
Di perusahaan yang baru saja mereka dirikan, Jonan dan Bella tengah sibuk mengatur para model baru dan juga para karyawan. Memang tidaklah mudah dalam mendirikan sebuah perusahaan. Apalagi itu semua mereka rintis dari bawah tanpa bayang-bayang dari dua belah pihak keluarga besar mereka masing-masing. Jonan dan Bella berkomitmen untuk mengembangkan bisnis hasil jerih payah mereka sendiri.
"Yang, sebentar lagi jam Joi pulang sekolah. Aku masih sibuk banget sama mereka, kamu bisa ga jemput Joi dulu?" Tanya Bella yang tetap memfokuskan matanya pada gaun dan riasan modelnya.
"Ga papa. Kebetulan urusanku juga udah selesai, jadi aku bisa jemput Joi. Kalo gitu aku pergi dulu."
"Ok,"
Jonan mencium pipi sang istri sebelum pergi menjemput putra semata wayang mereka. Tetapi di dalam perjalanan, tiba-tiba saja ponsel Jonan berdering. Rupanya itu panggilan dari perusahaan sang Kakek. Ya, meskipun Jonan telah mengundurkan diri dari perusahaan, tetapi ia masih memiliki tanggung jawab yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja di sana.
"Ya?"
"Maaf Tuan, ada keadaan darurat di perusahaan. Sedangkan Tuan Jovan sedang tidak berada di sini. Saya harap Anda dapat segera kemari untuk menangani masalah ini."
"Masalah? Masalah apa?"
"Salah seorang klien mengajukan komplain atas kerjasama di kota Y. Mereka mengatakan bila perusahaan Argantara grup telah melakukan penggelapan dana dan membuat kerugian pada perusahaan mereka."
Jonan memijit tulang hidungnya yang terasa berdenyut, ia bingung harus bagaimana. Ia tidak mungkin membiarkan masalah ini terlalu lama, tapi ia juga harus menjemput Joi pulang. Akhirnya Jonan menghubungi Zyrra untuk meminta bantuan menjemput Joi di sekolahnya. Tanpa butuh waktu lama untuk Zyrra menyetujui permintaan Jonan. Dengan perasaan lega, akhirnya Jonan menuju perusahaan Kakeknya untuk menangani masalah di sana.
ππππππππππππ
__ADS_1
Setelah mendapat telpon dari Jonan yang mengatakan untuk menjemput Joi, Zyrra bergegas mendatangi pak Edi dan meminta pria itu untuk mengantarkannya. Bersama beberapa orang bodyguard di sisinya, Zyrra menjemput putra sulungnya ke sekeloah. Beberapa orang tua murid yang juga menjemput anak-anak mereka, menatap kedatangan Zyrra dengan tatapan heran. Bagi sebagian besar yang sudah mengetahui siapa Zyrra, tentu sudah tau mengapa Zyrra datang dengan begitu banyak bodyguard. Sedangkan bagi yang belum mengenal dirinya, mereka diam-diam bergosip dan menatap iri.
"Eh, lebay banget ga sih orang itu? Masa jemput anaknya ke sekolah aja harus bawa bodyguard sebanyak itu. Emang dia kira disini itu arena tempur apa? Ish.." Bisik seorang wanita yang terlihat sedikit lebih tua dari Zyrra. Ia berpenampilan mewah dengan cincin berlian besar di jarinya.
"Ia, ya, jeng. Emang dia siapa? Istri presiden, sampe harus di kawal segitunya?" Balas wanita yang duduk tak jauh dari wanita tadi. Penampilannya tak kalah nyentrik dari lawan bicaranya, ia pun mengenakan perhiasan serta barang-barang branded.
"Kayanya dia bukan kalangan sosialita kaya kita deh, Say. Soalnya aku belum pernah liat dia gabung di acara orang-orang penting atau ibu-ibu pejabat tuh."
"Viks! Dia pasti orang kaya baru. Pantes aja gayanya sok banget."
Begitulah gosip di antara Ibu-ibu yang melihat kedatangan Zyrra. Zyrra memang tidak pernah menghadiri acara wanita kelas atas. Mungkin dia hanya akan sesekali ikut Jovan ke acara-acara tertentu. Itu pun bila Jovan tidak memberitahukan kemana mereka akan pergi.
"Kamu ga tau? Dia itukan menantu pertama keluarga Argantara, istrinya pak Jovando."
"Ah, pantes aja aku kaya pernah liat. Ia, dia pernah datang ke acara perusahaan kami beberapa bulan lalu. Wah, dia harus masuk server kita nih. Kalo bisa jalin hubungan baik sama Argantara grup, perusahaan suamiku pasti juga bakal untung besar."
"Kamu bener. Yuk kita samperin." Keduanya lalu mendekati Zyrra yang terlihat asyik dengan ponselnya.
"Permisi, Nyonya Argantara kan? Saya Mala, mamahnya Juna dan ini sahabat saya Rona, mamahnya Sella. Nyonya sedang nunggu anaknya?"
Zyrra menjabat balik tangan kedua wanita di hadapannya itu. Dengan senyum formal, Zyrra mengangguki pertanyaan mereka.
__ADS_1
"Putra saya bernama Joi."
"OOO, ternyata putra Nyonya bernama Joi? Joi itu anak yang pintar dan rajin. Juna adalah teman akrabnya. Mereka sering main bareng."
"Ia, Sella juga sering ikut nemenin mereka berdua. Dan Sella juga sering cerita kalo Joi itu anak yang baik."
Belum lagi puas kedua orang itu berbincang dengan Zyrra, anak-anak telah berhamburan keluar dari sekolah. Joi, yang melihat Zyrra datang menjemputnya langsung memeluk erat tubuh sang Mama.
"Mamah...!"
"Hai sayang, em, kangennya Mamah."
"Ia, Joi juga kengen. Kok tumben Mamah yang jemput Joi?"
"Ia sayang, tadi Papi kamu bilang kalo dia ga bisa jemput kamu karena ada urusan penting di perusahaan Eyang yang ga bisa ditinggalin. Mommy kamu juga masih sibuk di perusahaan, jadinya Mamah deh yang jemput Joi. Joi ga marah kan?"
"Engga dong, Ma. Joi malah seneng banget. Jadi hari ini bisa main bareng Dedek bayi deh."
Kedua orang wanita yang semula berbincang dengan Zyrra kebingungan mendengar obrolan Ibu dan anak itu. Bagaimana mungkin seorang anak mempunyai dua ibu? Atau jangan-jangan Zyrra adalah seorang pelakor?
BERSAMBUNGβ¦
__ADS_1