
Pesta yang begitu meriah dengan lampu gemerlapan di setiap sudut, membuat kian menarik pesta tersebut. Wanita cantik, minuman keras, serta musik yang berdentum keras adalah pemandangan yang Wen Xie Luo dapati di tempat itu. Ia berjalan di sisi Hendrix, mereka akan menemui seorang pria yang akan membantu untuk menghancurkan keluarga Argantara.
"Danone, sorry just came. I had a little trouble finding this place.'' Sapa Hendrix pada seorang pria tua dengan tato di seluruh tubuhnya. Pria itu hanya mengangkat sebelah alis dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
(Danone, maaf baru datang. Aku sedikit kesulitan menemukan tempat ini.)
"I've brought a beautiful woman to make up for our delay. She is the daughter of the Wen family. You must have heard the news about him, right?" Pria bernama Danone itu sedikit tersenyum lalu menatap ke arah Wen Xie Luo. Setelah melihat kecantikan yang Wen Xie Luo miliki, barulah ia mempersilakan Hendrix untuk duduk.
(Aku sudah membawakan seorang wanita cantik untuk menebus keterlambatan ku kali ini. Dia adalah putri dari keluarga Wen. Kau tentu sudah mendengar berita mengenai dirinya bukan?)
"Hurry and come to him. Don't let this opportunity just slip away because of your stupid mistake." Bisik Hendrix sembari mendorong tubuh Wen Xie Luo ke arah Danone. Wen Xie Luo yang tidak punya pilihan hanya bisa mengumbar senyum palsu seraya berjalan ke arah pria tua yang menatapnya dengan tatapan menjijikkan. Dengan patuh, Wen Xie Luo duduk dipangkuan Danone sembari membiarkan pria cabul itu menggerayangi tubuh indahnya.
(Cepat datangi dia. Jangan biarkan kesempatan ini lenyap begitu saja karena kesalahan bodohmu.)
"What do you want?"
__ADS_1
"It's easy, I just want you to work with me to destroy the Argantara family."
"Ha ha ha...! You think your old woman will make me comply with your ridiculous request? You know when it's not worth it." Ucap pria tua itu merendahkan Wen Xie Luo. Dengan geram Wen Xie Luo bangkit lalu melayangkan sebuah tamparan ke wajah Danone. Ia sudah cukup bersabar dalam menahan jijik ketika Danon menggerayangi tubuhnya. Tapi Wen Xie Luo tidak dapat menahan emosi tatkala pria itu menghina dirinya.
(Hahaha...! Kau pikir dengan wanita bekasmu ini akan dapat membuatku menuruti permintaan kinyolmu ini? Kau tau bila ini tidak sepadan.)
"Enough! You've gone too far disgusting old man! Do you think I can voluntarily give up my body for you? In fact, I don't even want to let you touch a strand of my hair." Wen Xie Luo yang sudah menahan emosinya semenjak kedatangan mereka di tempat itu, kini meluapkan semuanya. Wanita itu bahkan tidak segan-segan memberikan tatapan mencemooh pada Danone yang membuat wajah pria itu jadi merah padam. Ia paling benci mendapati tatapan itu dari orang lain.
(Cukup! Kau sudah amat keterlaluan pria tua menjijikkan! Apakah kau pikir, aku ini bisa dengan suka rela menyerahkan tubuhku untukmu? Bahkan, sehelai rambutku ini pun tidak sudi kubiarkan kau menyentuhnya.)
"Your stray cat is quite interesting. Okay. I will cooperate with you." Perkataan tak terduga dari Danone membuat Hendrix dan Wen Xie Luo tercengang. Bukan hanya tidak murka atas hinaan yang Wen Xie Luo berikan, tetapi masih menyetujui kerjasama itu. Wajah Hendrix langsung berubah sumringah dan menjabat tangan Danone.
(Kucing liarmu ini cukup menarik. Baiklah. Aku akan bekerja sama denganmu.)
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Zyrra beserta putri kecilnya sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan bersama Lola. Mereka tengah membeli beberapa kebutuhan sehari-hari juga sekalian untuk makan siang bersama.
Setelah melahirkan Zea beberapa bulan yang lalu, tubuh Zyrra justru semakin padat berisi. Hal itu tentu membuat dirinya kembali menjadi pusat perhatian. Banyak tatapan iri dan sekaligus memuja yang ia dapati dari setiap pengunjung.
Bila ditanya apakah ia tidak risih, tentu Zyrra akan menjawab, sangat. Tapi, wanita cantik itu lebih memilih untuk acuh seakan semuanya adalah hal yang biasa saja.
Akan tetapi tidak dengan Lola, ia yang tidak terbiasa mendapati tatapan seperti demikian tentu merasa tidak nyaman. Meskipun ia sadari bila tatapan itu bukanlah untuknya, namun tatap saja, Lola merasa seperti terintimidasi.
"Ra, kamu ga ngerasa ada yang aneh sama orang-orang di sini? Mereka kaya lagi ngeliatin kamu deh." Bisik Lola sambil melihat ke sekitar.
"Udah biarin aja. Mungkin pesona kamu bikin mereka terpesona dan iri." Jawab Zyrra santai, sambil terus men dorong kereta bayi milik putrinya.
"Kamu pikir aku buta? Tatapan itu jelas-jelas buat kamu. Aku bingung, mereka ini baru liat perempuan bawa bayi atau emang ada yang salah sama otak mereka?"
Lola terus menggerutu sepanjang jalan, hingga mereka bertiga tiba di sebuah resto makanan cepat saji barulah mulut wanita muda itu berhenti. Tempat yang tidak memiliki banyak pengunjung itu membuat Lola bisa bernapas lega seakan lepas dari jeratan yang menyesakkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG....