Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
KEMARAHAN TUAN BIMA


__ADS_3

Zyrra terus mengikuti langkah kecil seorang anak di depannya, hingga tiba di sebuah rumah kumuh yang terbuat dari kardus. Sang bocah pengamen itu pun berlari masuk dan berteriak memanggil neneknya.


"Nenek...! Lihat siapa yang datang!"


Zyrra melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut dan melihat seorang wanita tua yang menuju arahnya dengan merangkak. Kelihatannya Nenek tua itu sudah tidak dapat berjalan lagi. Dengan senyum ramah Nenek itu menyambut kedatangan Zyrra di tempatnya yang kumuh.


"Eh ada tamu, masuk Neng! Ada apa ya?"


Zyrra tersenyum dan mengangguk pada sang Nenek "Saya kebetulan melihat dia di lampu merah. Saya sangat penasaran, siapakah orang yang telah membesarkan anak sehebat dia," tunjuknya pada bocah pengamen tadi.


"Namanya Joi Neng, empat tahun lalu Nenek menemukannya di atas tempat sampah dengan secarik kertas di sampingnya. Dalam surat itu, hanya menuliskan nama dari sang bayi dan tidak ada keterangan lain."


Hati Zyrra seperti tercubit mendengar penuturan dari Nenek itu tentang masa lalu si bocah pengamen yang bernama Joi. Tak pernah disangkanya, bila anak yang baru berusia empat tahun sudah harus berjuang mencari nafkah, untuk menghidupi dirinya dan sang nenek.


"Apakah nenek sudah pernah melaporkan hal ini pada kepolisian?"


"Sudah, tapi hingga kini masih belum ada titik terang siapa orang tua kandung Joi."


...****************...


Sementara Zyrra asik mengobrol di tempat Joi dan sang Nenek, Jovan yang tengah berkerja didatangi oleh sang Kakek yang terlihat emosi.


"Dimana Zyrra? Tadi Kakek sudah ke apartemennya, tetapi dia tidak ada di sana."


Jovan yang juga tidak mengetahui di mana keberadaan wanita itu menjawab dengan tergagap.


"Bu..bukankah dia ada di sana? Tadi aku sudah mengantarkannya kembali."


"Apakah kau fikir Kakekmu ini sudah buta?! Cepat cari Zyrra, bila sampai terjadi hal yang tidak diinginkan maka kamu akan menanggung akibatnya!"


Usai berkata seperti itu Tuan Bima kemudian meninggalkan ruangan milik Jovan. Tak lama kemudian Denis muncul dengan membawa beberapa file di tangannya. Jovan memberikan tatapan membunuh pada asistennya itu.


"Dimana wanita itu sekarang?"

__ADS_1


Denis yang mendapati pertanyaan itu hanya mampu tertunduk dan menggeleng lemah. Jovan yang melihatnya kemudian membalikkan punggunya sambil bergumam "Mati aku!" Dan kembali menghadap ke arah Denis.


"Bukankah sudah ku perintahkan untuk mengantarnya pulang bila kalian telah selesai memilih gaun pengantin? Lalu bagaimana mungkin kau tidak mengetahui keberadaannya sekarang?!"


"Maaf Tuan, tapi tadi Nona Zyrra memaksa untuk turun di jalan dan mengatakan bila anda tidak akan perduli kemana dia pergi."


Jovan mskin geram mendengar jawaban dari asistennya ini. Lalu melemparkan semua berkas yang berada di atas mejanya kearah Dimas.


"Cari dia sampai dapat! Bila kamu tak menemukannya, jangan pernah menginjakkan kaki ke perusahaan ini lagi!" Titahnya pada Dimas dan segera diangguki oleh pemuda itu.


Setelah seharian berbincang dengan Joi dan Neneknya, Zyrra akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke Apartemen. Sayangnya, wanita itu tidak tahu arah jalan pulang, dan tidak memiliki uang sepeserpun di dalam dompetnya. Zyrra terus berjalan hingga tiba di sebuah terminal bus. Memutuskan untuk bertanya pada seseorang arah jalan pulang. Kebetulan di sana berdiri seorang pemuda yang terlihat tengah menunggu kedatangan bus.


"Maaf, apakah kamu tau arah jalan menuju Apartenen S? Kira-kira berapa lama lagi baru bisa tiba di sana?"


"Kalau kau berjalan kaki, mungkin perlu waktu tiga sampai empat jam. Tapi bila kamu mau, kamu bisa menaiki bus yang akan aku tumpangi nanti, atau memesan sebuah taksi." Tutur pria itu memberikan penjelasan pada Zyrra.


Zyrra menghela nafas panjang, untuk berjalan kembali ke apartemen dia tak masalah. Hanya saja wanita itu tidak mengetahui arah jalan ke sana. Ingin naik bus atau memesan taksipun, ia tidak memiliki uang saat ini.


