Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
NIHIL


__ADS_3

"Jo, carikan baju ganti untuknya! Dan kamu, lepas baju itu sekarang atau aku yang akan melepasnya sendiri!"


Jonan kini mengerti mengapa Jovan menanyakan asal baju itu, rupanya sang Kakak saat ini tengah terbakar api cemburu. Jadi agar terhindar dari semprotan Jovan, Jonan bergegas keluar dan mencari baju ganti untuk Zyrra.


Zyrra masih menatap jengkel pada Jovan, tapi dia akhirnya menuruti ucapan pria aneh itu dan melepaskan kemeja yang dikenakannya saat ini.


Saat Zyrra mulai melepaskan satu per satu kancing bajupada kemeja hitam itu, Jovan memperhatikan dengan seksama. Kulit putih bersih milik wanita yang telah menjadi istri sahaya saat ini.


Jovan sampai menelan lidahnya kasar akibat desirable aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi pandangan matanya seketika terbelalak kala melihat memar-memar yang terdapat di punggung dan lengan wanita itu.


Jovan berjalan mendekat dan membuat Zyrra kembali menutup kemeja yang semula ingin di lepaskannya.


Dengan bola mata melebar, Zyrra bertanya pada Jovan "Kamu mau apa?"


Tanpa menjawab pertanyaan dari Zyrra, Jovan langsung membuka paksa kemeja itu. Ia dapat melihat dengan jelas ada banyak memar pada tubuh molek Zyrra.


Hal itu membuat hati Jovan seakan di remas. Ia merasa gagal menjadi seorang pria, ia bahkan tidak dapat melindungi seorang wanita yang seharusnya dia jaga sekuat tenaga.


"Apakah sakit?"


Zyrra mengerjapkan kedua kelopak matanya berkali-kali saat mendengar pertanyaan dari Jovan. Hingga  membuat Jovan mengulangi pertanyaan yang sama, Zyrra hanya memberi anggukan sebagai jawaban.


"Maaf,.." ucap Jovan sembari tertunduk. Ia tidak sanggup lagi melihat luka pada tubuh indah Zyrra.


'Ini orang kenapa sih sebenernya? Tiba-tiba aja jadi melow gini, jangan-jangan kepalanya kebentur, terus bikin otaknya bermasalah?' tanya Zyrra dalam hati.


"Kamu baik-baik aja kan?"


Mendapati pertanyaan dari Zyrra, Jovan mendongak dan memberikan senyuman pada Zyrra. Pria itu juga mengangguk sembari mengelus pucuk kepala Zyrra dengan lembut.


"Kamu yakin? Kepalamu gak kebentur?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"

__ADS_1


"Engga, cuman kamu agak aneh."


Jovan memasang ekspresi bingung, hingga terdengar suara ketukan di pintu. Rupanya itu adalah Jonan yang membawa paper bag di tangannya. Ia melangkah masuk dan menyerahkan paper bag itu pada Zyrra.


"Cepat pakai, kita harus segera kembali. Kekek pasti sudah khawatir karena kita sudah tidak pulang dari semalam."


"Lo gila? Luka di punggung lo belum sembuh dan lo udah mau balik?"


"Jonan benar, kamu tinggallah lebih lama di sini, biar aku dan Jonan yang kembali ke kediaman Argantara. Nanti kami akan memberitahukan pada Kakek, kalau kamu masih harus menghadiri meeting di luar kota."


Jovan sebenarnya tidak rela bila Zyrra harus meninggalkannya di rumah sakit. Tapi ia juga tidak mungkin membiarkan Kakeknya mengetahui kondisi mereka saat ini, jadi Jovan hanya bisa menyetujui saran dari Zyrra.


Setelah Zyrra selesai mengganti pakaian, Jovan kembali ke tempat ruang rawatnya. Ia melihat Adik dan istrinya pergi meninggalkan rumah sakit dengan mobil yang sama.


Ponsel di atas nakasnya berdering, Jovan meraih benda pipih itu dan menyambut panggilan tersebut.


"Ya?"


