Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
NYONYA CEO


__ADS_3

"Ada hal yang ingin saya sampaikan!"


Ucap Jovan dengan suara lantang dan menyita banyak perhatian semua orang di sana. Usai berkata demikian Jovan langsung *****4* bibir Zyrra dihadapan semua orang.


"Perkenalkan ini adalah istri saya, Zyrra Azasya. Dia adalah Nyonya CEO di perusahaan ini. Dan untuk ke depannya, saya tidak ingin lagi ada yang membicarakan hal-hal buruk mengenai dia."


Penuturan Jovan barusan membuat semua orang di ruangan itu tercengang termasuk juga Zyrra. Ia tidak menyangka bila Jovan akan mengumumkan hubungan mereka pada para karyawan di perusahaannya.


Satu-satunya yang terlihat biasa saja di ruangan itu hanya Denis. Ya, selain dia sudah mengetahui status Zyrra yang sebagai istri atasannya, ia juga sangat senang karena Jovan telah meresmikan hubungan mereka. Hal itu tentu saja akan membuat pekerjaannya jauh lebih mudah sebab tidak lagi perlu mendengar gerutuan Jovan tiap kali ada gosip mengenai istrinya.


Setelah mengumumkan status Zyrra pada para karyawan dan para petinggi perusahaan, Jovan membawa wanita itu ke ruangannya. Di atas meja dalam ruang kerjanya sudah ada beragam buah segar dan juga cemilan yang tersedia. Wajah masam Zyrra berubah ceria seketika saat melihat itu semua.


"Aku tau kamu ingin makan buah itu, jadi aku meminta Denis untuk membelinya tadi. Aku juga memintanya untuk membeli beberapa cemilan, karena kata Radit wanita hamil perlu makan makanan tambahan."


"Makasih," Ucap Zyrra dengan senyum manis di wajahnya dan mulai menikmati buah di atas meja itu.


Jovan merasa puas melihat senyum manis itu, jarang-jarang Zyrra memberikan itu padanya. Melihat betapa lahap Zyrra menikmati buah-buahan segar yang ia belikan, Jovan merasa bangga pada dirinya yang sudah berhasil menjadi suami siaga bagi sang istri.


(Pof Author: hedeh...baru juga gitu, belum tau aja dia, betapa jahatnya ibu hamil yang sebenarnya.😁😁)


Usai puas menyantap bush dan cemilan, kantuk menghampiri mata Zyrra. Wanita itu sudah berkali-kali menguap, hingga matanya berair.


"Istirahatlah di sana, akan ku bangunkan saat waktu makan siang tiba."


Zyrra yang sudah dilanda kantuk berat langsung mengangguk dan memasuki ruang istirahat Jovan yang tersedia di ruangannya. Ia mulai membaringkan tubuhnya dan mencoba untuk segera tidur. Namun, sekuat apapun Zyrra mencoba segera pergi je alam mimpi, hatinya tetap saja gelisah. Ia seakan-akan merasa ada yang kurang, dan tiba-tiba saja Zyrra merasa sangat ingin tidur dalam pelukan Jovan.

__ADS_1


"Konyol! Apa yang aku pikirkan sih?!" Gerutu Zyrra dan memaksa matanya untuk terpejam. Akan tetapi hormon kehamilan yang menguasai hatinya telah membuat logika yang ia miliki menjadi lemah. Akhirnya Zyrra menyerah dan bangkit dari pembaringannya. Ia berjalan keluar dan menghampiri Jovan yang terlihat fokus pada layar laptop di hadapannya. Zyrra semula ingin kembali lagi ke ruang istirahat agar tidak mengganggu Jovan saat ini, tapi pria itu justru lebih dulu menyadari kehadirannya.


"Kenapa? Tempatnya kurang nyaman? Biar ku suruh Denis untuk menyiapkan semuanya."


"Tudak, aku hanya...hanya..."


Jovan bangkit dan mendekat pada Zyrra, "Hanya apa?"


