Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
JOI SAKIT


__ADS_3

Akhirnya Jovan tiba di meja mereka bersamaan dengan datangnya makanan yang mereka pesan. Tanpa ada perbincangan di antara keduanya, mereka sama-sama menikmati pesanannya masing-masing.


Ponsel Jovan bergetar, ada sebuah panggilan masuk. Jovan mengambil ponsel itu dari dalam saku celana. Dilihatnya panggilan yang berasal dari Bella, baru diingatnya bila ia memiliki jajnji temu dengan wanita itu siang ini.


Buru-buru ia bangkit dari tempat duduknya, dan berlari meninggalkan Zyrra. Saat dia sudah berada lumayan jauh dari tempat Zyrra, Jovan kembali lagi kemeja wanita itu.


"Aku ada janji, kamu pulanglah dulu. Aku akan menyuruh Pak Madi untuk menjemputmu." Usai berkata demikian Jovan kembali berlari manjauh dari Zyrra.


'Jangan-jangan dia ingin menemui Bella? Apakah aku harus memberitahukan ini pada Kakek?' Batin Zyrra berfikir. Kemudian, wanita itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menghubungi Tuan Bima.


"Jovan tadi pergi dengan terburu-buru,apakah dia menemui kekasihnya?"


"Mungkin,biar Kakek yang tangani ini. Kamu pulanglah dulu." Ucap Tuan Bima dari dalam telfon.


"Baik Kek, tapi ku rasa, biarkan mereka untuk bertemu lebih dulu hari ini. Karena Jovan akan mencurigaiku bila kali ini Kakek kembali menghalangi pertemuan mereka."


"Baiklah aku paham."


Panggilan pun diakhiri, Zyrra bangkit dari kursinya lalu kembali ke kediaman Argantara bersama supir yang telah menjemputnya. Dia teringat akan Joi yang berada di rumah, Zyrra memutuskan untuk mampir ke sebuah toko mainan dan membelikan beberapa untuk Joi sebagai oleh-oleh.


Sementara itu di tempat lain, Jovan dan Bella tengah asik melepaskan rasa rindu di sebuah rumah mewah yang mereka beli untuk menjadi rumah masa depan mereka kelak. Keduanya saling memagut dan bercumbu mesra satu sama lain. Namun, kali ini Jovan tidak menikmati ciuman itu. Fikrannya justru teringat akan kejadian waktu dia dan Zyrra secara tidak sengaja berciuman.


Hal itu membuatnya merasa bersalah pada wanita itu. Ia seakan akan sedang berselingkuh saat ini. Padahal hubungannya dengan Zyrra hanya sebatas pernikahan kontrak, dan tidak boleh ada rasa lain, sebab cintanya hanya untuk Bella.


Tapi entah mengapa, kini ia benar-benar tidak bisa menikamati kemesraan bersama wanita yang bersetatuskan kekasihnya. Seberapa keraspun dia mencoba menyingkirkan wajah Zyrra dari memory otaknya tapi, wajah dingin nan cantik itu selalu saja muncul.


Akhirnya Jovan menghentikan cumbuan keduanya, dan membuat Bella merasa bingung dengan apa yang Jovan lakukan. Ia menatap pria itu lalu bertanya "Kenapa sayang? Apakah ada yang salah?"

__ADS_1


Jovan menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Bella "Tidak, aku hanya lelah. Belakangan ini di Perusahaan banyak sekali pekerjaan."


"Begitukah?" Tanya Bella ragu. Ia yakin, bila Jovan tengah menyembunyikan hal lain. Namun, ia tidak ingin berburuk sangka pada kekasihnya itu, Bella hanya bisa berharap semoga prianya itu tidak terjebak dalam permainan yang dibuat olehnya sendiri.


...****************...


Kembali ke kediaman Argantara, Zyrra yang menenteng banyak barang membawanya ke kamar Joi. Ia meletakkan satu persatu mainan yang dibelinya tadi ke atas meja di kamar pria kecil itu.


'Saat dia bangun nanti, pasti Joi akan sangat senang' Batin Zyrra dan menghampiri Joi yang tertidur di atas ranjangnnya. Namun, semakin dekat jaraknya dengan bocah lelaki itu, semakin jelas pula wajah pria kecil itu yang nampak pucat. Segera Zyrra memegang kening Joi, rupanya anak itu saat ini sedang demam tinggi. Muncul ruam dan pembengkakkan di tubuh bocah itu.


