
Setelah memilih baju ganti untuk Jovan, Zyrra kembali ke rumah sakit mengantarkannya. Saat Zyrra tiba di sana, Jovan masih tertidur pulas, wanita itu pun meletakkan baju ganti di atas meja.
Saat Zyrra ingin pergi, sorang suster masuk dan membawa sarapan untuk Jovan.
"Wah, Ibu akhirnya tiba, dari tadi Tuan Jovan tidak ingin menyentuh sarapannya. Dia mengatakan bila masih menunggu istrinya. Apakah Ibu ini adalah istri dari Tuan Jovan?"
Zyrra terkejut akan ucapan dari sang suster, ia tidak menyangka bila Jovan menunggu kedatangannya pagi intadiJovan belum sarapan? Tapi ini kan sudah siang, untuk apa coba dia nunggu aku segala?' Batin Zyrra bertanya.
"I..ia Sus, saya istrinya."
Jovan yang mendengar ada suara dari Zyrra kemudian membuka mata. Dan benar saja, wanita yang di tunggunya sejak pagi tadi akhirnya datang juga.
"Kalau begitu saya serahkan makanan ini untuk Ibu, kebetulan Tuan Jovan juga sepertinya sudah bangun."
Zyrra menoleh dan mendapati Jovan yang sudah mendudukkan dirinya. Dengan senyum canggung, Zyrra menerima nampak berisi makanan itu dan membawanya pada Jovan.
"Kalau begitu saya permisi." Sang suster pun meninggalkan mereka berdua dalam ruangan.
"Kenapa kamu belum sarapan? Ini sudah siang, bagaimana luka di punggungmu bisa cepat sembuh kalau kamu gak bisa jaga kondisi badan kamu sendiri?" Ucap Zyrra sambil mendudukkan bokongnya di sisi Jovan.
"Tanganku sakit bila aku harus makan sendiri."
"Tapi kamunya bisa nyuruh suster buat nyuapin kamu"
"Terus apa gunanya kamu kalau aku nyuruh suster buat urusin aku?"
Penuturan Jovan membuat Zyrra sedikit tercengang, 'Emangnya aku pelayan pribadi kamu?' Dumel Zyrra dalam hati.
"Masih bengong! Aku lapar!"
"A..ah ia, ia.."
Zyrra dengan telaten menyuapi Jovan hingga makanan di dalam nampan tidak bersisa sedikitpun. Zyrra juga membantu menyeka tubuh Jovan dan mengganti pakaian pria itu.
Perlakuan Zyrra yang sangat memperhatikannya, membuat hati Jovan perlahan merasakan kehangatan. Walaupun Jovan tau Zyrra melakukan itu atas permintaan darinya namun, entah mengapa hatinya masih saja merasa amat senang.
"Kamu istirahatlah, aku harus ke perusahaan. Banyak hal yang harus aku urus saat ini." Ucap Zyrra sambil membantu membaringkan tubuh Jovan.
"Masih ada banyak orang lainnya bisa menangis urusan di perusahaan."
"Ya, kau benar! Tapi, aku adalah orang yang kamu tunjuk sebagai pemegang proyek tempo hari."
"Aku gak mau makan makanan rumah sakit lagi besok!"
__ADS_1
"Ok, aku pergi dulu!"
Jovan terdiam, dalam hati ia menutupi kebodohannya. Kini ia tidak dapat lagi mencegah Zyrra pergi meninggalkannya. Jovan hanya dapat melihat punggung wanita itu sebelum Zyrra keluar dari ruang rawat tersebut.
"Sayang!"
"Allahu Akbar!" Ucap Zyrra beristigfar sambil mengelus dadanya, saat melihat Putu tengah berlari ke arahnya.
"Sayang, kamu gak papakan? Orang kantor bilang kamu dan CEO Jovan di serang oleh preman?"
"Ini perusahaan dan bukan tempat mengobrol. Jadi, bila kamu ada waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak bersangkutan dengan pekerjaan, lebih baik kamu kembali ke meja kerjamu."
"Tapi aku kan cuma khawatir sama kamu aja, biar bagaimana pun kamu itu pacar aku." Ucap Putu dengan raut wajah sedih.
"Kamu lihat aku sekarang ada di hadapan kamu kan? Kembali bekerja!"
"Ia, tapi sore ini aku mau ajak kamu buat ketemu sama Mamah aku, dia pengen banget kenal sama kamu."
