Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
BERKUNJUNG KE RUMAH JOI


__ADS_3

Tak terasa seminggu telah berlalu, Zyrra menikmati hari-harinya di kediaman Argantara. Menyandang statusnya sebagai Nyonya muda di kediaman Argantara namun, tetap menjadi Zyrra Azasya di luar sana. Tidak ada banyak hal yang bisa ia lakukan di rumah besar itu. Segala sesuatunya telah diurus oleh para pengurus rumah tangga yang memiliki tugas masing-masing.


Hanya saja, karena terlalu bosan di dalam rumah sebesar itu, Zyrra memutuskan untuk mengisi waktunya dengan banyak membuat beberapa kue. Almarhum Ibunya dulu selalu membuat kue saat Zyrra masih kecil.


Melihat kedatangan Nyonya rumah di area dapur, membuat para pengurus rumah dan Kepala Koki menjadi pucat pasi. Pasalnya di kediaman Argantara area belakang dan dapur adalah area yang sangat jarang dikunjungi oleh anggota keluarga. Kecuali mereka melakukan suatu kesalahan fatal.


"Selamat siang Nyonya, ada apa hingga Nyonya datang kemari?" Tanya kepala pelayan dengan sopan.


"Tidak apa, aku hanya ingin membuat kue. Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian."


"Maaf Nyonya, kue apa yang Nyonya inginkan? Biar saya coba buatkan." Kini giliran kepala koki yang berbicara.


"Tidak, aku akan membuatnya sendiri."


Ucapan Zyrra membuat semua orang terdiam, kepala koki membantu Zyrra menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue. Dengan cekatan Wanita muda itu mencampurkan bahan-bahan untuk pembuatan kue yang diinginkannya.


'Nyonya muda ini terlihat dingin, tapi aku yakin dia adalah orang yang baik.' Batin kepala pelayan yang diam-diam memperhatikan Zyrra dari kejauhan. Satu setengah jam berlalu, kue yang dibuat Zyrra akhirnya siap. Dengan senyum manis yang merekah di wajahnya, Zyrra membawa kue-kue itu menuju ruang nonton. Di sana ia duduk dan menikmati kue itu sambil menonton acara televisi.


'Hari ini sangat membosankan, aku benar-benar bosan hanya menghabiskan waktu dengan berdiam diri di rumah seperti saat ini.' Batin Zyrra sambil mengunyah makanannya. Ponsel di sakunya bergetar, Zyrra mengambil benda pipih itu lalu menerima panggilan.


"Ya?"


"Ra, hari ini lo harus jelasin semuanya. Tentang hubungan lo sama Tuan Jovan. Dan gue mau, lo ceritain ke gue dari awal sampe akhir tanpa ada yang ke lewat sedikitpun! Gue tunggu lo di cafe xx" Terdengar suara seorang pria dari sebrang sana. Itu adalah panggilan dari sepupunya Bobi yang menagih penjelasan tentang pernikannya bersama Jovan.


"Ok!"


Setelah mengakhiri panggilan Zyrra melangkah menuju dapur. Ia memerintahkan seseorang untuk menyimpan kue buatannya.


Pergi dengan menggunakan taksi online yang di pesannya, Zyrra telah tiba di cafe xx tempat Bobi menunggunya. Memasuki tempat itu, ia mencari-cari orang yang ingin ditemuinya. Akhirnya ia menemukan Bobi yang tengah duduk di meja paling ujung dekat jendela.


"Hai!" Sapa Zyrra, lalu duduk di bangku sebrang pria tampan itu.


"Gak usah basa basi, langsung to the point aja!" Ucap Bobi yang sudah tidak sabar ingin mengetahui alasan Zyrra yang tiba-tiba bisa menikah dengan prmilik perusahaan tempatnya berkerja dulu. Zyrra pun memulai ceritanya dari awal mereka menghadiri pesta waktu itu.

__ADS_1


Bobi yang sudah mendengar keseluruhan cerita dan alasan mengapa wanita itu mau menerima perjanjian pernikahan dengan Jovan, merasa sedikit hawatir. Ia takut bila suatu saat, sepupunya itu akan kembali tersakiti.


"Gue gak tau mau ngomong apa, gue cuman mau yang terbaik aja buat lo." ucap Bobi tulus.


"Thank's Bob, kamu dan Dea selalu mendukungku. Semoga semua ini berjalan sesuai rencana."


Keduanya lalu mengobrol santai di cafe tersebut. Menguapkan rasa rindu di antara keduanya yang memang sudah lumayan lama tidak berkumpul bersama.


"Gimana Dea? Kenapa dia gak datang bareng kamu?"


"Dia sekarang lagi di Kalimantan, makanya gak bisa ikut gue ke sini."


Tak terasa kebersamaan mereka telah menghabiskan waktu lumayan lama. Matahari yang semula berada tepat di atas kepala, kini telah condong ke ufuk barat. Zyrra dan Bobi memutuskan untuk berpisah di cafe itu.


Memanfaatkan waktu bersantainya di luar kediaman Argantara Zyrra mampir ke rumah Joi, si anak pengamen yang pernah di tolongnya dulu. Dengan membawakan beraneka ragam makanan, Zyrra menyambangi rumah kumuh itu.


