Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
ADA APA DENGAN TUAN JOVAN?


__ADS_3

"Aku rasa, kamu salah tentang Bella." Ucap Zyrra saat mereka telah berada di dalam mobil. Melihat kedekatan Bella dan Jonan tadi, Zyrra yakin, bila Bella benar-benar ingin membuka hati untuk Adik iparnya itu.


"Maksud kamu?"


"Aku tadi ketemu sama Bella pas di toilet. Dia datang ke sini sama Jonan dan Joi. Mereka kelihatan seperti sebuah keluarga. Dari mata Jonan terlihat jelas kalo dia sangat mencintai Bella."


Jovan terdiam mendengar cerita istrinya, jauh dalam lubuk hatinya, Jovan senang atas ucapan Zyrra. Tapi, tidak dapat dipungkiri bila Jovan masih ragu tentang ketulusan Bella pada Adiknya. Mengingat hubungan yang telah mereka lalui selama hampir tujuh tahun lamanya. Namun, tidak ada yang tidak mungkin. Toh buktinya hati dan pikirannya dapat berbelok kepada Zyrra. Wanita yang ia nikahi hanya sekedar untuk mengambil hak waris dari sang Kakek. Kini justru membuatnya tergila-gila dan mabuk kepayang.


"Terus menurut kamu kita harus bantu mereka buat ngomong ke Kakek?"


"Kita coba. Aku yakin, Kakek pasti akan setuju."


Jovan kemudian mengangguk dan melakukan mobil mereka menuju tempat yang ingin Zyrra datangi. Tempat yang dimaksud oleh Zyrra rupanya adalah deretan pertokoan yang menjual berbagai macam peralatan. Mulai dari bahan bangunan, tekstil dan masih banyak lagi. Zyrra turun dari mobil, kemudian menuju sebuah toko yang nampak menjual alat kosmetik.


"Selamat siang." Sapa pegawai pria yang menjaga toko tersebut.


"Saya ingin mengambil bahan ini." Zyrra menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan nama salah satu bahan untuk membuat parfum.


"Baik tunggu sebentar." Pria muda itu masuk dan mengambil sebuah botol lalu menyerahkannya kepada Zyrra.

__ADS_1


"Apakah benar yang ini?" Zyrra meneliti nama bahan yang terkandung dalam botol itu. Setelah yakin, ia pun mengangguk. "Apa kamu ingin membuat parfum? Bila ia, pilihanmu sangat tepat. Bahan ini sangat cocok untuk bahan pembuatan parfum. Karena bisa meningkatkan aroma dari parfumu, juga akan menetralkan aroma menyengat dari alkohol."


Zyrra acuh akan perktaan dari pegawai toko di hadapannya. Ia yang memag sudah mahir dalam meracik parfum tentu saja sudah paham akan hal-hal semaxam itu. Sementara Jovan menyaksikan interaksi antara istrinya dan pegawai muda itu dalam diam. Usai mendapatkan bahan yang ia butuhkan, Zyrra kemudian membayar dan meninggalkan tempat itu.


"Semestinya kamu ga perlu repot-repot kesini kalo cuman buat beli bahan ini. Kamu bisa minta Denis buat belinya."


"Denis udah cukup repot sama pekerjaan kantor yang kamu berikan. Aku ga mau nambah beban dia."


KiniJovan kembali diam. Ia sebenarnya tidak ingin melihat pria lain sok akrab kepada istrinya seperti tadi. Dapat Jovan lihat, tatapan kagum dan memuja yang pegawai toko itu tunjukkan pada Zyrra. Hal itulah yang membuat Jovan berkata seperti barusan.


Setelah mengantarkan Zyrra kembali ke kediaman Argantara, Jovan bergegas menuju perusahaan dengan perasaan dongkol. Wajahnya yang memang tercetak tegas, kini makin kaku karena terbawa suasana hati. Semua pegawai perusahaan yang melakukan sedikit kesalahan saja, akan mendapatkan teguran keras darinya. Jovan bahkan tak segan-segan untuk memecat diantara mereka yang membuat suasana hatinya makin keruh.


"Emangnya kenapa? Bukannya tiap hari juga kaya gini ya?"


"Ih. Kamu ini! Emang ia sih, tapi biasanya CEO ganteng kita itu, ga sekejam ini. Masa ia Buk Dona yang udah kerja di perusahaan selama lima belas tahun langsung dipecat cuma gara-gara salah ngasih file?"


"Ah, yang bener kamu?"


"Bener."

__ADS_1


Mendengar penuturan rekan kerjanya, Lola yakin ini semua pasti berkaitan dengan Zyrra. Sebab, hanya wanita itulah yang mampu mempengaruhi suasana hati seorang Jovando Argantara.


"Aku mau ke toilet dulu deh, kebelet." Ucap Lola dan meninggalkan rekan kerjanya. Di dalam toilet, Lola langsung menghubungi Zyrra. Ia ingin meminta agar temannya itu mau membujuk Jovan agar suasana hatinya membaik. Dan juga, akan mendamaikan sesisi perusahaan dari amukan Jovan yang tidak berdasar.


"Ya?"


"Ra. Kamu lagi marahan ya sama Pak Jovan?"


"Ha? Engga. Kenapa?" Zyrra yang baru saja berhasil membuat sebotol parfum untuk ditunjukkannya pada Jovan, menjadi terkejut akan pertanyaan Lola.


"Ya, abis. Suami kamu itu bikin orang-orang di perusahaan jadi jungkir balik."


"Lah, kenapa?"


"Ya mana aku tau. Pokoknya kamu harus tanggung jawab dan datang ke perusahaan sekarang. Kalo engga, bisa-bisa dalam perusahaan ini tinggal dia sendiri. Soalnya yang lain udah krna pecat semua, termasuk aku."


Zyrra mencoba mengingat-ingat apa yang membuat Jovan bisa seperti itu. Ia yakin, tadi mereka masih baik-baik saja. Dan lagi, Jovan bukanlah orang yang berpikiran pendek. Semua keputusan pasti sudah ia pertimbangkan matang-matang terlebih dahulu.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2