"Kamu di mana? Bisakah kita bertemu?"


"Maaf, aku saat ini sedang tidak enak badan. Bisakah kita bertemu lain kali?"


Kini giliran Bella yang terdiam, Bella menyadari sikap Jovan yang semakin menjauh darinya. Setetes bulir bening mengalir di pipi mulusnya. Sekuat tenaga ia mencoba untuk menguatkan hati dan tersenyum.


"Baiklah, cepatlah sembuh agar kita dapat segera bertemu."


"Hem,"


Panggilan diakhiri, Bella terisak di atas tempat duduknya. Saat ini ia sedang menghadiri sebuah acara dan menjadi salah satu bintang tamu di sana.


'Tuhan, inikah yang terbaik? Inikah karma yang harus ku terima atas dosa di masa laluku?' Batin Bella seraya menghapus air matanya dan membenarkan tampilannya saat ini.


...****************...

__ADS_1


Jonan dan Zyrra kini telah tiba di kediaman Argantara. Kedatangan dua orang itu di sambut oleh Tuan Bima secara langsung.


"Kalian kemana saja? Mengapa tidak pulang? Dan di mana Jovan?"


Zyrra dan Jonan saling bertatapakan untuk sesaat, sebelum Zyrra mulai memberikan jawaban.


"Jovan masih harus meninjau lebih jauh lagi kondisi bangunan di sana Kek, jadi Zyrra lebih dulu pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus Zyrra tangani di sini."


Tuan Bima sebenarnya sudah mengetahui hal yang menimpa kedua Cucunya, tapi beliau tetap berpura-pura tidak tahu. Tuan Bima mengangguk-anggukan kepala seakan mempercayai apa yang diucapan oleh Zyrra.


"Dan kamu Jonan, dari kemarin Kakek tidak melihatmu pulang ke rumah. Semalam tidur di mana kamu? Kenapa kelopak matamu menghitam seperti itu?"


Jonan meraba wajahnya dan menyengir cengengesan, "Aku semalam tidak tidur Kek. Aku pergi bersama teman-temanku ke club malam dan baru saja pulang pagi ini, tapi Jovan sudah menyuruhku untuk menjemput Zyrra di perusahaan."


"Oh, baiklah. Kalian pergilah istirahat, Kakek ingin kembali ke ruang baca dulu."


Tuan Bima bangkit dan menuju ruang baca, Jonan dan Zyrra menghembuskan nafas lega. Mereka pikir Tuan Bima percaya akan ucapan mereka dan tidak mengetahui hal apapun di luar sana.


Zyrra dan Jonan pun menuju kamar mereka masing-masing. Zyrra mengambil baju ganti untuk Jovan dan kembali ke rumah sakit.


Sedangkan Jonan, pria itu tengah mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Ia benar-benar lelah karena hampir semalaman terjaga karena menunggu kabar dari anak buahnya mengenai dalang dari penyerangan terhadap Zyrra dan juga Jovan.


Walaupun ia sudah mengerahkan hampir seluruh oarang kepercayaanya, namun tetap saja tidak menemukan titik terang. Beberapa orang preman yang sengaja tidak mereka habisi hanya untuk mendapatkan informasi pun tidak berguna.


Mereka tidak tahu siapa orang yang telah membayar mereka untuk melakukan penyerangan terhadap Zyrra dan Jovan. Satu-satunya yang mereka dapatkan hanyalah sebuah nomor ponsel yang pernah di gunakan orang itu untuk menghubungi para preman.


Jonan sudah memerintahkan anak buahnya untuk melacak nomor tersebut, tapi tetap saja tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.


Lelah dengan pikiran yang berkecamuk, serta semalaman tidak dapat memejamkan mata. Jonan kini sudah mendayung menuju alam mimpi di atas ranjang empuk miliknya, berharap dapat bertemu dengan sang pujaan hati walau hanya di dalam mimpi.


BERSAMBUNG....


**Seru gak???

__ADS_1


Kalau kurang seru, ayo kita seru seruan di episode selanjutnya...


Jangan lupa like dan komennya ya...**


__ADS_2