
'Tuhan, kumohon selamatkan anakku, ku mohon Tuhan...' Lirih Bella dalam hati.
Mobil itupun tiba di rumah sakit, dan para perawat menyambut mereka dengan sebuah brankar. Bella membaringkan tubuh lemah Joi ke atas brankar.
"Siapkan ruang oprasi!" Ucap sang Dokter dan bergegas mendorong brankar itu.
Para Dokter dan suster di ruangan itu sedang berusaha menyelamatkan nyawa pria kecil malang itu. Bella dan juga perawat pribadi Joi menunggu di depan ruang operasi dengan kekhawatiran.
Sang perawat merogoh skunya dan menghubungi seseorang dengan benda pipih do tangannya.
Panggilan itu pun tersambung "Ya?" Ucap seseorang di seberang sana.
"Nyonya, Tuan kecil mengalami kecelakaan."
"Sekarang dia di mana? Aku akan segera ke sana." Suara orang itu terdengar sangat panik, dapat perawat itu bayangkan betapa cemasnya Zyrra saat ini.
"Kami berada di rumah sakit XYZ."
Tanpa ada jawaban dari orang yang di telponnya, panggilan itu diakhiri begitu saja. Perawat itu tau Zyrra sangatlah menyayangi Joi, jadi wanita itu pasti sangat panik di sana.
Lampu di atas ruang oprasi masih menyala, pertanda oprasi masih berlangsung. Namun, seorang suster sudah keluar dan menanyai keluarga pasien.
"Keluarga pasien?"
"Saya!" Jawab Bella dan perawat Joi bersamaan.
"Saya adalah Tante anak itu sus," jelas Bella untuk meyakinkan sang suster yang terlihat bingung.
"Anak itu mengalami pendarahan hebat pada kepala bagian belakangnya, dia memerlukan transfusi darah secepatnya. Apakah di antara kalian ada yang memiliki golongan darah AB positif?"
"Saya memilikinya sus."
"Baiklah, mari ikut saya untuk melakukan pengecekan darah."
Bella mengikuti sang suster dan untungnya dia dapat melakukan transfusi darah untuk Joi. Setelah selesai melakukan pengambilan darah, suster memerintahkan Bella untuk tetap berbaring beberapa saat. Namun, wanita itu bersikeras untuk menunggui Joi yang masih di ruang oprasi.
Saat Bella telah kembali ke depan ruang oprasi, Zyrra tiba dengan derai air mata dan tak lama tubuh wanita itu limbung. Dengan sigap ia dan perawat Joi menangkap tubuh wanita itu kemudian meminta bantuan pada para suster lain untuk membantu mengangkat tubuh Zyrra hingga Jovan pun tiba dan mengambil alih Zyrra dari tangan para perawat dengan wajah hawatir.
__ADS_1
FLASH BACK OFF...
Bella menceritakan sebagian peristiwa yang terjadi pada Jovan dan merahasiakan sebagiannya lagi.
"Terimakasih karena kamu sudah mau menyelamatkan putra kami."
Lagi-lagi ucapan Jovan membuat hati Bella kembali tersayat. Rasa sakit yang di torehan laki-laki itu berulang kali ia rasakan hari ini. Namun Bella tetap tersenyum seraya mengangguk, ia berusaha keras untuk menyembunyikan rasa sakit itu. Akan tetapi kebersamaan mereka selama hampir enam tahun lamanya, membuat Jovan tau bila Bella sedang sangat terluka saat ini.
"Maafkan aku Bella, kau pantas membenciku karena sudah mengecewakanmu. Aku bukanlah pria yang pantas untuk wanita sebaik dirimu." Ucap Jovan dengan raut wajah menyesal.
"Lupakanlah, kau bukanlah satu-satunya yang bersalah di sini. Aku juga ikut andil dalam hancurnya hubungan kita hingga membiarkan wanita lain mengambil hati dan jiwa ragamu sekarang."
"Kau wanita yang terbaik Bella,"
"Sudahlah Jovan, aku harus melihat keadaan Joi. Kau jagalah istrimu, akan aku berikan kabar bila operasinya telah berhasil." Ucap Bella dan meninggalkan Jovan.