"Kita lihat nanti."
Zyrra tak pernah berubah, ia selalu saja dingin pada setiap peria. Apa lagi, bila pria itu adalah si Putu, lelaki yang memaksakan kehendaknya untuk menjadi kekasih Zyrra saat ini.
Bukan karena penampilan Putu yang membuat Zyrra makin dingin padanya, tetapi sifat manja pria itulah alasan mengapa Zyrra kian enggan berbicara dengannya.
"Oh, makasih Irene sudah mengingatkan saya."
Zyrra membereskan beberapa map di atas mejanya dan membawa itu menuju ruang rapat.
Dalam perusahaan itu selain dia, Jovan dan Jonan, tidak ada lagi orang yang mengetahui statusnya sebagai istri dari pemilik perusahaan. Jadi, Zyrra masih mendapatkan perlakuan sama seperti Manajer lain.
Setelah hampir satu setengah jam melakukan rapat, akhirnya tiba waktu mereka untuk pulang. Zyrra tengah mengemasi barangnya daripada meja hingga seorang pria menghampirinya kini.
"Sayang, kamu jadikan ikut aku ketemu sama Mamah?"
"Putu, maaf banget, tapi aku kali ini bener-bener gak bisa. Aku harus pulang dan selesaikan pekerjaan ini." Tunjuk Zyrra pada beberapa file di tangannya.
"Tapi Mamah aku udah siapin makan malam buat kita."
Zyrra menghembuskan nafas dan menatap mata Putu, "Aku ga janji sama kamu tadi, terus gimana mungkin Mamah kamu udah siapin semuanya? Aku sibuk!"
Zyrra kemudian berlalu begitu saja dan meninggalkan Putu yang masih berdiri mematung di tempatnya. Dengan langkah panjangnya, kini Zyrra telah masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk kembali ke kediaman Argantara.
"Apakah kita sebaiknya tidak mapir ke rumah sakit dulu Nyonya? Tadi Tuan Jovan menelpon saya dan meminta Nyonya untuk membawakan makan malam."
__ADS_1
'Hais...itu orang, bener-bener!' Gerutu Zyrra dalam hati.
"Baiklah Pak, kita pulang dulu. Saya akan buatkan makan malam untuknya dulu baru kembali ke rumah sakit."
Supir pribadi yang biasa di panggil Pak Edi itu hanya mengangguk dan melajukan mobil mereka kembali ke kediaman Argantara.
...****************...
Di suatu bandara internasional, seorang wanita cantik tengah berjalan dengan anggunnya sambil menarik sebuah koper di tangannya.
Langkah anggun dan ke eloknya tubuh wanita itu menjadi pusat perhatian, terutama bagi kaum Adam. Siapa yang tidak akan tergoda oleh kecantikan yang di miliki seorang Bella Vandov?
Wanita dengan tinggi badan mencapai 180 cm, serta wajah ayu yang bercampur kebaratan adalah ciri khas yang dimilikinya.
Bella melangkah menuju seorang pria tampan yang sudah menunggu kedatangannya sejak satu jam yang lalu.
"Hai Jo, makasih udah mau jemput aku."
"It's ok, kamu mau langsubg pulang ke apartemen atau makan malam dulu?"
"Aku udah makan di pesawat tadi, jadi kita langsung ke apartemen aja ya?"
"Ok!"
Kedua orang itu berjalan beriringan menuju mobil mewah yang sudah terpikir cantik di depan airport. Bila sepintas, Jonan dan Bella nampak seperti sepasang kekasih yang sangat serasi. Keduanya sama-sama memiliki wajah yang di idamkan oleh lawan jenis.
Jonan mengantarkan Bella menuju apartemen milik Bella sendiri. Sepanjang perjalanan wajah wanita itu nampak sangat muram. Hal itu tentu saja membuat hati Jonan menjadi tidak nyaman.
"Kamu masih memikirkan Jovan?"
"Ya, dia sangat berubah semenjak menikah."
BERSAMBUNG...
♡Hello gais...🙋
sory ya kalau kurang memuaskan ceritanya...😔
aku harap kalian mau memberikan saran, agar aku makin termotifasi😄
jangan lupa kunjungi novel-novel aku yang lain ya?😆
ada yang berjudul what's wrong with my bos? Taruhan berhafiah cinta dan istri masadepanku, yang pastinya ga kalah seru.♡
__ADS_1