Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
KONTRAKSI


__ADS_3

Siang hari ketika Zyrra sedang asik membaca novel, Shava datang dengan membawa beberapa kue. Shava bebas keluar masuk kediaman Argantara, sebab para pelayan tau dia adalah sahabat karib dari Tuan mereka. Oleh karena itu, tanpa ada perintah langsung dari Jovan, tidak aka ada yang berani mencegahnya masuk.


"Siang, Zyrra. Aku ada bawa beberapa kue yang katanya bagus buat ibu hamil kaya kamu. Cobain deh." Shava menyodorkan bingkisan yang berisi kue itu pada Zyrra. Melihat Zyrra yang hanya menatap ke arah pemberiannya, Shava pun menyadari sikap hati-hati dari Zyrra padanya.


"Maaf karena tempo hari aku sudah tidak sopan. Aku sudah merusak momen pertemuan pertama kita. Bagaiman jika kita ulang? Hai aku Shava." Shava menyodorkan tangannya dengan senyum manis. Kini, Zyrra menyambut uluran tangan wanita itu dan menyebutkan nama.


"Aku Zyrra. Jovan sudah cerita banyak tentang kamu, kemarin."


"Oh ya? Apa dia juga cerita tentang kami yang tidur bersama selama kamu ga ada?" Pertanyaan ambigu yang sengaja Shava lontarkan, bertujuan untuk mengukur emosi Zyrra dan pergi meninggalkan Jovan. Dia tidak mengetahui tentang kandungan Zyrra yang bermasalah dan akan dalam bahaya jika Zyrra berada dalam kondisi emosi yang tidak stabil.


"Oh ya? Jovan tidak menceritakan hal itu padaku. Mungkin Jovan itu tidak penting baginya atau karena itu memang tidak pernah terjadi. Maaf Shava, kalau kamu datang ke sini cuma buat buang-buang waktu untuk membahas hal seperti ini, sebaiknya kamu pulang. Aku pun harus beristirahat."


Ucapan Zyrra yang memprovokasi Shava, membuatnya hilang kendali. Tanpa menghiraukan lagi peringatan yang Jovan berikan tempo hari, wanita itu mengatakan hal yang tidak sepenuhnya ia ketahui kebenarannya.

__ADS_1


"Cih! Apakah kau tidak penasaran dengan cerita pernikahan kalian? Aku bisa memberitahukan semuanya padamu."


Mendengar ucapan Shava, Zyrra membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah wanita itu.


"Kamu, menikah dengan Jovan hanya untuk mendapatkan uang demi menebus lagi pabrik parfum yang diambil alih oleh mantan pacarmu. Dan Jovan sengaja membuat surat kontrak pernikahan kalian demi mendapatkan hak warisnya dari Kakek Bima. Dan kamu tau, Jovan akan meninggalkan kamu setelah kamu melahirkan bayi yang ada di dalam perutmu ini."


Lagi-lagi sekelebat bayangan dari masa lalu Zyrra mulai bermunculan, membuat kepala Zyrra seakan hampir pecah. Zyrra terduduk sembari memegangi kepalanya yang berdenyut kuat. Kaki ini, rasa sakit yang Zyrra rasakan jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya. Hal itu membuat perut Zyrra mengalami kontraksi. Dan darah segar mulai mengalir dari balik dress yang ia kenakan.


Shava yang tidak menyangka ucapannya akan mempengaruhi kandungan Zyrra hingga seperti ini merasa bersalah. Ia dengan panik segera meminta pertolongan dari para pelayan. Dan di saat genting itu, sebuah mobil berhenti dia depan pintu gerbang.


"Ahk..! Sakit, emh..." lirih Zyrra dengan terus memegangi perutnya.


"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Tahan sedikit lagi ya?"

__ADS_1


"Aah, sakit Van, sakit..." ucap Zyrra dengan buliran air mata. Jovan menjadi makin cemas, ia meminta pada supir untuk menambah laju mobil mereka.


Hingga akhirnya mobil pun tiba di rumah sakit, Zyrra langsung di bawa menuju ruang UGD. Para Dokter mengatakan pada Jovan, bila bayi mereka harus dilahirkan sekarang juga. Sebab, air ketuban yang melindungi si bayi telah pecah dan akan sangat berbahaya bila terus di biarkan.


Jovan tak punya pilihan lain, saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa keduanya. Jadi atas persetujuan Jovan, Dokter mulai mengambil tindakan dan melakukan operasi untuk menyelamatkan Zyrra dan bayinya.


Tuan Bima yang mendengar kabar mengenai kondisi Zyrra saat ini langsung menyusul ke rumah sakit. Para pelayan di kediaman Argantara tadi menceritakan kronologi kejadian sebelum Zyrra mengalami kontraksi. Tuan Bima pun amat kecewa dan marah pada tingkah ke kanak-kanakan Shava. Ia lalu memberitahukan hal ini kepada kedua orang tua wanita itu.


"Bagai mana dengan Zyrra?"


"Zyrra harus menjalani operasi sesar. Bayi kami harus segera di lahirkan." Jawab Jovan dengan lesu. Tuan Bima menepuk pundak cucunya ikut memberikan dukungan agar Jovan bisa bersabar.


"Semuanya pasti akan baik-baik saja." Dua orang suster keluar dari ruangan operasi, salah satunya menghampiri Jovan dan Tuan Bima.

__ADS_1


"Pasien mengalami pendarahan hebat. Kami membutuhkan donor darah secepatnya. Apakah dia antara kalian ada yang bergolongan darah, AB positif? Kita memerlukan transfusi darah sebanyak mungkin."


BERSAMBUNG…


__ADS_2