
Seperti janjinya pada Joi, Jovan dan Zyrra menemani putra angkatnya itu pergi ke sekolah dan menghadiri rapat para wali murid. Di sana kedua orang tua muda itu bertemu dengan banyak Ibu-ibu dan putra putri mereka masing-masing. Dalam rapat itu disebutkan bila akan ada acara perpisahan untuk para murid yang akan lulus di tahun ini.
"Terimakasih atas waktu dari Bapak dan Ibu sekalian untuk menghadiri rapat kali ini. Seperti yang kita tau, bila tahun ini putra dan putri Bapak dan Ibu sekalian akan menyelesaikan tahun ajarannya di TK Tunas Bangsa ini. Dan kami di sini merencanakan untuk melakukan sebuah pesta perpisahan kecil sebagai tanda kenang-kenangan."
Kepala sekolah tempat Joi bersekolah terus memberitahukan rangkaian-rangkaian acara yang akan berlangsung bulan depan. Banyak kegiatan yang terdapat dalam acara tersebut. Membuat Jovan khawatir akan kehamilan istrinya yang tergolong masih muda.
"Yang, kamu yakin bakal hadir ke acara ini nanti? Gimana kalo kamu kecape'an?"
"Ga usah lebay deh! Itu kan cuma lomba-lomba kecil aja. Dan lagi, aku ga mau melewatkan momen yang terjadi sekali seumur hidup ini."
Wajah serius dari Zyrra membuat Jovan tidak dapat bersuara lagi. Kini ia hanya diam dan menyimak kembali penuturan dari kepala sekolah tanpa dapat protes.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Di sebuah apartemen yang di tempati seorang wanita muda, tengah terjadi suatu pertengkaran. Jonan rupanya kembali ke apartemen milik Bella dan menanyakan tentang kelanjutan hubungan mereka. Meskipun Jonan amatlah kecewa akan kebohongan Bella, tapi ia pun tidak dapat hidup tanpa wanita yang dicintainya itu.
"Aku mau kita segera menikah dan membawa Joi bersama kita. Kita mulai semuanya dari awal bertiga."
__ADS_1
"Kamu tau itu ga mungkin, Bel. Kamu lihat sendiri, gimana sayangnya Zyrra dan Jovan ke Joi. Begitupun dengan Joi yang sudah menganggap mereka seperti orang tua kandungnya."
Perkataan Jonan memanglah benar. Hal itu membuat hati Bella kembali kian teriris. Andaikan saja saat itu dia tidak menyembunyikan kehamilannya dari Jonan, tentunya Joi akan bahagia hidup bersama mereka sebagai keluarga yang utuh.
"Ini semua emang salah aku. Aku yang egois dan bikin anakku menjalani kesengsaraan. Aku Mamah yang ga berguna!"
Bella menangis tersedu dalam pelukan Jonan. Hati pria mana yang tidak merasa hancur melihat wanita tercintanya menyalahkan dirinya sendiri. Apalagi ini bukan mutlak kesalahan Bella seorang. Dalam masalah ini, ia pun dapat bagian atas masa lalu Joi.
"Gimana kalo kita temui Zyrra. Aku yakin dia akan mengerti kalo kita jelaskan semuanya dari awal." Tawar Jonan sembari mengusap air mata di pipi kekasihnya. Mendengar hal itu, Bella tersenyum dan mengangguk antusias.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Sesampainya mereka di perusahaan, sekertaris Jovan telah menyiapkan berbagai aneka makanan serta buah-buahan di atas meja dalam ruangan sang CEO. Mereka telah hafal betul dengan kesukaan Zyrra semasa hamil. Jadi, tanpa menunggu perintah, Denis telah meminta pada staf perusahaan untuk menyiapkan semuanya.
"Kamu duduk dulu di sini, aku masih ada rapat. Mungkin agak lama, jadi kalo kamu bosan, bisa minta seseorang buat temenin kamu ngobrol dulu."
Zyrra tersenyum lembut dan mengangguk, ia kemudian meraih sebungkus makanan ringan dan mulai menikmatinya. Sepeninggalan Jovan, ruangan itu terasa makin sepi. Perlahan, rasa bosan pun mulai merayapi Zyrra. Jadi, untuk mengusir rasa bosan itu, Zyrra memanggil sahabatnya Lola, untuk datang ke ruangan itu dan menemaninya mengobrol.
__ADS_1
Tut...tut..tut...
"Ya, Nyonya Argantara? Ada angin apakah hingga membuatmu menghubungi diriku ini?"
"Apaan sih? Kamu sibuk ga? Bisa temenin aku sebentar? Aku bosan, Jovan juga lagi meeting."
"Wah, ini permintaan, atau perintah? Kok kesannya kaya maksa banget?"
"Intinya mau kan?"
"Baiklah, demi sahabatku yang sedang hamil muda ini, apapun akan aku penuhi." Jawab Lola dengan nada kembali mengejek. Panggilan berakhir, Lola pun bergegas menuju ruangan CEO.
Pertemanannya dengan istri sang CEO tentu saja membuat karir Lola kian membaik. Begitu juga dengan para pegawai kantor yang makin segan terhadap dirinya. Meskipun tak jarang ia pun menyadari bila masih ada orang-orang yang merasa iri akan dirinya. Namun bagi Lola, itu bukan masalah besar. Selama ia benar-benar melakukan pekerjaannya dengan baik, cibiran-cibiran itu dapat ia tepis dengan mudah.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Hari ini kita akan mengadakan pertemuan dengan orang dari perusahaan XXC. Kebetulan perusahaan ini tengah naik daun dengan keunggulan bahan bangunan yang begitu disukai oleh khalayak ramai. Saya rasa, dengan kerja sama ini, perusahaan kita akan menjadi makin maju." Tutur kepala divisi pemasaran pada Jovan.
__ADS_1
Satu persatu, orang-orang di ruangan rapat itu mengajukan pemikiran mereka masing-masing. Ada yang setuju dengan pendapat kepala divisi pemasaran, ada juga yang masih ragu dengan usulan itu. Sebab, biar bagaimana pun, perusahaan XXC adalah perusahaan baru yang masih belum dapat dipercaya oleh perusahaan raksasa seperti Argantara grup.
BERSAMBUNG....