Ia berbalik dan dengan langkah cepat Bella menjauh dari pria itu. Air matanya tak dapat lagi ia tahan, bulir bening itu pun berjatuhan membasahi pipi mulus wanita itu begitu saja.
Ia terduduk di sebuah lorong yang sepi, hingga sebuah lengan membawanya kedalam dekapan hangat seraya mengusap rambutnya lembut.
Wanita itu memeluk tubuh Jonan dengan erat dan menumpahkan air matanya ke dada bidang pria itu.
Setelah merasa sedikit lega, Bella menghapus air matanya dan bangkit, namun kepalanya tersangka sedikit pusing hingga membuatnya hampir saja terjatuh andaikan Jonan tak memeranginya dengan kuat.
"Kau baik-baik saja?"
Bella hanya tersenyum dan mengangguk, ia terus berjalan ke ruang operasi dengan dipapah oleh Jonan. Setibanya mereka di sana, lampu ruang operasi pun padam. Itu berarti operasi telah berhasil, Dokter beserta beberapa suster akhirnya keluar.
"Bagaimana putraku Dok?" Tanya Bella spontan dan membuat Jonan mantap bingung padanya.
Menyadari kesalahan ucapannya, Bella buru-buru merapat dan mengulang kembali pertanyaan sebelum Jonan makin curiga.
"Maksud saya bagaimana keadaan keponakan saya Dok?"
"Oprasi nya berhasil, untunglah ada Nona yang dapat memberikan donor darah untuk anak itu hingga dapat menyelamatkan nyawanya. Sebentar lagi dia akan kami pindahkan ke ruang rawat. Kalian bisa melihatnya di sana."
Bella tersenyum lega, ia mengangguk senang dan memeluk tubuh Jonan sesaat hingga akhirnya Bella jatuh pingsan. Jonan dengan panik memanggil para suster untuk memeriksa keadaan Bella yang terlihat sangat pucat.
__ADS_1
...****************...
Sementara di ruangan lain, Zyrra baru saja siuman dan melihat Jovan sudah berada di sisinya seraya mengecup lembut kening Zyrra.
"Akhirnya kau sudah sadar,"
"Bagaimana Joi? Aku ingin melihatnya." Ucap Zyrra dan ingin bangkit namun lebih dulu di cegah oleh Jovan.
"Tenanglah, oprasi Joi telah berhasil. Dia sekarang sudah berada di ruang rawat."
"Bawa aku ke sana, aku ingin melihatnya sendiri."
"Ok, tapi pelan-pelan. Ingat, kamu sekarang juga sedang mengandung sebuah nyawa, dan itu adalah anak kita."
Ucapan Jovan membuat Zyrra tersadar, bila ia seharusnya juga harus memperhatikan janin yang ada di dalam perutnya saat ini. Zyrra mengangguk lemah, Jovan pun membantu Zyrra turun dari ranjang dan menuju ruang rawat Joi.
Pada tubuh bocah kecil itu tedapat banyak kabel yang menancap dan terlihat menyiksa. Zyrra tak tega melihatnya dan mengecup kening Joi dengan bibir bergetar menahan air mata.
"Kamu hebat sayang, maafkan Mamah yang ga bisa jagain kamu." Ucapnya Lirih.
"Ssssst...! Kamu harus tenang, Joi akan sedih kalau melihat kamu seperti ini." Jovan mencoba menenangkan Zyrra dengan memeluk tubuh wanita itu.
Dan baru dia sadari, bila kini Zyrra tak lagi mual berdekatan dengannya. Ada sedikit rasa senang dalam hati Jovan, karena istrinya itu tak lagi menjauh darinya karena mual saat melihat wajah tampaknya.
(Profi Author: Kya.... mas Jovan, GR. Tapi emang bener sih dia ganteng, Author aja naksir hehe...)
BERSAMBUNG....
...**CERITA INI HANYALAH KARANGAN DARI AUTHOR BELAKA!!!...
...DAN BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT KARAKTER DAN SEBAGAINYA ITU HANYALAH KETIDAK SENGAJAAN. ...
Mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga voteπ
Dukungan kalian sangat berguna bagi AUTHOR, makasih yang udah setia menanti kelanjutan cerita ini
Iβ‘U READER'S πππ**
__ADS_1