihat calon istri dadakannya.


Tuan Bima dan Jonan tersenyum-senyum melihat kebodohan Jovan. Jonan yang duduk di belakangnya kemudian mendekat dan berbisik


"Cantik ya? Dia akan jadi bini lo, tenang aja malam ini lo bisa puas puasin natap dia, bahkan tanpa sehelai benang pun."


Gluk...!


Jovan menelan ludahnya kasar, membayangkan tubuh Zyrra yang tanpa apapun di atas ranjangnya, mendesahkan namanya dan mengerang karenanya. 'Tidak,aku tidak akan menyentuhnya. Wanita yang ku cintai adalah Bella. Hanya dia yang akan menemani tidurku dan hari-hari ku hingga menua kelak.' Mencoba sadar Jovan menggelengkan kepalanya untuk mengusir fikiran kotor dari otaknya.


Zyrra tiba dan duduk di sisi Jovan, Penghulu pun mulai mengucapkan akat nikah. Bobi yang menjadi wali dari Zyrra menyerahkan tugasnya pada Penghulu.


"Ananda Jovando Argantara, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan wanita bernama Zyrra Azasya, binti Robin Azasya, dengan mas kawin emas seberat lima ratus gram dan seperangkat alat solat dibayar tunai!"


"Saya trima, nikah dan kawinnya Zyrra Azasya, binti Robin Azasya dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"


"Bagai mana saksi? Sah?"


"Sah...!" Ucap semua orang serempak. Penghulu kemudian mengucapkan Do'a dan mempersilahkan untuk Jovan mengecup kening Zyrra.


Degh..degh..!


Darah Jovan berdesir, kala bibirnya menyentuh kening wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya. Namun, ia terus menepis rasa yang tidak semestinya ada. Logikanya terus ia paksakan untuk menolak kehadiran Zyrra dalam hatinya.

__ADS_1


Kini adalah giliran mereka untuk menghadiri acara resepsi di mana semua orang telah menunggu kehadiran kedua mempelai. Dengan gaun pengantin berwarna Blue diamond selaras dengan jas yang di kenakan Jovan yang memiliki wara sama. Mereka benar-benar menjadi Raja dan Ratu malam ini.


Banyak para tamu yang memberikan hadiah, serta ucapan selamat untuk kedua mempelai. Tapi tanpa kedua mempelai itu ketahui, dari kejauhan sepasang mata memperhatikan keduanya.


Dengan air mata yang membanjiri pipi, dan dada yang begitu sesak orang itu berlari meninggalkan tempat acara menuju ke dalam mobilnya. Sesampainya di sana, ia melepaskan topeng dan menampilkan wajah cantiknya yang dibasahi oleh air mata.


"Tuhan, ku mohon tolong jaga hati Jovan untukku. Jangan biarkan dia berpaling dengan orang yang telah menjadi istrinya kini. Aku tahu aku bukanlah orang yang baik, tapi aku benar-benar tidak sanggup bila harus kehilangannya." Pinta Bella lirih pada Tuhan. Berharap kekasihnya masih akan tetap setia padanya.


Wanita mana yang akan mampu melihat kekasinya bersanding dengan wanita lain. Namun, Bella tidak bisa berbuat apapun, ia pun terkekang oleh masa lalu yang membuatnya tidak mampu melawan keadaan.


Malam acara telah berakhir, semua tamu undangan pun telah kembali. Zyrra dan Jovan kini sudah berada di dalam kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh WO. Suasana sangat terasa canggung di antara Jovan dan Zyrra yang berada dalam satu kamar.


Zyrra memilih untuk lebih dulu membersihkan diri dan menuju kamar mandi. Namun, saat ia ingin melepaskan gaun yang di kenakannya, tiba-tiba resletingnya macet. Berulangkali ia mencoba untuk menariknya tapi tetap gagal, hingga mau tidak mau ia keluar dan menemui Jovan.


"Kenapa belum mandi?" Tanya Jovan yang melihat Zyrra kembali masih dengan gaun pengantinnya. "Jangan bilang kamu mau tidur menggunakan gau itu?"


"Bantu aku!" ucapnya lalu membalikan tubuh, memperlihatkan punggungnya yang terbuka sebagian. Jovan masih tidak mengerti akan maksut Zyrra, matanya justru berfokus pada tempat lain dan membuat otaknya kembali berfntasi.


