
Setelah selesai membersihkan tubuh, Jovan dan Zyrra kembali lagi ke kamar mereka. Jovan meraih ponselnya dan menghubungi Dinas, ia meminta asistennya itu membelikan baju ganti untuknya serta untuk Zyrra.
Setelah menelpon Jovan duduk di sisi Zyrra dan mulai menginterogasi wanita itu.
"Apa yang terjadi padamu semalam? Bagaimana bisa kamu sampai berakhir di sini?"
Zyrra mulai mengingat peristiwa yang menimpanya sebelum ia tiba di hotel ini. Seingatnya semalam ia ingin pulang dan ada sebuah tangan yang membekap mulutnya dengan obat bius. Tapi sebelum pingsan ia sempat melakukan perlawanan dan melihat wajah si pria br*ngs*k itu.
"Putu?" Ucap Zyrra mengepalkan buku jarinya erat.
"Apakah lelaki b*ad*b itu yang sudah membawamu kemari?"
"Aku ingat dengan jelas dialah lelaki yang berdiri di hadapanku saat itu sebelum semuanya menjadi gelap."
"Aku yakin dia jugalah yang sudah memberikan obat perangsang dengan dosis besar untukmu, hingga aku harus berkerja keras untuk dapat menyelamatkan kamu dari ambang kematian."
"Menyelamatkanku?" Cibir Zyrra dengan mata yang menatap remeh Jovan.
"Apa maksud dari tatapanmu itu? Apa kamu pikir aku sedang memanfaatkan kondisinu dan mengambil keuntungan? Hei, aku adalah pria sejati yang tidak ingin mengambil sesuatu dari orang yang sedang tidak berdaya."
Zyrra memutar bola matanya jengah, bagaimana mungkin pria di hadapannya itu mengatasnamakan membantu dirinya dan malah merebut hal yang paling berharga dari dirinya.
Jovan kembali menjelaskan pada wanita itu agar tidak ada kesalahan pahaman di kemudian hari.
"Semalam aku sudah menghubungi Radit untuk meminta obat penawar padanya namun, ia mengatakan tidak ada obat penawar yang tersedia bagi pasien yang sudah mendapatkan dosis besar. Dan bila aku tidak melayani kamu, akan berakibat serangan jantung atau lebih buruk lagi yaitu kematian."
Walaupun Jovan sudah menjelaskan kronologi dan alasan mengapa ia sampai merenggut mahkota wanita yang sudah menjadi istrinya itu namun, Zyrra tetap saja tidak dapat mempercayai ucapan lelaki itu begitu saja. Wanita itu masih sangat kecewa pada Jovan saat ini, bukankah semua itu terjadi juga karena kekonyolannya yang meminta setiap manajer untuk menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum pulang?
Tok..tok...
Suara ketukan di pintu membuat Jovan bangkit untuk membukakan pintu itu. Jovan yakin yang ada di balik pintu itu pasti Denis yang membawakan pakaian ganti untuknya juga Zyrra.
Dan benar saja, ketika Jovan membuka pintu lelaki tampan itu telah membungkuk memberi hormat pada Jovan dengan beberapa paper bag di tangannya.
__ADS_1
"Selamat malam Tuan, ini pakaian yang anda minta." Ucap Denis dan menyerahkan paper bag itu pada Jovan.
Jovan pun membawa paper bag itu kembali, ia juga meminta Denis untuk memeriksa rekaman CCTV semalm, yang ada di perusahaan. Bila memang pria bernama Putu itulah yang berniat mencelakai Zyrra maka, Jovan akan membuat perhitungan terhadapnya.
"Periksa rekaman CCTV kemarin malam di perusahaan dan kirimkan padaku hasilnya."
"Baik Tuan." Denis bangkit dan meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke perusahaan dan memeriksa rekaman CCTV sesuai permintaan sang atasan.
"Nah baju untukmu. Kita akan turun dan makan."
Zyrra meraih paper bag dari tangan Jovan, tapi ia tidak dapat pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian, jadi Zyrra meminta Jovan lah yang pergi ke sana.