"Aku tau kamu tidak punya uang kan? Tapi lucunya, kamu bisa tinggal di tempat semewah itu namun, tidak memiliki uang hanya untuk sekedar membayar bus?" Ucap lelaki itu sambil terkejeh kecil. Zyrra hanya mampu tersenyum kecut mendengar ucapan pria yang sudah membantunya.


"Aku Arya" Ucap pemuda itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan pada Zyrra. Dengan senyum manis Zyrra menggapai uluran tangan itu kemudian menyebutkan namanya.


"Aku Zyrra, terima kasih kamu sudah menolongku. Kebaikanmu akan ku balas suatu saat nanti."


Bis pun tiba di halte selanjutnya, Zyrra dan pria yang membantunya turun. Saat Zyrra ingin meninggalkan halte bis pria tadi menahan kepergian Zyrra.


"Tunggu! bolehkah aku minta nomor ponselmu saja sebagai tanda terima kasih?"


"Maaf, bukan aku tidak mau memberikannya. Tapi ponselku sedang rusak, jadi percumah saja ku berikan itu padamu."


Pria yang bernama Ayra tadi mengira itu hanyalah alasana Zyrra untuk menolak memberikan nomor ponsel padanya. Dengan senyuman terpaksa Pria itu mengangguk dan membiarkan Zyrra pergi meninggalkanya.


Saat tiba dalam Apartemen, Zyrra sangat terkejut mendapati Jovan yang tengah menatapnya horor. 'Ih kenapa nih orang? Liat aku udah kaya liat maling' Batin Zyrra.

__ADS_1


"Dari mana saja kamu?! Apakah kamu pikir kamu begitu penting hingga bisa membuatku mencarimu seharian ini?!"


'Lah siapa juga yang nyuruh kamu nyari aku, dasar aneh!' Lagi-lagi Zyrra hanya bisa menggerutu dalam hati.


Jovan kemudian melangkah mendekati Zyrra dan menggandengnya menuju lift. Saat berada dalam lift Jovan teringat kembali akan kejadian malam itu. Di mana saat dirinya yang begitu lemah, dikuatkan oleh seorang wanita yang akan menjadi istri kontraknya kelak.


Tanpa ada pembicaraan dari keduanya, sepanjang perjalan hingga tiba di kediaman Argantara. Jovan masih saja menggenggam jemari Zyrra dan membawa wanita itu masuk untuk menemui sang Kakek.


Di ruang makan semua orang nampak berkumpul, mereka tengah menikmati makan malamnya dengan khidmat tanpa ada percakapan sedikitpun. Usai makan malam Tuan Bima membawa Jovan dan Zyrra menuju ruang baca. Di sana telah terdapat sebuah kotak berukuran besar bertengger di atas meja.


Tuan Bima lalu menyuruh Zyrra untuk membuka kotak itu dan memilih salah satu yang ada di dalamnya. Mata Zyrra membulat sempurna kala melihat isi kotak. Di dalamnya terdapat beberapa tiket untuk keluar negri dengan fasilitas masing-masing hotel yang bukan main mewahnya.


"Kakek, untuk apa semua ini?" Pertanyaan polos dari mulut Zyrra sontak membuat lelaki tua itu tertawa.


"Tentu saja untuk kalian berbulan madu, itu hadiah pernikahan dari Kakek untuk kalian. Pilihlah tempat mana yang ingin kalian kunjungi."


Zyrra dan Jovan tersenyum canggung menerima kotak itu. Mereka saling bertatapan untuk sesaat kemudian memilih asal salah satu tiket yang tersedia di sana.


"Kakek tidak perlu buru-buru untuk ini semua. Toh pernikahan kami pun belum terlaksana." Ucap Jovan.


"Tentu saja harus disiapkan dari sekarang! Dan masalah pernikahan sampai mana sudah persiapan yang kalian lakukan? Lalu bagai mana dengan tamu undangan? Kalau gedungnya?"


Jovan terdiam mendengar rentetan pertanyaan dari Tuan Bima, dia tidak tau harus menjawab apa. Hingga Zyrrapun angkat bicara "Kami sudah memutuskan untuk melangsungkan pernikahan secara sederhana dan dihadiri oleh beberapa orang keluarga saja."


Nafas Jovan seakan tercekat mendengar jawaban Zyrra. Dapat dilihatnya raut wajah sang Kakek yang sudah terlihat bingung.


'Apakah wanita ini akan mengungkapkan semuanya?! Dasar bodoh!' Batin Jovan yang kesal atas ucapan Zyrra yang di anggap sembrono olehnya.


BERSAMBUNG...


...^^^Nantikan episode selanjutnya ya...^^^...


***Eits! jangan lupa untuk like dan favoritnya ya....😉😉😉***

__ADS_1


__ADS_2