Merasakan tidak ada pergerakan dari Jovan, Zyrra memutar pandangannya ke arah Jovan. Ia melihat pria itu justru memandangi punggunnya tanpa berkedip, membuat pipinya memanas seketika.


"Hei! Aku memintamu untuk membantuku, resletingku tersangkut!"


Tersadar dari hayalannya Jovan membantu Zyrra untuk menurunkan resleting gaunnya. "Su..sudah!" Ucapnya dan Zyrra pun kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Sepeninggalan Zyrra, Jovan mengerang frustasi pada dirinya sendiri. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa ia selalu memiliki fikiran kotor bila bersama Zyrra. Padahal waktu dia dan Bella bersama dulu, ia tidak pernah merasakan hal semacam itu.


Zyrra yang telah selesai mandi keluar dengan menggunakan piama yang membalut tubuhnya. Jovan mencoba menghindari bertatapan dengan Zyrra. Dengan cepat, ia berlari kedalam kamar mandi dan mandi dengan air dingin. Berharap dapat menghilngkan fikiran kotor yang melekat di otaknya.


Saat Jovan keluar dari kamar mandi, ia melihat Zyrra yang telah tertidur di atas sofa panjang. Dengan menggunakan piama tidur wanita itu telah menuju alam mimpi. Wajah cantik yang dimiliki Zyrra terlihat menggemaskan saat dia sedang tertidur seperti sekarang.

__ADS_1


Jovan kemudian segera memutuskan pandangannya dari Zyrra, ia tidak ingin kembali memiliki fikiran kotor tentang wanita itu. Merebahkan diri di atas ranjang besar, Jovan mencoba untuk memejamkan mata dan bergegas tidur.


Baru saja matanya terpejam, ia merasakan sebuah pergerakan di sisi ranjangnya. Dengan enggan Jovan membuka mata, samar-samar dilihatnya sekelebat bayangan seorang wanita duduk disisinya.


Perlahan bayangan itu nampak makin jelas, wanita yang duduk di sisinya adalah Zyrra. Tanpa mengenakan apapun, wanita itu mendekat ke arahnya. Mulai mengecupi tubuhnya dari bagian bibir, leher, dada, perut dan berakhir di Jovan junior.


Seakan terhipnotis, Jovan tidak berdaya dibuatnya. Ia hanya mampu pasrah mendapati serangan demi serangan liar dari Zyrra. Malam panas pun mereka lalui bersama, hingga Jovan hampir menuju puncak saat bunyi ponsel membangunkannya.


'Brengs*k! Ternyata itu hanya mimpi.' Kesal Jovan dalan hati, Ia melihat ke bagian juniornya yang sudah berdiri tegak. Jovan banar-banar kesal akan mimpi yang didapatinya malam ini. Ia sangat tidak mengerti, mengapa ia bisa sampai bermimpi tentang dirinya bersama Zyrra.


Apa lagi di dalam mimpi itu, ia malah menikmati setiap hal yang dilakukan oleh wanita itu. Jovan memandang ke arah sofa dimana Zyrra tertidur semalam. Wanita itu masih meringkuk dengan posisi yang sama dan piama yang terlihat rapi. Pertanda kejadian yang dialaminya semalam benar-benar hanya sebuah mimpi belaka.


Entah mengapa, mengetahui hal itu Jovan justru makin kesal. Ia segera meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Rupanya asisten pribadinyalah yang melakukan panggilan. Jovan melihat jam yang tertera di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 06.25 pagi.


Bangkit dari ranjangnya, Jovan menuju balkon. Di sana ia langsung menelfon Denis sang asisten pribadi.


"Ada apa?"


"Maaf Tuan, saya mengganggu waktu beristirahat Tuan, tapi ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan langsung pada Tuan."


"Baiklah. Tunggu aku di Perusahaan." Ucap Jovan lalu mengakhiri panggilannya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera menuju Perusahaan.


Zyrra terbangun dari tidurnya dan melihat ranjang yang di tempati oleh Jovan telah kosong. Ia melangkah menuju kamar mandi dan balkon namun tak kunjung jua menemukan keberadaan orang itu.


"Akhirnya, bisa santai lagi." Ucap Zyrra kemudia memanggil layanan kamar menggunakan telpon di kamar hotel itu.


BERSAMBUNG....


***Makasih untuk dukungan kalian,ini benar-benar berharga untukku😊***

__ADS_1


__ADS_2