Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
JOVAN MEMBUJUK ZYRRA


__ADS_3

Zyrra terbangun dari tidur nyenyaknya dan mendapati Jovan tengah berbaring di sisinya. Ia menatap wajah Jovan lekat-lekat dan baru menyadari bila mata, hidung, rahang bahkan seluruh tubuh pria itu telah membuat hatinya sedikit bergetar.


'Apa ini karena aku sedang hamil, atau-' Zyrra tersadar dari lamunannya kala mata Jovan mulai terbuka. Buru-buru Zyrra kembali menutup mata dan pura-pura masih tidur.


'Kenapa aku harus pura-pura tidur lagi sih?' Batin Zyrra lagi.


"Marahnya jangan lama-lama ya? Aku ga sanggup kalo kamu terus diamin aku," Bisik Jovan lembut lalu mengecup kening Zyrra.


Ucapan Jovan yang terdengar langsung oleh Zyrra sukses membuat jantung wanita itu berdebar kencang.


'Astaga! Ini beneran dia yang ucapin? Dan jantungku, kenapa deg-degan gini sih? Kalo sampe kedengaran sama dia kan malu,'


Untung saja Jovan segera bangkit ke kamar mandi, memberikan Zyrra waktu untuk bisa bernafas lega. Dengan memegangi dadanya yang masih berdebar, Zyrra duduk bersandar sambil menetralkan keterkejutan atas ucapan Jovan barusan. Hingga sebuah suara membuatnya kembali terkejut.


"Kau sudah bangun? Apakah ingin makan sesuatu?"


'Ya Allah...baru aja jantungku kembali anteng, eh dia muncul lagi. Bikin kaget aja!' Gumam Zyrra dalam hati, yang kembali merasakan debaran dalam dadanya. Namun kini bukan karena ucapan Jovan, melainkan karena terkejut.


"Aku ga lapar."


"Tapi kamu tadi makannya cuman sedikit."


"Terus?"


"Nanti kamu bisa sakit Zyrra ku sayang..."


Degh..!


Lagi-lagi ucapan Jovan membuat jantung Zyrra berdebar hebat. Tak perlu menggunakan rayuan maut, hanya dengan sedikit kata manis saja sudah mampu membuat jantungnya bagaikan ikut lari maraton.

__ADS_1


"Ya udah kalo kamu ga lapar, aku harus kembali ke perusahaan. Kamu mau ikut atau istirahat di rumah aja?" Mungkin Jovan hanya basa-basi saat bertanya demikian, namun berbeda dengan Zyrra. Ia bagai mendapat angin segar dari surga, segera Zyrra bangkit dari ranjangnya dan menyusul Jovan.


Tak dapat Zyrra jelaskan mengapa ia sangat ingin ikut Jovan kembali ke perusahaan. Yang pasti, tawaran Jovan mampu membuat hatinya yang semula masih jengkel atas kejadian di rumah makan siang tadi menjadi amat bahagia.


"Aku ikut!"


Dua kata yang keluar dari mulut Zyrra barusan sontak saja membuat Jovan sangat terkejut. Jovan tersenyum lebar dan mengulurkan tangan pada Zyrra. Dengan bahagianya Jovan menggenggam erat jemari istrinya seakan itu.


"Tumben kamu mau ikut?"


"Kenapa? Ga boleh? Oh, jangan bilang kalo kamu mau berduaan sama si Nona Wen itu ya?" Ucap Zyrra kembali merajuk dan akan meninggalkan Jovan untuk kembali ke dalam kamar.


"Eh, engga sayang. Kamu kok mikirnya gitu sih? Aku malah seneng kamu mau ikut aku. Udah, jangan marah lagi ya?" Jovan mencoba membujuk Zyrra, sebelum wanita itu benar-benar kembali merajuk. Dan untungnya, bujukan Jovan kali ini berhasil dengan mudah wanita itu mengangguki permintaannya. Keduanya berjalan menuju mobil sambil bergandengan tangan. Tuan Bima yang baru saja keluar dari ruang baca tersenyum melihat kedua Cucunya yang sudah kembali akur.


šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–


"Tuan, ini adalah perjanjian kontrak yang harus di tanda tangani oleh Tuan Jovan langsung."


"Serahkan dokumen itu pada sekretaris CEO Jovan. Dia belum bisa kembali ke perusahaan untuk saat ini." Jelas Jonan pada salah satu karyawan di perusahaan itu. Namun belum sempat sang karyawan menuju ke tempat sekretaris Jovan berada, orang yang mereka perbincangkan tadi sudah tiba.


"Ada apa ini?"


"Tuan, ini adalah dokumen mengenai kontrak dengan perusahaan dari kota N yang harus segera Anda tanda tangani."


Jovan menerima dokumen itu dan membawa keruangannya bersama Zyrra. Sesampainya mereka di ruangan itu, tiba-tiba sebuah aroma yang tidak asing tercium oleh Zyrra.


''Wangi ini...?"


Jovan yang semula akan duduk di kursi kebesarannya seketika menoleh saat Zyrra menanyakan mengenai aroma di ruangannya itu. Jovan baru teringat akan beberapa sempel yang di tinggalkan oleh seorang kliennya tempo hari.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu suka? Ini adalah sempel yang akan di pasokan ke setiap hotel kita. Hanya saja aku belum tau aroma mana yang lebih enak, jadi aku memintanya untuk meninggalkan beberapa sempel itu di sini."


"Apakah orang itu bernama Pitto?"


Jovan mengerutkan kening saat mendengar Zyrra menyebutkan nama kliennya itu. Bagaimana mungkin Zyrra tau siapa nama kliennya padahal belum pernah bertemu sama sekali.


"Kamu, mengnelanya?''


'Ternyata benar dia. Aku rasa waktu bersenang-senangmu sudah habis Pitto. Ini adalah kesempatanku untuk merebut semuanya kembali, selangkah demi selangkah.'


"Apakah perusahaan ini sudah bekerja sama dengan pabrik parfum itu?"


Pertanyaan Zyrra kali ini makin membuat Jovan bingung, tak biasanya istrinya itu perduli akan masalah perusahaan.


'Zyrra adalah wanita yang acuh bahkan terkenal dengan sikap tak mau tau. Namun mengapa kali ini dia begitu penasaran mengenai pabrik kecil itu?'


BERSAMBUNG....


...CERITA INI HANYALAH FIKSI SEMATA!!!...


...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT, KARAKTER DAN SEBAGAINYA, ITU HANYALAH KETIDAK SENGAJAAN AUTHOR....


^^^mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga^^^


^^^votenya ya...^^^


^^^Dukungan kalian sangat berarti bagi Author, dan untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan karyaku, aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada kalian...^^^


Iā™”U READER'S...šŸ˜™šŸ˜™.

__ADS_1


__ADS_2