Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
KEMBALI KE KOTA A


__ADS_3

Hari ini Tuan Bima dan Jovan memutuskan untuk membawa Zyrra kembali ke kota A. Di karenakan kondisi Zyrra yang masih lemah, jadi mereka menggunakan ambulans untuk membawanya menuju bandara. Bahkan Dokter Radit telah berada dalam pesawat guna memantau keadaan Zyrra di perjalanan nanti.


(Prof author : padahal jarak dari kota A dan Batam cuma 30 menit kalo pake pesawat 😞


Emang ya, kalo orang kaya itu bebas😃)


Setibanya mereka di pesawat, Zyrra dibaringkan ke atas tempat tidur yang sudah disiapkan oleh Jovan. Joi, menemani wanita yang sudah menjadi ibu angkatnya itu saat ini.


"Luka di wajahnya gak terlalu parah, mungkin hanya butuh sedikit waktu aja buat kembali pulih."


"Bisa gak, kalau aku gak usah di rawat di rumah sakit? Aku bosan di sana." Pinta Zyrra pada Jovan dengan tatapan yang memandang ke arah luar jendela. Pesawat yang telah mengudara, menampakkan awan putih cantik di luar jendela bulat kecil itu.


"Bisa?" Tanya Jovan pada Dokter Radit yang dibalas anggukan olehnya.


"Gak masalah, nanti aku suruh beberapa perawat aja buat memantau kondisinya."


"Tidak, tidak. Aku mau kamu langsung yang memantau kondisinya." Tolak Jovan langsung.


Ia ingin memberikan pelajaran pada orang itu karena tidak bertanggung jawab padanya saat terluka malam itu. Jovan yakin, bila dengan memberikan Radit bersama dengan Zyrra, akan menyiksa bagi pria itu.


"Ta..tapi aku harus menghadiri sebuah seminar di kota C untuk satu minggu ini." Jelas Dokter Radit pada Jovan dengan wajah memelasnya.


Tanpa mau tau dengan apapun penjelasan dari Radit, Jovan memberikan tatapan tajamnya pada lelaki itu. Yang menjelaskan bila keputusannya tidak dapat di bantah.


Melihat hal itu, Dokter Radit langsung menciut bagai kerupuk tercebur kedalam mangkuk yang berisi air.


"Ok, ok!" Jawabannya cepat.


Pesawat tiba di bandara kota A, beberapa mobil telah menyambut kedatangan mereka. Dua orang pria bertubuh tinggi tegap dan berparas tampan turun dari dalam mobilnya.

__ADS_1


"Bagaimana perusahaan, apakah baik-baik saja?" Pertanyaan itu keluar dari Jovan pada Asisten kepercayaannya dan sang Adik.


"Semuanya ok! Lo tenang aja, gue masih bisa hendle beberapa di sini. Sisanya Denis yang urus, cuma beberapa aja yang emang harus lo langsung yang tanganin," Jelas Jonan.


Mereka pun kembali ke kediaman Argantara, rencana awal yang akan membawa Zyrra menuju rumah sakit dibatalkan karena wanita itu menolak. Joi yang tertidur dipangkuan Jonan, dibawa pria itu ke dalam kamarnya.


Ada suatu perasaan aneh bagi Jonan, saat dia berada dekat dengan anak ini. Mungkin hal itu di karenakan mereka sudah terbiasa bersama atas ada hal lain, Jonan sendiri pun tidak mengerti.


Sedangkan di kamar lain, Jovan yang membawa Zyrra menuju kamar mereka, kini tengah membantu wanita itu untuk membaringkan diri ke atas ranjang. Ia juga telah menyiapkan beberapa pelayan untuk membantu Zyrra saat menginginkan sesuatu.


"Dokter Radit ada di kamar sebelah, kalau kamu kembali merasakan sakit suruh mereka segera memanggilnya kemari." Ucap Jovan sebelum meninggalkan Zyrra.


Padahal luka seperti saat ini adalah hal biasa bagi Zyrra, karena dulu sewaktu di panti gadis itu telah mendapatkan pendidikan Karate. Dan mendapatkan memar serta beberapa pukulan dari sang mentor adalah makanan sehari-harinya. Tapi wanita itu malas untuk membantah ucapan Jovan yang berakhir perdebatan di antara mereka. Jadi Zyrra hanya mengangguk sepintas tanpa menatap wajah Jovan.


