Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
KERJASAMA ROBIN DAN JOVAN


__ADS_3

Pagi ini Jovan dan Zyrra akhirnya bisa kembali sarapan di satu meja yang sama setelah lama terpisah. Meskipun semalam mereka tertidur di ranjang yang terpisah, tetapi asalkan Jovan dapat melihat wajah cantik Zyrra di setiap paginya, itu jauh lebih disyukuri oleh Jovan. Rencananya pagi ini Jovan ingin membawa Zyrra kembali ke Indonesia. Ia pun telah memberitahukan kepada Tuan Bima bila istrinya telah ditemukan. Dan Tuan Bima sendirilah yang meminta Jovan untuk membawa pulang kembali Zyrra.


Semua sudah Jovan persiapkan untuk perjalanan mereka kembali. Zyrra dan dirinya hanya tinggal menyelesaikan sarapan, lalu berangkat menuju bandara.


''Maaf Tuan, ada tamu yang memaksa masuk dan ingin bertemu dengan kalian.'' Tutur penjaga gerbang kediaman Jovan dengan nafas tersengal. Baru saja penjaga itu selesai bicara, orang yang di maksudnya telah berada di tempat itu.


''Papa?'' Ucap Zyrra dengan suara kecil. Jovan berdiri di sisi Zyrra mencoba untuk melindungi istrinya.


''Siapa kalian?''


''Tenang nak. Aku adalah Ayah mertuamu, Robin Azasya. Aku kemari untuk menjemput kembali putriku dan membawanya pulang.''


Jovan melihat ke arah Zyrra, dapat dilihatnya raut takut di wajah sang istri. Jovan kini mengingat wajah pria di hadapannya ini. Dia adalah orang yang bersaing dengannya untuk mendapatkan kalung berlian di acara lelang beberapa waktu lalu.


"Maaf Tuan Robin, meskipun Zyrra adalah putrimu, tapi dia juga adalah istriku. Sebagai suaminya, aku tidak mengizinkan dia kembali bersamamu kecuali dia sendiri yang menginginkannya."


"Kalau begitu, nikmatilah nafas terakhirmu hari ini." Robin mengangkat senjata apinya dan menodongkan ke arah Jovan. Tetapi Zyrra secara spontan melangkah maju untuk melindungi suaminya.


"Berhenti Papa! Kau tidak boleh menyakitinya."


"Kalau begitu, ayo ikut dengan Papa pulang." Robin mengulurkan tangannya namun di tepis oleh Jovan.

__ADS_1


"Tidak! Bila kau ingin membawanya, hadapi aku lebih dulu."


Ketegangan yang terjadi di rumah itu, membuat perut Zyrra mengalami keram kembali. Hanya saja kali ini, keram yang dialaminya jauh lebih menyakitkan hingga membuat Zyrra merintih. Rintisan yang keluar dari mulut Zyrra, membuat Robin dan Jovan berhenti saling berdebat. Keduanya dengan kompak memapah tubuh Zyrra menuju kursi.


"Kenapa sayang? Kita ke rumah sakit ya?" Tanya Robin dengan penuh kehawatiran.


"Cepat siapkan mobil! kita ketimbang sakit sekarang!" Titah Jovan pada orang-orang yang dibawa oleh Robin karena hanya mereka yang ada di ruangan itu. Tetapi karena bukan atasan mereka yang memerintahkan, orang-orang itu tidak bergeming sedikit pun.


"Hei! Apakah kalian tuli? Cepat siapkan mobil!" Hardik Robin yang membuat anak buahnya kocar-kacir.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Kabar ditemukannya Zyrra, membuat orang-orang di Indonesia amat bahagia. Tuan Bima bahkan sudah menyiapkan pesta penyambutan untuk cucu menantunya itu. Apalagi Joi, pria kecil itu sudah sangat merindukan Zyrra. Dan ketika Bella mengatakan bila Zyrra akan kembali, Joi sangat senang bukan main.


"Apakah jika aku yang menghilang, Joi juga akan merindukanku sama seperti dia merindukan Zyrra?"


"Hai sayang, kamu kenapa? Kok melamun?" Pertanyaan dari Jonan membuat Bella tersadar dari lamunannya. Bella lalu memasang senyuman manis di wajahnya.


"Engga papa, aku cuma lagi mikirin sesuatu aja. Kamu-" Belum selesai Bella berbicara, Tuan Bima sudah lebih dulu menyela pembicaraannya.


"Pestanya dibatalkan. Zyrra tiba-tiba mengalami kontraksi. Aku akan mengunjunginya lebih dulu. Kalian uruslah masalah di sini."

__ADS_1


Bella dan Jonan saling pandang sesaat, lalu mengangguk secara bersamaan. Sedangkan Joi yang mendengar itu semua merasa kembali bersedih. Ia harus kembali menahan rindu untuk bertemu sang Mamah.


"Yah... Mamah gak jadi pulang ya, Mom?"


"Ia sayang, Mamah Zyrra kayanya lagi sakit, kita do'ain semoga Mamah Zyrra dan dedek bayinya baik-baik aja ya?"


"Ia Mah."


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Beruntung kandungan Zyrra masih bisa di selamatkan, dia hanya perlu mendapat perawatan dirubah sakit selama beberapa hari. Robin dan Jovan yang semula saling berseteru, kini terlihat lebih tenang. Keduanya bahkan nampak saling bercerita sembari menunggu Zyrra siuman.


"Jadi, selama ini kau telah mengetahui siapa yang mencelakai Zyrra saat itu?"


"Tentu, hanya saja aku masih belum bisa menghancurkannya. Orang itu memiliki kekuasaan yang bukan hanya di dunia hitam. Dia juga tampil sebagai orang terkemuka di dunia politik. Itulah mengapa hingga saat ini, aku masih belum bisa menghabisi nyawa B4jing4n itu."


"Kalau begitu bagaimana jika kita bekerja sama untuk menghancurkan orang itu? Aku akan membantumu menanganinya di dunia politik. Dan kau yang mengurus dia di dunia gelap kalian."


"Apakah kau yakin ingin terlibat dengan masalah ini, Nak? Dearn bukanlah orang yang bisa dengan mudah kau atasi."


"Kau tenang saja. Keluarga Argantara bukanlah keluarga yang bisa di singgung sesuka hatinya. Apalagi dia sudah berani menyentuh istri dan calon keturunan keluarga Argantara. Tentu aku tidak akan membiarkan orang sepertinya hidup tenang."

__ADS_1


Robin mulai menyukai sikap menantunya itu, Jovan terlihat begitu bertanggung jawab pada keluarganya. Tak heran, mengapa Zyrra bisa memilihnya dulu.


BERSAMBUNG...


__ADS_2