
Jovan yang ingin membalikkan tubuhnya merasakan kekosongan di sisi Zyrra. Ia membuka mata dan tidak mendapati Zyrra di sana. Jovan pun turun dari ranjang, kemudian melangkah menuju kamar mandi. Ternyata Zyrra juga tidak berada di sana, Jovan jadi makin panik. Ia mengira Zyrra kembali pergi dari rumah karena masih marah padanya. Dengan panik Jovan keluar kamar sambil menghubungi Denis untuk membantunya mencari keberadaan sang istri.
"Ya Tuan?" Tanya Denis dengan suara serak khas bangun tidur. Ia bingung, mengapa atasannya itu tiba-tiba menelponnya tengah malam begini.
"Bantu aku menemukan istriku!" Permintaan Jovan membuat Denis makin kebingungan.
'Lah, bukannya sore tadi udah ketemu? Masa ilang lagi? Itu istri atau kunci mobil? Ilang-ilang terus.' Gumam Denis dalam hati.
Namun, saat Jovan melewati ruang keluarga, ia melihat tivi yang masih menyala dan mendapati Zyrra tengah tertidur sembari meringkuk seperti seorang bayi. Jovan menghembuskan nafasnya lega dan kemudian tersenyum. Ia mendudukkan diri di hadapan Zyrra sembari mengelus lembut wajah wanita itu.
"Halo Denis, lanjutkan tidurmu. Aku sudah menemukan istriku."
Usai berbicara seperti itu, Jovan lalu mengangkat Zyrra dan membawanya menuju kamar mereka. Dengan perlahan Jovan membaringkan tubuh Zyrra ke atas ranjang.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Pagi hari, saat semua berkumpul untuk sarapan, Jonan memperhatikan tingkah Jovan dan istrinya, mereka nampak baik-baik saja. Jonan berpikir mungkin kemarin Zyrra pergi bersama saudaranya yang pernah mereka temui. Jonan memang tak begitu yakin, sebab ia tidak melihat jelas wajah pria itu.
'Tapi kenapa Jovan harus mengerahkan orang-orang untuk mencari wanita itu?' Tanya Jonan dalam hati.
__ADS_1
Usai menyelesaikan sarapan bersama, Jonan dan Jovan pergi ke perusahaan seperti biasanya dengan mengendarai mobil masing-masing. Sementara Zyrra pergi ke dapur untuk membuat kue. Hari ini ia sangat ingin membuat kue pai, dengan semangat Zira mulai mencampurkan adonan. Saking semangatnya, tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 10.00 siang. Dan setelah kue-kue itu matang, Zyrra bergegas bersiap-siap pergi ke perusahaan untuk memberikan kue yang ia buat pada Jovan. Setelah beres memasukkan kue ke dalam rentang makanan, ia meminta Pak Edi mengantarkannya.
Setibanya Zyrra di perusahaan, semua staf perusahaan memberikan hormat untuknya. Kalau dulu di perusahaan ini ia mendapatkan tatapan sinis, mencemooh, dan merendahkan. Berbeda dengan saat ini, semua orang yang bekerja di perusahaan itu begitu hormat kepadanya dan berlomba-lomba mencari simpati agar mendapatkan posisi yang aman di perusahaan itu.
"Selamat siang nyonya Zyrra," sapa semua orang yang melewati dirinya. Zyrra tersenyum dan mengangguk singkat, tanpa ingin membalas sapaan itu. Ia tahu, hanya beberapa orang lah yang benar-benar menghargai dirinya. Sedangkan yang lain, hanya memandang rendah bahkan terus saja berpikiran buruk tentangnya.
Zyrra kini telah tiba di ruangan Jovan, dengan senyum lebar ia melangkah masuk. Sayangnya orang yang ingin Ia temui justru memasang wajah yang begitu kaku, bahkan aura dingin begitu menyengat di ruangan itu. Zyrra mendekat ke arah Jovan Dan meletakkan bungkusan kue pai yang ia buat ke atas meja. Jovan mendongak dan melihat Zira di hadapannya. biasanya pria itu akan segera tersenyum, bermanja, atau melakukan hal-hal yang kekanak-kanakan menurut Zira. Namun entah mengapa, kali ini pria itu terlihat cuek bahkan, menatapnya dengan sinis.
"Apa maksud tatapanmu itu?" Mendengar pertanyaan Zyrra, Jovan justru tersenyum miring.
"Kamu ke mana kemarin siang? Pergi dengan siapa?"
"Teman? Kamu yakin itu hanya teman? Tidakkah kalian memiliki sebuah hubungan?"
"Apa maksud pertanyaanmu itu?" Tanya Zyrra tak terima dirinya dituduh secara sepihak.
'Bukankah kemarin Jovan yang terang-terangan tengah memeluk karyawan wanita perusahaan ini? Lalu bagaimana bisa, sekarang pria ini yang membalikkan keadaan?' Batin Zyrra.
"Sebaiknya kamu berkata jujur. Ada hubungan apa antara kamu dan pria itu?"
__ADS_1
Jovan yang sudah terlanjur dibutakan oleh rasa cemburu pun terus mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang menyurutkan Zyrra. Membuat wanita itu geram dan meraih kembali kue pai yang sudah susah payah ia buat.
"Bila memang kamu berpikir aku memiliki hubungan dengan pria itu. Maka teruskanlah!"
Zyrra melangkah pergi dengan derai air mata yang terus membanjiri wajah cantiknya. Ia telah mencoba menahan derasnya bulir bening yang terus melesat keluar, namun tetap sia-sia. Zyrra amat kecewa akan perkataan Jovan tadi, ia yang berharap mendapatkan pujian saat mengantarkan kue buatannya pada Jovan, justru harus berakhir luka. Ia yang tak fokus berjalan karena penglihatannya yang kabus akibat air matapun menabrak seseorang hingga membuat kue di tangannya tumpah ke lantai.
"Zyrra, kamu kenapa?" Tanya pria itu sambil memegangi pundak Zyrra. Hatinya begitu pilu melihat wanita yang ia idamkan kini tengah menangis.
"Maaf aku masih ada urusan." Jawab Zyrra dan bergegas pergi tanpa melihat wajah pria yang menghawatirkannya.
Arya ingin menyusul Zyrra, namun sekretarisnya mencegah dengan beralasan mereka harus segera bertemu dengan pemilik perusahaan ini untuk membahas mengenai kerja sama. Pria itu pun terpaksa menatap kepergian Zyrra dan tidak dapat mengetahui keadaan wanita itu saat ini. Padahal ini adalah kesempatan emas untuknya dapat lebih dekat lagi dengan wanita itu. Tapi, perjanjian dengan perusahaan Argantara grup juga penting dan sudah mereka nanti-nantikan selama ini.
BERSAMBUNG....
**Seru gak???
Kalau kurang seru, ayo kita seru seruan di episode selanjutnya...
Jangan lupa like dan komennya ya...**
__ADS_1