"Assalamualaikum...."


"Kakak cantik...!" Teriak Joi senang melihat kedatangan Zyrra. "Kakak bawa apa Kak?" Tanyanya lagi melihat bungkusan di tangan wanita muda itu.


"Hai Joi, Kakak bawa banyak makanan. Joi bawa masuk ya!"


"Kenapa repot-repot Neng? Ini terlalu banyak." Ucap Nenek Salma, yang merasa tidak enak pada Zyrra.


"Tidak apa Nek, Alhamdulillah saya baru dapat rezeki, jadi bisa berbagi sama Joi dan Nenek."


Kemudian, Zyrra dan Nenek Salma duduk di atas dipan bambu yang berada didepan rumah, sembari melihat betapa antusiasnya Joi memakan makanan yang dibawakan oleh Zyrra. Mata cantik Zyrra mulai berembun, melihat wajah polos anak laki-laki berusia empat tahun yang sudah harus menjadi tulang punggung keluarga.


Semalang-malangnya dirinya masih jauh lebih beruntung ketimbang bocah pengamen itu. Walaupun ia tidak pernah lagi meresakan kasih sayang dari kedua orang tuanya semenjak berusia sepuluh tahun, tapi setidaknya dia masih pernah merasakan itu. Zyrra juga masih bisa bersekolah dengan tenang tanpa harus memusingkan biaya ataupun makanan yang akan dimakannya.


"Nek, kalau Zyrra boleh tau, sudah berapa lama Nenek tidak bisa berjalan?"


Nenek Salma tersenyum getir akan pertanyaan dari Zyrra, ia mulai menceritakan awal mula kelumpuhan yang terjadi pada kakinya.

__ADS_1


"Jadi Nenek terkena kangker tulang kering stadium akhir dan tidak pernah pergi berobat?"


"Untuk pergi ke rumah sakit akan memerlukan biaya besar Neng. Sedangkan penghasilan Nenek waktu masih bisa berjalan tidak seberapa, ditambah kini Nenek hanya bisa bergantung dengan Joi, karena kaki Nenek sudah tidak bisa di pergunakan lagi."


Zyrra merasa iba sekaligus bangga pada Joi, bocah berusia empat tahun yang tegar menjalani kerasnya kehidupan. Di usianya yang terbilang sangat kecil, harus memikul beban dan tanggung jawab untuk menghidupi dirinya serta sang Nenek.


"Bagaiman kalau kita kerumah sakit saja Nek? Aku akan mencarikan dokter terbaik untuk menyembuhkan kaki Nenek." Ucap Zyrra sambil menggenggam telapak tangan Nenek Salma. Ia berharap dapat melihat Nenek salma sembuh dan terbebas dari penyakit berbahaya yang menggerogoti usia tuanya.


Nenek Salma sangat senang mendengar ajakan dari Zyrra. Namun, ia menggeleng sembari tersenyum


"Tidak perlu Neng, percumah. Toh usia Nenek sudah tidak muda lagi, tinggal menunggu jemputan Gusti Allah saja."


"Nenek jangan bilang begitu, Joi masih butuh Nenek. Zyrra juga ingin melihat Nenek bisa kembali berjalan." Ucap Zyrra mencoba memberikan semangat pada Nenek Salma. Zyrra tahu betul mengapa Nenek Salma berkata seperti itu, dia pasti merasa tidak enak akan biaya yang akan dikeluarkan oleh Zyrra. Namun Zyrra benar-benar tidak perduli akan hal itu, ia sungguh ingin membantu pengobatan Nenek Salma.


"Dari pada Neng Zyrra membuang uang yang susah payah Neng kumpulkan hanya untuk mengobati penyakit Nenek yang sudah pasti tidak akan tersembuhkan, lebih baik Neng Zyrra membantu Nenek untuk menjaga Joi setelah kepergian Nenek kelak."


"Nek, Nenek jangan bilang gitu! Zyrra tau Nenek orang yang kuat, jadi tolong izinkan Zyrra untuk membantu Nenek ya?"


Nenek Salma tersenyum dan mengelus kepala Zyrra lembut kemudian mengangguk. Zyrra sangat senang, akhirnya Nenek Salma mau ikut dengannya ke rumah sakit untuk mengobati sakitnya.


"Tapi tidak hari ini. Ini sudah sore, Neng Zyrra juga pasti sangat lelah. Kita pergi lain kali saja, saat Neng Zyrra memiliki waktu luang lain."


"Baiklah kalau begitu, lain kali saya akan menjemput Nenek. Tapi Nenek harus janji tidak akan menolak ajakan Zyrra lagi."


Nenek Salma kembali tersenyum dan mengangguk. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita sebaik Zyrra. Ia pun berharap bila Zyrra mau mengurus Joi kelak, saat Tuhan tak lagi menghembuskan nafas untuknya.


BERSAMBUNG...


***Hai readers...


Thank's untuk like dan dukungannya ya...


I love you all 😙😙😙***

__ADS_1


__ADS_2