Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
ANCAMAN ZYRRA


__ADS_3

Brak...!


Semua berkas-berkas berserakan di lantai setelah Jovan melemparkannya ke udara. Dengan mata memerah, Jovan kembali memarahi bawahannya.


"Kamu kerja di perusahaan ini sudah berapa tahun? Hanya mengerjakan pekerjaan yang semudah ini saja, kamu tidak mampu?! Kerjakan ulang, atau cari perusahaan lain yang mau menampung hasil kerja semacam ini."


"Maafkan saya Tuan. Akan segera saya perbaiki." Ucap Manajer wanita itu sembari memungut semua berkas di lantai. Air matanya mengenang di pelupuk mata, sekuat tenaga ia mencoba untuk menahan agar tidak terjatuh. Setelah semua berkas terkumpul, manajer muda itu segera berlari keluar. Ia bahkan tanpa sengaja menabrak Zyrra yang sedang menuju ruangan suaminya.


"Ah..!"


"Ma..maafkan saya Nyonya. Saya, saya tidak sengaja."


"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" Mendengar pertanyaan Zyrra yang lemah lembut, manajer yang sudah menahan air matanya sedari tadi itu langsung menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Zyrra.


"Hua...!!! Saya sudah berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaan yang Tuan Jovan berikan. Bahkan sudah hampir tiga hari saya tidak tidur untuk menyelesaikan semuanya. Tapi menurut Tuan Jovan, kerja keras saya ini masih kurang memuaskan bahkan semuanya masih salah."


"Biar saya lihat." Manajer pengganti Zyrra itu kemudian menyerahkan dokumen di tangannya. Dengan seksama, Zyrra mulai meneliti hasil laporan tersebut. Dan menurut Zyrra, ini semua sudah cukup baik. Dengan menghembuskan nafas kasar, Zyrra membawa laporan itu menuju ruangan Jovan.


"Kamu kembalilah ke ruanganmu. Biar ini saya yang urus."


Tok...tok..tok...


Zyrra lebih dulu mengetuk pintu ruangan Jovan sebelum masuk. Dan baru saja ia membuka pintu, sebuah map besar telah bersarang di keningnya hingga membuat Zyrra mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Aw..!" Jovan yang tidak mengira itu istrinya, langsung berdiri dan menghampiri Zyrra.


"Astaga sayang, maaf. Ada yang luka? Sini aku lihat."


"Cukup! Jauh-jauh dari aku!" Bentak Zyrra dengan nada lantang yang menggelegar. Untung saja tidak ada orang lain di depan ruangan Jovan saat itu. Jika tidak, entah apa yang akan orang lain bicarakan tentang sikap Zyrra saat ini.


"Kamu kenapa sih? Kalo emang lagi ga mood buat kerja, ya ga usah ke perusahaan. Jangan bawa masalah luar ke sini. Kamu tau, sifat kamu yang sekarang ini, bener-bener kekanak-kanankan." Jovan hanya diam sembari menundukkan wajahnya. Pria berusia 28 tahun itu, layaknya anak kecil yang sedang di marahi oleh Ibunya. Sedikitpun ia tidak berani menatap mata Zyrra saat ini.


"Emang apa sih hak kamu sampe berani melemparkan barang ke wajah orang? Kamu udah ngerasa diri kamu ini Dewa? Tuhan? Atau orang yang paling berkuasa?"


"Aku ga bermaksud buat ngelakuinnya ke kamu, aku-"


"Oh, jadi, kamu mau ngelakuinnya ke siapa? Denis? Jonan? Atau siapa?! Gimana kalo yang berdiri di sini tadi itu Kakek? Menurut kamu, dia bakal mikir apa? Kamu sebentar lagi bakal jadi Ayah, apa kamu mau anak kamu nanti ngikutin sifat kamu yang semena-mena gini?"


"Maaf," Satu kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Perasaan yang semula kacau balau, perlahan mulai tenang.


"Kamu ga usah minta maaf sama aku. Minta maaf, sama mereka yang udah kamu bikin susah hari ini."


"Tapi,-"


"Apa? Ga mau? Ya udah, ga usah temuan aku dulu, sampe kamu ngelakuinnya." Zyrra berbalik dan ingin meninggalkan Jovan. Tapi buru-buru di cegah oleh suaminya itu dengan wajah sendu.


"Ok, nanti aku akan minta maaf sama mereka. Sekarang kamu jangan marah lagi sama aku ya?"

__ADS_1


Tanpa jawaban, Zyrra hanya menuruti Jovan yang menariknya masuk ke dalam ruangan. Pria itu mulai bermanja-manja layaknya bocah berusia lima tahun. Bedanya, bila bocah lima tahun akan meminta dipangku, Jovan kini justru yang memangku sang istri.


"Tumben kamu kesini jam segini. Ada apa?"


"Nih." Zyrra menyodorkan sebuah bingkisan yang berisikan botol parfum pada Jovan. Semula, Jovan pikir itu adalah hadiah dari Zyrra untuknya. Mengingat, selama mereka menikah, Zyrra hampir tidak pernah berinisiatif lebih dulu padanya. Dengan wajah bahagia, Jovan membuka bingkisan itu.


"Parfum?" Senyum cerah Jovan perlahan sirna. Kini ia tau, bila kedatangan Zyrra ke kantornya bukan untuk memberikan hadiah. Melainkan untuk menunjukkan Parfum buatannya.


"Gimana? Kamu suka aromanya? Cocok ga buat jadi pengharum di hotel kamu?"


"Em, baunya enak. Aku rasa ini akan cocok."


"Berarti kamu ga perlu nerima tawaran dari orang itu kan?"


"Ya, sesuai janji yang kita sepakati, aku bakal lepas kerjasama dengan dia. Tapi, bisa kamu jelaskan kenapa kamu ga mau aku ambil kerjasama ini?"


"Engga papa. Aku cuma mau nunjukin bakatku aja. Toh, kalo aku bisa bikin pengharum yang lebih baik, kenapa juga harus pake punya orang lain? Ia kan?"


"Ok. Kebetulan hari ini orang itu bakal datang lagi buat membahas kerja sama ini. Jadi kamu bisa denger langsung aku membatalkan kerja sama kami."


Tok...tok..


Kini pintu ruangan Jovan kembali diketuk. Sepasang pria dan wanita masuk ke dalam ruangan itu. Untungnya, Zyrra sudah berpindah dari atas pangkuan Jovan ke atas sodara disisinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2