Karena panik, hal yang pertama Zyrra lakukan adalah menghubungi nomor Jovan.


"Joi sakit, aku harus bagai mana?" Suara Zyrra terdengar bergetar. Wanita itu kini tengah menahan isaknya, Zyrra takut akan kehilangan Joi, seperti dia kehilangan Nenek Salma.


"Tenanglah, aku akan menghubungi seorang Dokter dan memintanya untuk datang ke rumah. Sementara dokter tiba kau jangan panik." Pinta Jovan mencoba menenangkan Zyrra.


"Ok, aku pulang. Kamu tenang dulu, dokter akan segera tiba."


Panggilanpun diakhiri, Bella yang melihat ekspresi panik kekasihnya ikut bangkit dari duduknya dan bertanya "Ada apa? Kakek sakit?"


"Tidak, aku harus kembali sekarang, bay."


Cup!


Satu kecupan diberikannya pada Bella di pipi, lalu meninggalkan wanita itu, dan menuju mobilnya. Jovan mencoba menghubungi Dokter pribadi keluarga Argantara.


"Halo, cepet datang kerumah!"

__ADS_1


Hanya itu saja yang di ucapkannya, panggilan pun diakhiri. Jovan menyalakan mesin mobil dan menancap pedal gas agar segera menuju kediaman Argantara.


Bella menatap kepergian Jovan dengan nanar, ia makin menyadari perubahan sifat dari pria yang dicintainnya selama enam tahun ini. Bella tidak dapat menghentikan kepergian Jovan, ia hanya bisa berdoa agar semua itu hanya ilusinya saja.


Setelah hampir setengah jam Dokter Radit tiba, bersamaan dengan mobil Jovan yang terparkir di halaman. Mereka bergegas menuju kamar Joi dan menemukan Zyrra yang tengah menggenggam jemari anak itu sambil menangis.


Keduanya melangkah mendekat, Jovan mencoba menenangkan Zyrra, sementara Dokter muda itu mulai memeriksa keadaan Joi.


"Sepertinya dia mengalami alergi serius, apa yang dikonsumsinya pagi ini?" Zyrra mencoba mengingat apa saja yang dimakan Joi pagi tadi.


"Hanya sereal, susu, dan biscuit kacang."


"Kita harus membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif, juga akan melakukan tes darah untuk mengetahui apakah penyebab alergi yang terjadi pada anak ini." Ucap Dokter Radit pada Jovan. Jovan mengangguk dan segera membawa tubuh Joi menuju mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit Joi di bawa menuju ruang rawat, para suster memasangkan infus dan menyuntikkan obat di dalamnya. Mata indah anak itu masih terpejam rapat, walau suhu panas di tubuhnya berangsung menurun.


Jovan dan Zyrra menunggunya di sofa panjang yang tersedia di ruang rawat Joi, sevab Jovan menempatkannya di ruang VVIV. Dokter pribadi keluarga Argantara masuk, dan menjelaskan alergi yang terjadi pada Joi disebabkan oleh kacang. Namun, kondisi anak itu kini sudah berangsur membaik, hanya tinggal menunggu kesadarannya saja.


Zyrra kini bisa bernafas lega, kekhawatiran yang ia rasakan telah berkurang. Begitu pula dengan Jovan, pria berusia 28 tahun itu baru kali ini mengkhawatirkan keadaan orang asing. Semua itu karna Zyrra, entah mengapa tanpa sadar wanita itu ikut mempengaruhi emosionalnya.


"Untuk malam ini biarkan dia di rawat di sini, agar mempermudahkan kami memantau kondisinya." Ucap Dokter Radit dan berlalu pergi meninggalkan Jovan dan Zyrra.


"Kamu pulanglah, biar aku yang menjaganya di sini. Maaf sudah merepotkanmu, aku benar-benar panik tadi." Ucap Zyrra lirih sambil menundukkan kepalanya.


Ini kali pertama Jovan mendengar ucapan lembut dari Zyrra. Biasanya wanita itu hanya akan berkata dengan nada dingin, atau bahkan tidak berbicara sama sekali. Jovan tersenyum lembut akan permintaan maaf dari Zyrra, kemudian mengangguk dan berlalu pergi.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


***tolong beri like,komen dan jadikan faforitnya😄😄***


__ADS_2