Jovan pergi dari kamar mereka dan meninggalkan Zyrra bersama para pelayan. Dia memutuskan untuk kembali ke Perusahaan yang sudah beberapa hari ini tidak ia kunjungi.


Di perjalanan, pria itu mendapatkan telepon dari sang kekasih. Segera Jovan menyambut telpon itu dan menepikan mobilnya di halaman pusat perbelanjaan.


"Tentu saja, akupun merindukanmu." Entah mengapa ucapan Jovan kali ini pada Bela terasa hampa, ia meresa seolah-olah tengah berbohong. Akan tetapi, ia selalu memaksa pikirannya bila semua itu karena lama tidak berjumpa dengan wanita itu.


Keduanya kini bertemu di sebuah restoran mewah, seperti ucapan Bella bila ia sangat merindukan Jovan. Wanita itu benar-benar menikmati waktu kebersamaan mereka. Berbeda dengan sang pria, Jovan nampak tak begitu bersemangat kali ini.


"Sayang, kenapa? Apakah ada yang salah? Kamu terlihat tidak menikmati waktu kita."


"Tidak, aku hanya sedang banyak pikiran saat ini. Entahlah, akupun tidak mengerti."


"Apakah ini karena istrimu?" Sakit, saat dia mengucapkan wanita lain yang menjadi istri kekasihnya. Namun, itulah kenyataannya saat ini. Dia memang orang yang dicintai Jovan untuk saat ini, tapi entah sampai kapankah cinta itu akan bertahan di antara keduanya. Perlahan-lahan sikap Jovan berubah padanya, ia dapat merasakan dengan jelas akan hal itu.


"Tidak, aku tidak pernah menganggapnya sebagai istriku. Hanya kaulah satu-satunya wanita yang kucintai. Mungkin ini semua karena pekerjaan di perusahaan yang memang sangat membutuhkan pengawasan langsung dariku."

__ADS_1


Sedikit rasa lega yang Bella dapatkan saat Jovan mengucapkan bila hanya dia wanita yang dicintainya. Namun, entah mengapa masih belum bisa menutupi rasa hampa dalam hatinya.


Wanita itu pun tersenyum pada Jovan dan menggenggam jemari pria itu, seakan memberikan kepercayaan dan semangat untuk sang kekasih dihapadapannya itu.


...****************...


Kembali ke kediaman Argantara, beberapa orang di sana tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Di dalam ruangannya, Tuan Bima tengah berbicara dengan orang kepercayaannya. Kedua orang itu saat ini tengah membahas mengenai asal usul Joi.


"Jadi yang diceritakan oleh Zyrra tentang anak itu benar? Apakah tidak ada petunjuk lain di tempat itu yang kau dapatkan?"


"Maaf Tuan, untuk saat ini masih belum ada. Tapi kami akan terus berusaha mencarinya." Ucap orang kepercayaan Tuan Bima, dengan nada lemah dan wajah yang tertunduk.


"Baiklah, aku sangat penasaran tentang asal usul anak itu. Bagaimana bisa ia memiliki wajah yang begitu mirip dengan Cucuku Jovan."


"Apakah tidak sebaiknya Tuan melakukan tes DNA untuk melihat hubungan keduanya?"


"Kau benar, mungkin ini bisa menjawab pertanyaanku."


Sementara keduanya membahas perihal asal usul Joi, Zyrra di kamarnya memerintahkan semua pelayan yang di tempatkan oleh Jovan untuk meninggalkannya.


"Maaf Nyonya, tapi kami tidak berani melanggar perintah Tuan Muda Jovan. Kami, takut dipecat Nyonya." Ucap salah satu pelayan pada Zyrra.


Dengan menghembuskan nafas berat terlebih dahulu akhirnya Zyrra berucap "Tapi aku tidak bisa beristirahat dengan tenang kalau kalian terus berdiri di sana."


"Maafkan kami Nyonya, ini adalah perintah langsung dari Tuan Muda Jovan."


Zyrra memutar bola matanya jengah, ia tidak mungkin memaksa para pelayan itu meninggalkannya karena takut Jovan akan memecat mereka. Akhirnya wanita itu hanya bisa memaksakan matanya agar dapat terpejam.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


*** Tolong terus dukung karyaku dengan memberikan like dan jadikan vaforit***


__ADS_2