"Kamu ganti baju di kamar mandi, aku mau ganti di sini."
"Kenapa aku harus ganti baju di kamar mandi?" Tanya Jovan menatap lekat mata Zyrra, bahkan wajah keduanya hampir saja bersentuhan singkong dekat jarak keduanya.
Hal itu membuat jantung Zyrra berdengung kencang, baru kali ini ia berdebar saat berada dekat dengan pria yang bersetatuskan suaminya itu.
"Ya karena aku ingin berganti pakaian,"
Pertanyaan Jovan sontak saja membuat Zyrra kesal, ia mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh darinya.
"Dasar mesum!"
"Hei, aku kan hanya bertanya, kenapa kamu harus marah?"
Zyrra tidak menghiraukan ucapan Jovan dan mulai mengenakan pakaian itu satu per satu langsung di hadapan Jovan. Zyrra tau semakin ia berdebat dengan lelaki itu, maka semakin pusing pula dirinya akan ucapan lelaki itu. Dengan senyum jahilnya pria itu memandang setiap pergerakan yang dilakukan oleh Zyrra.
"Udah puas liatinnya?" Tanya Zyrra dengan wajah cemberut yang sudah selesai mengenakan pakaian.
"Belum, aku masih ingin terus melihat kamu."
Zyrra sampai ternganga akan ucapan yang keluar dari mulut lelaki dihapannya itu. Ia tak menyangka, seorang Jovando Argantara yang terkenal dingin serta anti pada wanita dapat berucap gombalan seperti sekarang.
__ADS_1
Zyrra hanya bisa menggeleng dan memijit pangkal hidungnya, ia tak tau lagi harus berkata apa agar membuat lelaki itu berhenti mengeluarkan ucapan yang membuat telinganya gatal.
"Apakah kita akan terus di sini? Lalu bagaimana dengan makan malam yang Kamu ucapkan tadi?"
"Em, baiklah. Ayo kita turun dan makan malam." Ajak Jovan sambil menggamit telapak tangan Zyrra.
Namun, Zyrra seperti kesulitan saat berjalan, jadi Jovan berinisiatif untuk menggendong saja wanita itu menuju restoran yang tersedia di hotel tempat mereka menginap.
"Ah...!" Pekik Zyrra ketika merasakan tubuhnya melayang dan sudah berada di dalam gendongan Jovan.
"Apa yang kamu lakukan? Kita akan menjadi tontonan banyak orang!" Ucap Zyrra setengah berbisik.
"Biarkan saja! Toh kita ini suami istri, jadi wajar bila aku memanjakanmu di mana pun dan kapan pun aku mau."
"Tapi aku malu," lirih Zyrra kemudian menelusupkan wajahnya ke dada kekar Jovan dan mengalungkan tangannya pada leher lelaki tampan itu.
Hal itu tentu saja membuat Jovan tersenyum bahagian, entah mengapa hal kecil yang dilakukan oleh Zyrra saat ini membuat hatinya begitu berbunga-bunga.
Sepanjang jalan menuju restoran ada banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Ada yang memberikan tatapan kagum, iri, iba, bahkan ada juga yang bergunjing tentang mereka.
"Hei, bukankah itu Jovando Argantara? CEO dari perusahaan Argantara grup?" Tanya salah seorang pengunjung yang melihat kedatangan pria tampan itu bersama istrinya.
"Ya, lalu siapa wanita yang berada dalam gendongan lelaki itu?"
"Ku dengar dia sudah menikah? Mungkinkah wanita itu adalah istrinya?"
"Apakah istrinya lumpuh? Kasihan sekali, lelaki tampan sepertinya harus mengurusi wanita cacat."
Kira-kira begitulah ucapan dari setiap orang yang melihat kehadiran Jovan sambil menggendong Zyrra dalam dekapannya. Namun tak jarang pula ada yang mengagumi perlakuan istimewa Jovan pasa wanita di gendongan nya saat ini.
BERSAMBUNG...
Mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga vote...
__ADS_1
Kasih aku bintang lima ya...😉
I LOVE YOU ALL READER'S...😙😙