"Em, bisakah kamu menemaniku?" Tanya Zyrra dengan suara kecil namun masih bisa di dengar jelas oleh Jovan. Pria itu lantas menyunggingkan senyum lebar dan menggandeng istrinya kembali ke ruang istirahat.


Di sana Jovan membaringkan tubuhnya ke atas ranjang besar nan empuk. Zyrra kemudian ikut berbaring di sisi Jovan, tapi hatinya terus saja ingin merasakan peluk hangat lelaki di sisinya itu.


Jovan menyadari kegelisahan Zyrra dan kembali bertanya "Ada yang lain lagi?"


"Em, bolehkah aku tidur di pelukanmu?"


Jovan menatap wajah cantik sang istri dan bergumam lirih.


"Kau adalah bidadari tercantik yang dikirim Tuhan untukku. Entah sihir apa yang kau lakukan hingga membuatku tidak dapat jauh darimu barang sedetik."


Setelah memastikan istrinya telah benar-benar terlelap, Jovan pun kembali ke meja kerjanya. Melihat wajah cantik Zyrra yang tengah terlelap, Jovan sebenarnya enggan untuk memalingkan pandangan dari wajah itu. Namun, ada begitu banyak pekerjaan yang harus ia segera selesaikan yang memaksa Jovan beranjak pergi.


Kini pria tampan berusia 28 tahun itu kembali bergulat dengan tumpukan berkas dan laptopnya yang masih menyala.


Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat bila Jovan sudah berkutat dengan banyaknya pekerjaan. Jam pada arlojinya telah menunjukkan pukul 11.30. Yang berarti ini adalah waktu makan siang bagi para karyawan, termasuk juga dengan dirinya.

__ADS_1


Jovan berniat membangunkan Zyrra dan mengajak wanita itu untuk makan siang bersama, namun ketukan di pintu menghalanginya.


"Jovan xiānshēng, xiàwü hăo, wö shì lái qïng nín yīqï chī wüfàn, tónghí tăolùn wòmen de hézuò."


{ Selamat siang Tuan Jovan, saya sengaja datang kemari untuk mengajak Anda makan siang sekalian membahas kerja sama kita.}


Zyrra yang merasakan rasa lapar pun terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia berjalan keluar dan melihat seorang wanita cantik berada di ruangan sang suami. Zyrra berniat untuk tidak memperdulikan mereka dan langsung pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.


"Bù hăoyìsi, Wen xiăjiě, wö dé xiān péi wö lăopaó shī wüfàn. Ér wömen de hézuò, nï kěyï hé wö de zhùlï dānnísī shāngliáng yīxià." Ucap Jovan yang melihat Zyrra keluar dari ruang istirahat.


{Maaf Nona Wen, tapi saya harus menemani istri saya makan siang terlebih dahulu. Dan perihal kerjasama kita, Anda bisa membahasnya dengan asisten saya, Denis.}


Jovan kemudian bangkit dan mendekat ke arah Zyrra yang tidak mengerti akan pembicaraan di antara kedua orang itu. Ia hanya melemparkan senyum canggung pada wanita yang menatap dirinya saat Jovan berjalan mendekat.


"Kamu mau kemana?" Tanya Jovan berbisik kecil pada Zyrra.


"Ya mau makan siang lah, laper."


"Kenapa ga nunggu aku, kamu mau biarin perempuan lain merebut suami tampanmu ini?"


"Emang dia mau?" Tanya Zyrra jutek, bibir dan tingkahnya memang seakan tidak perduli, tapi entah mengapa hatinya terasa sangat kesal bila membayangkan hal itu.


"Nà wö jiù dărăole, xiàwü hăo, yuē wăn xiānshēng hé fūrén." Nona Wen bangkit dan membungkuk pada Jovan juga Zyrra. Wanita berdarah cina itu lalu pergi dari ruangan itu dengan perasaan dongkol bukan main.


{Kalau begitu saya tidak akan mengganggu lagi. Selamat siang Tuan dan Nyonya Jovan.}

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga votenya😉😉


__ADS_2