Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
KENAPA?


__ADS_3

"Apa bagusnya perempuan murahan itu? Aku seribu kali lebih baik dari dia! Aku cinta sama kamu dari sejak kita kecil. Aku jauh lebih pantas bersanding sama kamu ketimbang perempuan itu, Jovan!"


Plak..!


Satu tamparan keras bersarang di pipi Shava. Jovan benar-benar sudah tidak dapat mengendalikan emosinya lagi mendengar istrinya di hina oleh orang lain. Bagi Jovan, Zyrra adalah permata berharganya. Tidak akan dia biarkan siapapun mencoba mengotorinya, meskipun itu adalah keluarganya sendiri.


"Sekali lagi kamu bicara kasar tentang Zyrra, jangan salahkan aku tidak memandang lagi persahabatan kita dan mengusir kamu dari sini." Hardik Jovan, lalu meninggalkan Shava yang berdiri termangu di sana.


"Hanya karena perempuan gas jelas itu, kamu tega nampar aku, Van? Apa aku sama sekali ga kamu anggap selama ini? Apa cintaku masih ga cukup untuk buka mata hati kamu?" Lirih Shava dan berlalu meninggalkan kediaman Argantara.


"Ngapain kamu di sini? Kenapa ga kamu temenin aja perempuan tadi?" Tanya Zyrra dengan tetap melihat layar ponselnya. Jovan dengan langkah tenang berjalan mendekat ke arah istrinya.


"Namanya Shava. Dia teman ku dan Jonan sejak kecil. Sikapnya emang gitu, main dia ya?"


"Kenapa harus minta maaf? Kan dia ga salah. Toh kalian juga temen dari kecil kan? Jadi, walau kalian sering tidur bareng juga ga masalah."


"Kok kamu ngomongnya gitu? Sayang, aku dan Shava bener-bener cuma temenan aja kok. Kamu gak perlu mikir yang macem-macem ya? Aku ga akan mungkin bisa tertarik sama perempuan lain lagi. Cuma kamu selamanya yang ada di dalam hati dan pikiran aku."

__ADS_1


Blush. Wajah Zyrra seketika merona mendengar ucapan manis dari Jovan. Meskipun harinya masih kesal karena ulah perempuan tadi, tapi Zyrra tidak dapat menyembunyikan rasa senang saat Jovan berkata manis padanya.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


"Mom, kapan Mamah pulang? Joi kangen,"


"Sabar ya sayang, tunggu Mamah Zyrra sehat dulu, baru bisa pulang."


Percakapan antara Ibu dan anak itu terjadi di atas tempat tidur milik Joi. Bella sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk putra kecilnya. Pembicaraan keduanya tanpa sengaja didengar oleh Jonan. Jonan tau, Bella akan merasa sakit setiap kali Joi menanyakan kepulangan Zyrra.


"Joi, gimana kalo sebenarnya Papah dan Mommy Bella adalah orang tua kandung kamu?"


"Joi ga perduli siapa orang tua kandung Joi. Bagi Joi, Mamah Zyrra dan Papah Jovan adalah satu-satunya orang tua untuk Joi."


"Jadi, kamu ga akan peduli sama kedua orang tua kandungmu sendiri, dan lebih memilih orang lain?" Tanya Jonan lagi yang membuat Bella kian emosi.


"Cukup Jo! Kamu kenapa sih?"

__ADS_1


"Biar, Bel. Biar Joi tau kalo kita ini adalah kedua orang tua kandungnya."


"Jadi, Mommy dan Papah Jonan benar-benar orang tua kandung Joi?" Tanya bocah kecil itu dengan mata berkaca-kaca. Meskipun dia berkata tidak akan perduli siapa orang tua kandungnya, namun saat mengetahui bila ternyata selama ini dia sudah berada di tengah mereka, tetap membuat hati pria kecil itu terluka.


"Ia sayang, Mommy adalah Mommy kandung kamu. Dan Papah Jonan adalah Papah kandung kamu. Maaf, kami ga kasih tau Joi. Mommy mau nunggu kamu besar dulu baru ceritain ini semua."


"Kenapa kalian buang Joi? Apa salah Joi? Kenapa kalian lahirkan Joi, kalau kalian juga tidak mau Joi hadir?"


Pertanyaan yang menyesakkan itu membuat Bella dan Jonan tesentak. Tak pernah mereka bayangkan bila bocah kecil itu akan memiliki pertanyaan yang begitu menusuk.


"Engga sayang. Kami ga pernah buang, Joi. Mommy dan Papah kamu sayang banget sama Joi."


"Bohong! Kalo kalian sayang Joi, kenapa Nenek Salma yang merawat Joi? Kenapa kalian ga ada saat Joi kelaparan? Kenapa kalian ga ada saat Joi takut? Kenapa?!"


Bella dan Jonan terdiam, tenggorokan mereka seakan dicekik oleh pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari bibir mungil putra mereka. Ingin rasanya Bella menjelaskan semuanya pada Joi, tapi tenggorokannya seakan terhalang batu besar. Bella tidak dapat berbicara sepatah katapun.


"Joi benci Mommy dan Papah Jonan!" Joi bersembunyi di balik selimut tebalnya. Bocah laki-laki itu menangis sendirian di balik selimut itu. Manahan rasa sakit yang selama ini telah ia coba musnahkan.

__ADS_1


Jonan membawa Bella untuk keluar dari kamar putra mereka dulu. Jonan ingin memberikan waktu untuk Joi agar lebih tenang sebelum mereka menjelaskan peristiwa yang sebenarnya.


BERSAMBUNG…


__ADS_2